27 C
Sidoarjo
Monday, September 21, 2026
spot_img

Puncak Kemarau di Kabupaten Pasuruan Meluas, 18 Tangki BPBD Dikerahkan Tiap Hari


Kabupaten Pasuruan, Bhirawa. – Dampak puncak musim kemarau di Kabupaten Pasuruan kian mengkhawatirkan wilayah terdampak krisis air bersih merembet semakin luas hingga pertengahan September 2026 ini. Daerah yang semula aman dari kekeringan kini mulai menjerit minta pasokan air.

Berdasarkan pemetaan terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, jumlah wilayah krisis air bertambah. Dari semula delapan desa, kini membengkak menjadi 10 desa yang tersebar di empat kecamatan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, membenarkan adanya pemetaan ulang ini. Penambahan wilayah terdampak dipicu melonjaknya permintaan bantuan air dari masyarakat seiring mengeringnya sumber-sumber air warga.

”Saat ini ada 10 desa yang mengalami krisis air bersih dan wajib kita suplai air harian,” ujar Sugeng saat dikonfirmasi, Senin (21/9) sore.

Sugeng menjelaskan, krisis air sebelumnya hanya melanda tiga kecamatan. Yakni Lumbang, Pasrepan dan Winongan. Namun, hasil pemantauan dan evaluasi lapangan terbaru mencatat adanya perluasan dampak hingga ke Kecamatan Kejayan.

”Daftar daerah rawan bertambah menjadi empat kecamatan setelah Kecamatan Kejayan resmi masuk kategori krisis air bersih,” papar Sugeng.

Dari data BPBD, wilayah terdampak di Kecamatan Lumbang meliputi Desa Karangjati, Watulumbang, dan Pancur. Di Kecamatan Winongan, krisis air melanda Desa Kedungrejo.

Sedangkan, wilayah terdampak paling parah berada di Kecamatan Pasrepan dengan total 5 desa. Meliputi Desa Ngantungan, Sibon, Klakah, Petung, dan Galih. Sedangkan untuk Kecamatan Kejayan, desa terbaru yang masuk pemetaan adalah Desa Kedungpengaron.

Berita Terkait :  Pemkot Sambut Baik Pertumbuhan Kuliner di Kota Malang

Meluasnya cakupan bencana kekeringan tersebut memaksa BPBD bekerja ekstra keras. Pengiriman air bersih diintensifkan agar kebutuhan dasar masyarakat untuk minum, memasak, dan sanitasi tetap terpenuhi. Untuk menjangkau seluruh lokasi krisis, BPBD menerjunkan belasan armada setiap hari.

”Setidaknya kami mengerahkan 18 armada tangki air saban hari untuk menyuplai kebutuhan air bersih warga di lokasi-lokasi terdampak,” tegas Sugeng.

Sementara itu, kondisi sulit akibat kekeringan itu dirasakan langsung oleh warga di lereng pegunungan, salah satunya di Desa Karangjati, Kecamatan Lumbang. Selama beberapa bulan terakhir, warga terpaksa memangkas penggunaan air harian dan memprioritaskannya hanya untuk kebutuhan pokok.

Utami (46), warga Dusun Krajan, Desa Karangjati menyatakan, bantuan air bersih kini diprioritaskan hanya untuk konsumsi dan memasak.

”Bila tidak ada bantuan tangki, kami harus keliling atau mengambil air ke sumber yang jaraknya cukup jauh. Bantuan ini sangat membantu mengurangi beban,” kata Utami saat ditemui di sela-sela pembagian air bersih.

Meski terbantu dengan pengiriman air harian, warga berharap ada solusi jangka panjang agar mereka tidak terus-menerus bergantung pada pengiriman tangki setiap musim kemarau.

Hal senada juga disampaikan Sahlan (40), warga Desa Karangjati lainnya. Ia berharap pemerintah segera membangun sarana jaringan pipa permanen menuju sumber mata air.

”Setiap kemarau kami selalu khawatir krisis air. Bantuan tangki air ini bagus, tetapi harapan kami ada jaringan mata air baru secara permanen yang bisa mengalir langsung ke desa,” kata Sahlan. [hil.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!