29 C
Sidoarjo
Tuesday, April 28, 2026
spot_img

Pemerintah Kota Batu Perketat Izin Alih Fungsi Lahan

Dengan diimbangi sengan konservasi lahan, Kota Batu akan mampu menjaga kelestarian alam dan mempertahankan sektor pertanian.(Anas/Bhirawa)

Kota Batu,Bhirawa
Pemerintah Kota (Pemkot) Batu berkomitmen agar aktivitas investasi tidak mengorbankan kedaulatan pangan di kota ini. Untuk itu pemkot memperketat izin alih fungsi lahan. Hal ini menyusul keberadaan lahan pertanian di Kota Batu yang kini hanya tersisa sekitar 295 hektare.

Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Batu, Heli Suyanto mengatakan bahwa pihaknya telah memetakan ulang sektor investasi. Dalam hal ini setiap investor wajib menyediakan ruang terbuka hijau, dan ikut serta menjaga kelestarian sumber air. “Investasi memang penting bagi pertumbuhan ekonomi. Tetapi tidak boleh menggerus lahan produktif kita,” ujarnya, Selasa (28/4).

Selain perlindungan lahan, katanya, pihaknya juga menyoroti pentingnya tata kelola pertanian di lereng atas. Hal ini belajar dari kejadian banjir lumpur di Dusun Banyuning Kota Batu, beberapa waktu lalu. Dan agar musibah tersebut tidak terulang maka pemerintah kota kini menyusun Perwali Perlindungan Kawasan Hutan.

Dalam regulasi baru nanti, pemanfaatan lahan pertanian mewajibkan kembali sistem terasering bagi petani. Terutama untuk kawasan pertanian yang ada di kemiringan agar bisa mencegah erosi dan bencana alam.

Menurut Heli, aktivitas pertanian tanpa disertai konservasi adalah bencana yang menunggu waktu. Apalagi lahan pertanian di Kota Batu berada di kawasan atas sebagai hulu kehidupan.

Berita Terkait :  IAI Al Khairat Pamekasan Kukuhkan Ulfatur Riski sebagai Wisudawan Terbaik

“Dan jika kita menjaga kawasan pertanian dengan kaidah yang benar, seperti penerapan terasering, maka daerah bawah juga akan aman dan pariwisata kita tetap berkelanjutan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa Kota Batu merupakan “menara air” dan pusat hortikultura Jawa Timur. Karena itu kota berjuluk Swiss Kecil ini memegang tanggung jawab besar dalam menjaga ekosistem pegunungan. Dan masa depan pertanian Kota Batu sangat bergantung pada kedisiplinan dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan konservasi alam.

Sementara, dalam mengoptimalkan hasil pertanian serta potensi lokal lainnya, Heli mengajak semua pihak ikut mendukung keberadaan koperasi CooSAE (Cooperative Smart Agriculture Ecosystem). Saat ini koperasi ini telah berhasil membawa 20 komoditas unggulan yang dìmiliki Kota Batu menembus pasar Dubai dan Singapura.

“Melalui integrasi antara teknologi smart farming dan manajemen korporasi rakyat, petani Kota Batu bisa mengendalikan harga (produksi pertanian) dan terhubung langsung ke pasar global,” tandas Heli.(nas.hel)

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!