32.8 C
Sidoarjo
Monday, October 26, 2026
spot_img

OMC, Water Bombing, hingga Pendakian Ditutup, Wagub Emil Urai Strategi Jatim Hadapi Karhutla

Surabaya, Bhirawa — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Timur tidak lagi berhenti pada pemadaman api di kawasan pegunungan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini memperluas fokus ke keselamatan petugas, pemulihan psikologis personel, dukungan udara, hingga pengendalian kebiasaan membakar di masyarakat.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan, Gubernur Khofifah Indar Parawansa menempatkan keselamatan petugas sebagai prioritas utama dalam penanganan karhutla, termasuk di kawasan Gunung Arjuno-Welirang.

“Beliau langsung ke Arjuno memastikan semua personel kita punya ketersediaan alat juga. APD atau alat pelindung diri itu penting, agar jangan sampai ada korban. Keselamatan petugas nomor satu,” kata Emil di Kantor Setdaprov Jawa Timur, Senin (26/10/2026).

Kebakaran di kawasan Arjuno-Welirang terjadi sejak 16 Oktober 2026 dan memaksa seluruh jalur pendakian Gunung Arjuno-Welirang ditutup sementara mulai 17 Oktober 2026.  Pihak pengelola menyatakan penutupan masih berlanjut hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Selain perlengkapan keselamatan, Pemprov Jatim juga menaruh perhatian pada kondisi psikologis petugas yang terlibat langsung dalam pemadaman, khususnya di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Emil mengungkapkan, ada program penanganan pascatrauma dan dukungan psikososial bagi personel. Hasil pendampingan tersebut menemukan sejumlah petugas yang perlu menjalani pemulihan terlebih dahulu.

“Ada beberapa personil yang disarankan recovery dulu, karena kondisi psikisnya juga penting sekali setelah koleganya menjadi korban,” ujarnya.

Berita Terkait :  Respons Cepat Dinsos Jatim, Tagana Bergerak, Bantuan Logistik dan Donasi Mengalir ke Warga

Ia menilai, pemulihan psikologis merupakan bagian penting dari pengelolaan bencana, bukan sekadar pelengkap. Petugas yang terus bekerja dalam situasi berisiko tinggi membutuhkan dukungan fisik dan mental agar tetap mampu menjalankan tugas secara aman.

Pemprov Jatim menggandeng sejumlah instansi untuk mempercepat penanganan karhutla. Emil menyebut Gubernur Khofifah mendampingi Kepala BNPB dalam pengerahan helikopter untuk water bombing atau pengeboman air ke titik kebakaran.

Dukungan udara tersebut diarahkan ke sejumlah kawasan pegunungan yang terdampak, antara lain Gunung Arjuno, Bromo, Semeru, Butak, hingga Ijen.  Pemprov Jatim juga berkoordinasi dengan BNPB untuk pengerahan helikopter dan dron water spray.

Upaya lain dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BMKG. BNPB telah melakukan OMC di Jawa Timur pada Sabtu (24/10/2026) dengan menyemai 1 ton natrium klorida (NaCl) menggunakan pesawat Cessna Caravan.

Namun Emil mengingatkan, keberhasilan OMC sangat bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi syarat untuk disemai.

“Enggak semua OMC berhasil, karena tergantung awannya. Ini betul-betul bisa disemai atau tidak,” katanya.

Ia menambahkan, hasil OMC mulai terlihat, tetapi keberhasilan hujan tetap perlu dipahami secara proporsional.

“Jangan kita berpikir OMC ini sukses hanya karena teknologinya canggih, tetapi juga karena Yang Maha Kuasa mengizinkan adanya hujan,” ujarnya.

Emil menekankan bahwa kebakaran di Jawa Timur tidak hanya terjadi di kawasan hutan. Kebijakan penggunaan helikopter water bombing juga diperluas untuk membantu memadamkan kebakaran di TPA Supit Urang.

Berita Terkait :  Survei ARCI: Kepuasan Warga terhadap Khofifah-Emil Capai 79,6 Persen

“Kemarin bukan hanya untuk karhutla, tetapi oleh Ibu Gubernur dan Kepala BNPB juga untuk memadamkan Supit Urang,” katanya.

Kebakaran di TPA Supit Urang turut ditangani dengan dukungan helikopter water bombing yang dikirim Pemprov Jatim.  Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko kebakaran kini meluas dari kawasan konservasi hingga wilayah permukiman dan pengelolaan sampah.

Menurut Emil, masyarakat perlu lebih disiplin terhadap kebiasaan membakar, baik sampah maupun sisa panen seperti jerami.

“Kebiasaan membakar sampah, kebiasaan membakar di ladang untuk hasil panen yang dikumpulkan, jerami dibakar itu bahaya sekali karena bisa menyebar,” ujarnya.

Mengenai kebijakan bagi pendaki, Emil mengakui ada perdebatan mengenai larangan membawa korek api atau alat pemantik api. Sebagian pihak menyebut alat tersebut sebagai bagian dari survival kit.

“Ada yang bilang itu survival kit. Ini yang perlu segera kita cari solusinya, karena bahaya sekali,” katanya.

Sementara solusi belum ditemukan, Pemprov Jatim memilih menutup sementara jalur pendakian yang dinilai rawan. Emil menyatakan status penutupan masih berlaku.

“Untuk sementara waktu, yang rawan, pendakian-pendakian ditutup dulu. Status saat ini masih ditutup,” ujarnya.

Penutupan jalur pendakian Arjuno-Welirang dan Anjasmoro telah diberlakukan sejak 17 Oktober 2026 menyusul kebakaran lahan di kawasan tersebut.  Sebanyak 110 pendaki juga sempat dievakuasi akibat kebakaran, dan seluruhnya dinyatakan selamat.

Emil menutup penjelasannya dengan menekankan bahwa penanganan karhutla memerlukan kombinasi kerja lapangan, dukungan teknologi, koordinasi antarinstansi, serta kesadaran masyarakat.

Berita Terkait :  Sinergi COOSAE dan KDMP Optimalkan Laboratorium Pertanian Kota Batu

“Semua ikhtiar, di darat kita bekerja, di udara, dan tentunya kepada masyarakat. Kita juga berharap adanya restu dari Yang Maha Kuasa,” katanya.

Pemprov Jatim mencatat karhutla sepanjang 2026 telah melanda 11.449 hektare lahan, termasuk kawasan pegunungan Bromo, Arjuno, Semeru, Butak, dan Ijen.

Dengan kondisi tersebut, penguatan mitigasi, penertiban pembakaran terbuka, dan kepatuhan terhadap penutupan jalur pendakian menjadi kunci mencegah kebakaran berulang. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!