Oleh :
Hery Purnobasuki
Guru Besar FST Universitas Airlangga ; Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian tak menentu, kita sering merasa seperti kapal kecil di lautan badai. Perang dagang, konflik geopolitik, dan krisis iklim menyulut gejolak tatanan global yang mengguncang fondasi kehidupan sehari-hari. Harga minyak melonjak, pasokan gas terganggu, dan tagihan listrik rumah tangga pun ikut membengkak. Bagi masyarakat luas, ini bukan sekadar berita di layar ponsel, melainkan ancaman nyata terhadap kesejahteraan. Namun, justru dari kekacauan ini, peluang besar terbuka lebar: pemanfaatan energi alternatif yang bijak. Artikel ini mengajak kita merenungkan bagaimana menyikapi gejolak tersebut, dampaknya pada rakyat biasa, serta solusi antisipatif untuk masa depan yang tangguh.
Bayangkan saja, pada awal 2026 ini, dunia masih bergulat dengan bayang-bayang perang Ukraina-Rusia yang memicu krisis energi Eropa. Dilanjutkankan perang antara Iran-Amerika-Israel yang berimbas krisis energi dunia. Harga gas alam naik 300% di beberapa negara, memaksa pabrik tutup dan rumah tangga memilih antara makanan atau pemanas. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kita tak luput dari gelombangnya. Ketergantungan pada impor minyak dan batu bara membuat neraca perdagangan kita rapuh. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, impor energi kita mencapai 40% dari total impor nasional pada 2025, menyumbang defisit hingga Rp500 triliun. Ini bukan angka abstrak; ini berarti harga bensin naik, transportasi mahal, dan inflasi pangan meroket. Masyarakat pedesaan di Jawa Timur, misalnya, kesulitan mengakses listrik murah untuk irigasi sawah, sementara urban dwellers di Jakarta menghadapi pemadaman bergilir yang mengganggu pekerjaan remote.
Gejolak global ini memperburuk ketimpangan sosial. Keluarga miskin, yang pengeluaran energinya mencapai 20% dari pendapatan bulanan menurut survei Bank Dunia 2025, paling terpukul. Anak-anak di daerah terpencil kehilangan akses pendidikan online karena listrik tak stabil, sementara UMKM lumpuh karena biaya operasional membengkak. Pandemi COVID-19 sudah mengajarkan kita betapa rapuhnya rantai pasok global; kini, sanksi perdagangan AS-China terhadap baterai lithium mempercepat transisi energi, tapi juga menaikkan harga panel surya impor hingga 50%. Di sinilah pemanfaatan energi alternatif menjadi kunci. Bukan sekadar slogan hijau, tapi strategi survival yang nyata.
Energi Alternatif
Mari kita bedah argumennya secara logis. Pertama, energi fosil seperti batu bara dan minyak bukan lagi pilihan bijak di era gejolak. Ketergantungan kita pada OPEC dan Rusia membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga, contohnya, lonjakan Brent crude ke US$90 per barel pada Maret 2026 akibat ketegangan Timur Tengah. Alternatif seperti surya, angin, dan geothermal menawarkan stabilitas. Indonesia, dengan potensi surya 207 GWp menurut Kementerian ESDM, bisa mandiri energi jika dimanfaatkan. Bayangkan PLTS Cirata di Purwakarta, yang berkapasitas 145 MWp dan telah menghasilkan 300 juta kWh listrik pada 2025-cukup untuk 60.000 rumah tangga. Ini mengurangi emisi CO2 sebesar 200.000 ton per tahun, sekaligus menekan biaya listrik hingga 30% bagi konsumen.
Dampaknya pada masyarakat luas begitu luas dan positif. Bagi petani di pedesaan, panel surya skala kecil bisa menyediakan listrik untuk pompa air, meningkatkan hasil panen 20-30% tanpa bergantung pada genset berbahan bakar solar. Di kota, kendaraan listrik (EV) seperti yang diproduksi lokal oleh Hyundai dan Gesits menghemat biaya operasional hingga Rp2 juta per bulan per unit, menurut studi IESR 2025. Lebih jauh, transisi ini menciptakan lapangan kerja. Sektor energi terbarukan global diproyeksi ciptakan 42 juta pekerjaan hingga 2050 (IRENA), dan Indonesia bisa ambil porsi besar dengan target 23% bauran energi hijau pada 2025 yang kini terlambat. Bagi generasi muda, ini peluang: dari teknisi instalasi surya hingga inovator biofuel dari limbah sawit.
Namun, tantangan tetap ada. Infrastruktur grid kita masih usang, hanya mampu menyerap 20% energi variabel seperti surya. Biaya awal tinggi membuat masyarakat ragu, meski payback period panel surya kini hanya 4-5 tahun berkat penurunan harga modul 89% sejak 2010. Gejolak global juga memicu spekulasi harga baterai, di mana China kuasai 80% pasokan. Jika tak diantisipasi, transisi ini bisa jadi bumerang, memperlemah daya saing industri kita.
Bangun Ketangguhan untuk Masa Depan
Untuk menghadapi perubahan global yang tak terduga, kita butuh strategi holistik yang mengalir dari hulu ke hilir. Pertama, diversifikasi sumber energi secara masif. Pemerintah harus percepat program 10 GW PLTS atap melalui insentif pajak dan subsidi bagi rumah tangga berpenghasilan rendah. Contoh sukses Vietnam, yang capai 10 GW surya dalam 3 tahun berkat feed-in tariff, bisa kita tiru. Kedua, investasi R&D lokal untuk baterai dan hidrogen hijau. Kolaborasi universitas seperti ITB dengan swasta bisa hasilkan sodium-ion battery dari garam lokal, lebih murah dan ramah lingkungan daripada lithium impor.
Ketiga, reformasi kebijakan untuk ketahanan masyarakat. Program “Energi Rakyat” bisa integrasikan energi terbarukan dengan program bansos: distribusi pompa surya gratis ke 1 juta petani, didanai oleh carbon tax pada batu bara. Ini tak hanya tekan inflasi energi hingga 15%, tapi juga tingkatkan food security krusial di tengah gangguan rantai pasok global. Keempat, diplomasi energi regional. ASEAN Power Grid, yang sedang digarap, bisa saling tukar listrik surplus dari geothermal Indonesia ke Vietnam yang kekurangan. Ini ciptakan buffer terhadap gejolak, mirip EU’s Energy Union yang selamatkan Eropa dari krisis gas Rusia.
Pada level masyarakat, edukasi dan partisipasi kunci. Kampanye populer via TikTok dan YouTube bisa ajarkan cara instal solar home system sederhana, lengkap dengan kalkulator ROI. Komunitas seperti di Bali sudah buktikan: desa Adnyana capai 100% listrik surya, kurangi pengeluaran Rp500 juta per tahun secara kolektif. Antisipasi masa depan juga butuh simpanan strategis: stok baterai dan biofuel untuk 6 bulan, plus AI untuk prediksi cuaca guna optimasi angin dan surya.
Bayangkan skenario 2030: Indonesia sebagai eksportir listrik hijau ke ASEAN, harga energi stabil di bawah US$0,05/kWh, dan masyarakat tak lagi gelisah tiap berita perang. Ini bukan mimpi utopia, tapi hasil argumen kuat dari data: transisi energi ciptakan multiplier effect Rp3-5 per Rp1 investasi (World Bank). Tantangan seperti cuaca ekstrem akibat iklim bisa diatasi dengan hybrid system, surya plus hydro yang sudah teruji di Australia.
Gejolak global memang menakutkan, tapi seperti pepatah Jawa “alon-alon asal kelakon”, kita bisa navigasi dengan energi alternatif sebagai kemudi utama. Pemanfaatan bijak ini tak hanya mitigasi dampak saat ini pada masyarakat luas dari dompet tipis hingga lapangan kerja baru-tapi juga bangun fondasi ketangguhan jangka panjang. Saat dunia berguncang, bangsa yang adaptif akan bangkit lebih kuat. Sudah saatnya kita bertindak, bukan hanya bicara.
————– *** —————-


