Kediri, Bhirawa
Museum Sri Aji Jayabaya di Kabupaten Kediri kini tampil dengan wajah baru usai menjalani penataan ulang selama lebih dari dua pekan. Pembenahan dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung sekaligus memperkuat perlindungan terhadap koleksi artefak bersejarah.
Museum tersebut sebelumnya ditutup sementara sejak 3 Mei 2026 dan kembali dibuka untuk umum pada 19 Mei 2026.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, mengatakan perubahan yang dilakukan tidak hanya menyasar tampilan ruangan, tetapi juga sistem penataan koleksi dan alur kunjungan pengunjung.
“Perubahannya cukup banyak, mulai dari pencahayaan, pengecatan plafon dan dinding, sampai tata ruangnya juga diubah agar alur pengunjung lebih nyaman,” kata Mustika.
Selain penataan ruang, sejumlah artefak yang memiliki nilai sejarah tinggi kini dipasang pelindung kaca guna mengurangi risiko kerusakan akibat interaksi langsung pengunjung.
Menurut Mustika, beberapa koleksi yang diproteksi berasal dari abad ke-11 hingga abad ke-14 sehingga membutuhkan perlakuan konservasi khusus.
“Artefak tertentu memang harus dibatasi dari sentuhan langsung karena kondisinya sangat rentan. Detail-detail pada benda itu bisa rusak kalau terlalu sering disentuh,” ujarnya.
Meski demikian, sebagian koleksi lain tetap dipamerkan secara terbuka agar pengunjung tetap dapat melihat lebih dekat benda-benda bersejarah tersebut.
Pengelola museum juga menambahkan name tag dan informasi pendukung pada tiap koleksi untuk memperjelas identitas serta nilai sejarah benda yang dipamerkan.
Jumlah koleksi yang ditampilkan tetap sebanyak 54 benda. Namun, beberapa koleksi diganti dengan artefak yang dinilai memiliki nilai historis lebih kuat.
“Jumlah koleksinya tetap sama, tetapi ada beberapa yang diganti dengan benda yang nilai sejarahnya lebih kuat,” terang Mustika.
Edukator Museum Sri Aji Jayabaya, M. Ipung Zainul Islam Sumarwoto, menuturkan perlindungan artefak menjadi perhatian utama karena minyak dari tangan manusia dapat mempercepat kerusakan permukaan benda.
“Beberapa artefak sangat sensitif. Kalau terlalu sering disentuh, permukaannya bisa berubah karena terkena minyak dari tangan pengunjung,” ungkap Ipung.
Ke depan, Museum Sri Aji Jayabaya juga akan menambah koleksi dan menghadirkan ruang transisi antara zona arkeologika dan etnografika. Konsep tersebut disiapkan agar pengunjung dapat melihat keterkaitan antara peninggalan masa lalu dengan budaya masyarakat secara lebih utuh.
Pengembangan museum dilakukan secara bertahap dan ditargetkan mencapai grand launching pada akhir 2027. [van.nov.kt]


