29 C
Sidoarjo
Thursday, November 5, 2026
spot_img

Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah Rumuskan Pandangan Keagamaan Hadapi Tantangan Zaman

Surabaya, Bhirawa. – Musyawarah Nasional (Munas) XXXIII Tarjih Muhammadiyah membahas sejumlah persoalan keagamaan dan isu strategis yang berkaitan dengan kehidupan umat, bangsa, hingga perkembangan global di At Tauhid Tower 13 Kampus Umsura, Surabaya.

Sejumlah materi yang menjadi pembahasan dalam Munas tersebut di antaranya fikih lansia, kedaulatan pangan, serta risalah bidang akidah dan akhlak. Pembahasan fikih lansia diarahkan untuk merespons kebutuhan pelayanan keagamaan bagi kelompok lanjut usia yang jumlahnya terus menjadi perhatian di tengah masyarakat.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menjelaskan, Munas ini menjadi forum untuk merumuskan pandangan keagamaan Muhammadiyah dalam menjawab berbagai tantangan zaman, sekaligus meneguhkan akidah, memperindah akhlak, menguatkan ibadah, dan memberdayakan umat untuk membangun peradaban berkemajuan.

”Persoalan kedaulatan pangan turut jadi perhatian, terutama dalam mendorong kebijakan pertanian dan penguatan kebutuhan pangan nasional, meski perkembangan swasembada beras dinilai menunjukkan hasil positif, diperlukan langkah berkelanjutan untuk memperkuat kemandirian dan kedaulatan pangan Indonesia,” jelasnya.

Haedar mengatakan, Munas Tarjih merupakan bagian dari komitmen Muhammadiyah untuk terus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kehidupan umat, masyarakat, bangsa, dan dunia.

”Muhammadiyah tidak cuman membangun pemikiran keagamaan, tetapi juga mendorong langkah nyata melalui bidang pendidikan, kesehatan, sosial, serta pencerdasan kehidupan beragama, upaya ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia agar memiliki kemampuan dan karakter kuat dalam menghadapi tantangan masa depan,” ucapnya.

Berita Terkait :  Penerapan Pembatasan Gadget, Gubernur Jamin Bisa Tingkatkan Interaksi Sosial Murid

Haedar mengukapkan, besarnya jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 281 juta jiwa serta kekayaan sumber daya alam yang dimiliki harus diimbangi kemampuan mengelola potensi tersebut secara mandiri dan berdaulat, Terlebih pengelolaan sumber daya alam harus dilandasi tanggung jawab dan prinsip kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.

”Karena mengolah alam yang diberikan Tuhan harus dilakukan secara bertanggung jawab, untuk kemakmuran dan kemaslahatan kemanusiaan,” ujarnya.

Muhammadiyah juga terus mengembangkan perguruan tinggi sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam membangun bangsa. Lembaga pendidikan Muhammadiyah diharapkan tidak hanya menghasilkan sumber daya manusia unggul, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki karakter dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Haedar menyampaikan sejalan dengan perkembangan teknologi, Muhammadiyah turut mengembangkan platform digital Sistem Aplikasi Putusan Tarjih (SAPT) yang memuat Himpunan Putusan Tarjih (HPT).

”Platform ini jadi sarana bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengakses keputusan, pemikiran dan pandangan keagamaan Muhammadiyah dengan lebih mudah,” tuturnya.

Haedar menambahkan, pengembangan platform digital merupakan bentuk adaptasi Muhammadiyah terhadap perkembangan teknologi informasi di era revolusi digital, Melalui pemanfaatan teknologi, akses terhadap rujukan keagamaan diharapkan semakin terbuka dan dekat dengan kehidupan generasi muda.

”Beragama pada dasarnya menjadi pedoman bagi manusia untuk menjalani kehidupan secara benar, baik, dan berkeadaban, agama juga memberikan arah serta makna hidup sehingga manusia mampu membedakan tindakan yang benar dan salah serta bertanggung jawab atas setiap perbuatannya,” imbuhnya.

Berita Terkait :  Prajurit dan PNS Koarmada II Tingkatkan Iman Takwa Melalui Kauseri Agama

Sementara itu, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ustadi Hamsah, mengatakan Munas Tarjih XXXIII memiliki makna historis sebab diadakan di Surabaya, kota kelahiran KH Mas Mansur.

”Isu-isu yang berkembang akan kita sambungkan dengan spirit KH Mas Mansur yang luar biasa menggerakkan Muhammadiyah, menggerakkan bangsa untuk terus berkembang maju sebagai bangsa yang bermartabat dan terhormat,” tandasnya.

Ustadi menegaskan, Muhammadiyah perlu memiliki rumusan akidah yang menunjukkan kekhasan pandangannya sekaligus jadi landasan pemahaman keislaman yang kokoh dan relevan dengan perkembangan zaman. [ren.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!