Surabaya, Bhirawa — Ungkapan #InThisEconomy kerap muncul sebagai satire atas tekanan ekonomi: biaya hidup naik, pendapatan stagnan, dan peluang kerja yang semakin ketat. Namun, Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra Surabaya justru membalik makna tersebut menjadi ajakan untuk bertumbuh melalui FikomWeek 8.0, kompetisi komunikasi nasional dan internasional yang digelar sepanjang pekan ini.
Bertema “Breaking Barriers, Aim to Thrive”, FikomWeek 8.0 mengangkat Tujuan 8 Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu Decent Work and Economic Growth atau pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Tujuan tersebut menekankan penciptaan lapangan kerja produktif serta pekerjaan layak bagi seluruh kalangan, termasuk anak muda.
“Kami ingin membalik persepsi #InThisEconomy, ungkapan satir di tengah biaya hidup yang terus naik, sementara pendapatan stagnan dan cari kerja susah, menjadi inspirasi untuk menggali potensi yang ada,” ujar Livia Melinda Lomantojo, Koordinator Acara dan Penanggungjawab FikomWeek 8.0, Kamis (5/11/2026) sore.
FikomWeek 8.0 merupakan kegiatan tahunan Student Union COM, himpunan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra Surabaya. Pada penyelenggaraan kedelapan ini, kompetisi diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai kota di Indonesia, termasuk Surabaya, Malang, Jakarta, dan Bandung, serta peserta internasional dari Taiwan, Malaysia, dan Amerika Serikat.
Kompetisi terbuka dalam tiga cabang, News Anchor untuk pelajar SMA/SMK sederajat secara nasional, serta PR Campaign dan Advertising bagi pelajar dan mahasiswa dengan cakupan internasional. Kasus yang diberikan mengangkat isu sosial-ekonomi aktual, seperti lesunya pasar tenaga kerja, tantangan UMKM, peningkatan minat baca, hingga potensi minuman tradisional herbal.
Ketua Program Studi (Kaprodi) Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya, Patrisia Amanda Pascarina, S.I.Kom., M.A., menjelaskan bahwa tema ini ingin mendorong generasi muda tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi.
“Dari perspektif UC, sebagai anak muda kita juga bisa, nggak cuma mencari peluang kerja, tapi juga membuka lapangan kerja dengan cara entrepreneurship. Bagaimana UMKM itu bergerak, bagaimana kita menciptakan bisnis yang bisa menggerakkan manusia di sekitar kita,” ujarnya.
Menurut Amanda, lomba ini dirancang untuk mengasah kepekaan peserta terhadap persoalan ekonomi sekaligus melatih mereka merumuskan solusi komunikasi yang berdampak.
“Kami ingin melihat ide-ide kreatif mereka, bukan hanya bagus dan inovatif, tetapi bagaimana ide itu juga menjawab tantangan SDG yang kita angkat,” tambahnya.
Cabang PR Campaign bekerja sama dengan perpustakaan dan mengusung kasus Sejuta Peluang: Membangun Ekonomi melalui Budaya Literasi. Peserta diminta menyusun proposal kampanye untuk menjadikan perpustakaan sebagai ruang pengembangan budaya literasi sekaligus penggerak ekonomi.
Sementara itu, cabang Advertising berkolaborasi dengan Jamu Ibu. Peserta diminta menghasilkan gagasan iklan yang tidak hanya mempromosikan produk, tetapi juga menyentuh isu-isu yang berkaitan dengan SDG 8. Pada babak final, peserta Advertising mengembangkan proposalnya menjadi video iklan.
Amanda menilai literasi tetap relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Baginya, kemampuan membaca dan memahami informasi menjadi modal penting bagi anak muda untuk mengembangkan diri, membangun usaha, maupun menciptakan peluang baru.
“Buku itu masih sangat dibutuhkan untuk perkembangan mindset seseorang. Ketika ada peluang untuk membuat pelatihan atau sosialisasi budaya literasi, itu juga peluang untuk mengembangkan diri sekaligus bisa menjadi bisnis tertentu,” ujarnya.
Perbincangan mengenai peluang kerja generasi muda tidak dapat dilepaskan dari perkembangan gig economy. Fenomena ini merujuk pada pola kerja fleksibel berbasis proyek atau tugas melalui platform digital, seperti jasa ojek daring, kurir, desainer lepas, penulis konten, hingga kreator media sosial.
Pemerintah menyebut ekonomi digital dan layanan berbasis platform telah melahirkan sektor, profesi, dan peluang ekonomi baru dengan pola kerja yang lebih fleksibel.
Bagi lulusan perguruan tinggi, gig economy menawarkan pintu masuk yang lebih cepat ke dunia kerja, terutama melalui keterampilan digital, produksi konten, pemasaran, dan layanan kreatif. Namun, model ini juga membawa tantangan berupa ketidakpastian penghasilan dan keterbatasan jaminan sosial, sehingga perlindungan pekerja menjadi isu penting.
Amanda menilai lulusan Ilmu Komunikasi kini tidak lagi cukup mengandalkan jalur karier konvensional seperti humas, PR, atau pemasaran. Era digital membuka peluang sebagai kreator konten, praktisi esports, hingga pekerja lepas berbasis proyek.
“Teman-teman sudah tidak bisa lagi masuk ke bidang-bidang karier yang konvensional seperti dulu. Mereka harus melihat peluang lain yang juga bisa mendatangkan penghasilan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pekerjaan berbasis konten kini bukan sekadar hobi, melainkan salah satu ruang penghasilan yang dapat dikembangkan mahasiswa.
“Anak-anak sekarang yang mau masuk Ilkom sering berpikir, aku pengen bikin konten supaya bisa menghasilkan uang. Itu memang peluang yang bisa didapat anak muda, dan menurut saya akan menggerakkan ekonomi kita,” kata Amanda.
Semangat tersebut juga dihadirkan dalam talkshow karier Speak Up to Stand Out: Communication Skills di Industri Esports & Kreatif pada Closing & Awarding FikomWeek 8.0, Kamis 5 November, di Dian Auditorium Universitas Ciputra Surabaya.
Acara menghadirkan kreator konten Vallene Laurencia Viendy Suwarjo, yang dikenal melalui konten gaming, lifestyle, dan hiburan di TikTok dan Instagram, serta perannya sebagai Duta Pariwisata dan Duta Baca Kota Mojokerto.
Koordinator Kemahasiswaan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya, Bernard Realino Danu Kristianto, berharap sesi tersebut memberi gambaran nyata tentang peluang kerja di industri digital.
“Kami berharap insights dari Vallene membantu teman-teman muda untuk memperluas potensi kerja di era digital,” ujarnya.
Melalui FikomWeek 8.0, Universitas Ciputra Surabaya ingin menegaskan bahwa tantangan ekonomi tidak harus berakhir pada kecemasan. Dengan kemampuan komunikasi, literasi, kreativitas, dan kesediaan membaca peluang baru, generasi muda dapat tumbuh sebagai pekerja yang layak sekaligus pencipta lapangan kerja. [aya.kt]


