Oleh:
Rachmat CBS, Kota Surabaya
Alunan rancak ratusan angklung seketika memecah keheningan Gedung Wanita Surabaya, Kamis (4/6/2026). Suara getaran bambu yang khas itu berpadu rancak, membawakan untaian nada-nada bernuansa rohani Islami.
Di balik kemeriahan Instrumen Musik Angklung Islami (ISMAIL) untuk memperingati Idul Adha 1447 H ini, sebuah momentum penting bagi kelestarian budaya Nusantara sedang dikukuhkan.
Perhimpunan Penggiat Angklung Indonesia (PPAI) resmi melantik pengurus DPW PPAI Jawa Timur serta tiga DPD sekaligus, yaitu Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Gresik untuk masa bakti 2026-2031.
Prosesi pelantikan yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum DPP PPAI, H. Sam Udjo, bersama Sekjen Dr. H. Gunawan Undang berjalan khidmat. Penyematan pin organisasi menjadi simbol estafet amanah yang kini resmi dipikul oleh Andy Wira Sujana sebagai Ketua DPW PPAI Jatim yang baru.
Namun, di sela-sela kegembiraan pengukuhan tersebut, sebuah refleksi penting menyeruak. Mengembangkan musik tradisional di era digital bukan perkara mudah.
Sekretaris Disbudporapar Kota Surabaya, Heri Purwadi, yang hadir mewakili pemerintah kota, mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah merebut hati Gen Z agar mau mencintai angklung di tengah gempuran musik modern.
Tantangan di hilir tersebut rupanya linier dengan masalah di hulu. Sekjen PPAI, Gunawan Undang, membeberkan fakta bahwa industri kreatif angklung kini dibayangi ancaman kelangkaan bahan baku utama, yaitu tanaman bambu hitam.
DPW PPAI Jatim dituntut tidak hanya piawai menggelar pertunjukan, tetapi juga harus aktif menjaga keberlanjutan ekosistem bambu. Bagi Ketum Sam Udjo, perjuangan ini penting karena angklung bukan sekadar alat musik, melainkan media pendidikan karakter dan penjaga lingkungan.
Komitmen menjaga warisan lintas generasi itu mewujud nyata pascapelantikan. Sekitar 200 peserta langsung larut dalam permainan angklung massal yang dipandu oleh Andy Wira Sujana. Suasana kebersamaan begitu pekat terasa. Di tengah riuhnya gemuruh bambu, pandangan mata semua undangan tertuju pada sebuah momen yang menyentuh hati.
DPP PPAI juga memberikan penghormatan khusus berupa pin kehormatan kepada Ibu Eni dari Komunitas Mandiri Indonesia (KMI). Di usianya yang telah menginjak 81 tahun, jemari tangannya masih begitu lincah menggoyang angklung, mengikuti ketukan nada dengan penuh semangat.
Tepuk tangan panjang pun bergemuruh. Kehadiran sosok senior ini menjadi pesan kuat bahwa kecintaan pada budaya tidak mengenal batas usia.Seni tradisional pada akhirnya terbukti melampaui sekat-sekat perbedaan. Meski acara ini dikemas dalam nuansa menyambut Idul Adha, musik bambu ini tetap menjadi milik bersama.
“Melalui semangat kebersamaan ini, kami merangkul keberagaman agama dan kepercayaan, baik komunitas Muslim, Nasrani, Hindu, hingga Buddha, untuk bermusik bersama dalam bingkai persaudaraan Indonesia,” ujar Andy Wira Sujana usai menyerahkan cinderamata kepada Sam Udjo dan Heri Purwadi.
Melalui nada-nada yang bergetar di Surabaya hari itu, PPAI Jawa Timur menaruh harapan besar agar sanggar-sanggar angklung baru terus tumbuh, memastikan warisan budaya dunia ini tidak akan pernah sunyi di masa depan. [rac.gat]


