27 C
Sidoarjo
Friday, September 4, 2026
spot_img

Mengikuti Kegiatan Religius Sholawat Burdah ditengah Laut Desa Jangkar

“ Naik Puluhan Perahu Hias, Dipimpin KHR Ahmad Azaim Ibrahimy Bersama Bupati dan Wakil Bupati “

Situbondo, Bhirawa – Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, memimpin pembacaan Qasidah Burdah keliling di tengah laut perairan Desa/Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Rabu  (2/9/2026) malam.

Aksi religi yang diikuti oleh ratusan warga ini menggunakan 53 perahu nelayan. Jalannya acara mendapat pengamanan ketat dari petugas Keamanan Laut (Kamla), Satpolairud Polres Situbondo, dan KSOP Kelas IV Panarukan.

Turut hadir dalam rombongan tersebut diantaranya Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo, Wakil Bupati   Ulfiah,  sejumlah pimpinan OPD di lingkungan Pemkab Situbondo, anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Hj Zeiniye, serta istri almarhum KHR Fawaid As’ad, Nyai Hj. Djuwairiyah, bersama putrinya, Ning Sari.

Begitu tiba di titik tengah laut perairan Jangkar, Kiai Azaim langsung memimpin lantunan bait-bait Qasidah Burdah yang diikuti dengan khusyuk oleh ratusan warga di atas puluhan perahu nelayan yang membelah ombak malam.

Usai memimpin acara spiritual tersebut, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy berharap pembacaan selawat Burdah di laut ini dapat menjadi agenda berkelanjutan dan bertransformasi menjadi tradisi konsisten bagi masyarakat pesisir.

“Kenapa harus diperkenalkan kegiatan semacam ini? Tentu karena membaca Qasidah Al-Burdah mengandung pujian dan selawat kepada Nabi. Kita semua memahami bahwa saat seseorang membaca sholawat, seluruh alam semesta akan menyambutnya,” ujar Kiai Azaim.

Berita Terkait :  Baksos, Khitan Gratis Kado Istimewa untuk Riski Pratama

Cucu Pahlawan Nasional KHR As’ad Syamsul Arifin ini menjelaskan, seluruh makhluk mulai dari binatang hingga tumbuh-tumbuhan di darat maupun lautan akan merespons sholawat yang dipanjatkan.

“Respons kebaikan dari alam inilah yang dipercaya mampu mengundang turunnya rahmat Allah SWT demi kelancaran mata pencaharian petani, pedagang, hingga nelayan setempat,” kata Kiai Azaim.

Kiai Azaim  kembali menambahkan, tradisi membaca selawat di lautan sebenarnya bukan hal baru. Para salafus shaleh terdahulu di Nusantara, Hijaz, hingga Hadhramaut sudah terbiasa melantunkan syair pujian secara mandiri atau berkelompok saat melaut demi menggapai keberkahan dunia dan akhirat.

Selain aspek spiritual dan ekonomi, lanjutnya, pembacaan Qasidah Burdah di tengah laut ini juga diniatkan sebagai upaya menjaga kedaulatan wilayah. Selawat yang digaungkan di tengah ombak dinilai berfungsi sebagai benteng atau ‘pagar gaib’ untuk wilayah teritorial perairan.

“Sadar atau tidak, ketika kita membaca selawat seperti Qasidah Burdah, kita sebenarnya sedang memagari benteng. Dengan harapan, wilayah teritorial perairan di Nusantara, khususnya di Situbondo ini, mendapatkan penjagaan yang lebih dari Allah SWT,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menyatakan komitmen Pemerintah Kabupaten Situbondo,  untuk melestarikan dan memperbesar skala tradisi sholawat Burdah di tengah laut ini. “Saya menilai tradisi ini bukan hanya bentuk rasa syukur atas hasil laut, melainkan juga daya tarik wisata daerah yang sangat potensial,” kata pria yang akrab disapa Mas Rio tersebut.

Berita Terkait :  Samapta Polres Situbondo Patroli ke Terminal Terkait Dugaan Pelecehan di Angkutan Umum

Mas Rio kembali mengungkapkan, pemerintah daerah menargetkan acara ini ke depan dapat melibatkan komunitas internasional dengan membidik perwakilan dari negara-negara sahabat seperti Uzbekistan, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Malaysia.

Meskipun target partisipasi internasional belum sepenuhnya tercapai pada pelaksanaan tahun ini, Mas Rio menilai kualitas dan skala acara sudah jauh lebih meriah dan tertata dengan baik. “Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi, ditandai dengan iring-iringan perahu dalam jumlah besar yang memadati perairan,” tutur mas Rio.

Menurutnya, secara esensi kegiatan ini memiliki makna yang sama dengan tradisi “Petik Laut”, yakni memohon keberkahan atas limpahan hasil alam. Tradisi ini sekaligus menjadi pengingat bagi manusia agar tidak hanya mengeksploitasi sumber daya laut secara terus-menerus, melainkan mengimbangi dengan rasa syukur.

“Pendekatan melalui sholawat Burdah ini sangat relevan dengan karakteristik sosiokultural mayoritas masyarakat Situbondo yang merupakan warga Nahdliyin,” imbuhnya.

Selain memperkuat hubungan spiritual dan pelestarian budaya, aku Mas Rio, kegiatan ini diproyeksikan menjadi destinasi wisata religius baru.

“Pelaksanaan acara terbukti memberikan dampak ekonomi langsung di lapangan melalui penyediaan ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk menggelar bazar di area pelabuhan/pantai,” pungkas Mas Rio.  [awi.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!