29 C
Sidoarjo
Monday, October 5, 2026
spot_img

Mahasiswa Unusa Kembangkan “SafeLight Tsunami Route”, Evakuasi Cerdas Berbasis Sensor


Surabaya, Bhirawa – Lima mahasiswa Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengembangkan prototipe rambu evakuasi berbasis sensor yang dirancang untuk memberikan informasi kondisi bahaya secara adaptif dan real-time bernama SafeLight Tsunami Route.

Kelima mahasiswa ialah Rofiq Arroyan, Nadea Putri Wahyuni, Cicilia Febriana Mayangsari, Rachmalia Eka Putri, Angga Adi Nugroho, dengan dosen pembimbing Merry Sunaryo, S.K.M., M.KKK., SafeLight Tsunami Route dikembangkan dari gagasan memperkuat fungsi rambu evakuasi konvensional yang selama ini memberikan informasi arah secara statis, melalui pendekatan berbasis sensor dan sistem monitoring, rambu dirancang dapat memberikan informasi yang menyesuaikan dengan kondisi yang terdeteksi di lingkungan, Senin (5/10).

Rofiq Arroyan menjelaskan SafeLight Tsunami Route mengintegrasikan teknologi sensor, sistem monitoring, serta indikator visual dan suara untuk membantu menyampaikan informasi mengenai kondisi bencana kepada masyarakat.

“Alat ini mengintegrasikan dua subsistem utama, yakni subsistem darat dan subsistem laut, subsistem darat digunakan mikrokontroler ESP32 dan sensor getaran MPU6050 untuk membaca aktivitas atau getaran yang berkaitan dengan gempa, sementara subsistem laut menggunakan sensor pelampung untuk memantau perubahan muka air laut sebagai salah satu parameter dalam sistem peringatan,” tuturnya.

Lanjut Rofiq mengukapkan data dari kedua subsistem selanjutnya diproses menentukan kondisi yang ditampilkan melalui sistem indicator, mekanisme ini rambu dapat memberikan respons berdasarkan data yang diterima sensor.

Berita Terkait :  Piala Kajati Jatim Ajang Pencarian Bibit Atlet Bulutangkis Berprestasi

“Sistem indikator dirancang tiga kondisi, lampu hijau menunjukkan kondisi aman, lampu kuning disertai sirine menunjukkan kondisi gempa atau kewaspadaan, dan lampu merah dengan sirine berintensitas lebih tinggi menunjukkan indikasi potensi tsunami dan perlunya segera mengikuti prosedur evakuasi,” pungkasnya.

Nadea mengukapkan selain indikator visual dan suara, alat dilengkapi sistem monitoring yang memungkinkan data dari sensor dikirimkan melalui modem MiFi menuju sistem pemantauan.

“Informasi tingkat guncangan ditampilkan menggunakan Modified Mercalli Intensity (MMI) sebagai representasi tingkat intensitas guncangan yang terdeteksi, prototipe memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi mandiri, energi panel surya diatur melalui solar charge controller dan disimpan dalam baterai,” ucapnya.

Ia menyampaikan untuk mendukung penggunaan di lingkungan pesisir, komponen elektronik utama ditempatkan dalam box pelindung, desain menjadi bagian dari penyesuaian perangkat terhadap kondisi lingkungan tempat prototipe dikembangkan.

“Alat proses pengembangan, prototipe SafeLight Tsunami Route telah tahap perakitan dan pengujian, hasil akan di evaluasi digunakan untuk melakukan penyempurnaan pada sejumlah bagian, antara lain rangkaian elektronik, konfigurasi LED RGB, pemrograman sistem monitoring, serta penyajian informasi tingkat guncangan menggunakan skala MMI,” ungkapnya.

Nadea berharap prototipe dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai perangkat pendukung penyampaian informasi kondisi bencana dan evakuasi, terutama bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di wilayah pesisir yang memiliki potensi gempa bumi dan tsunami. [ren.wwn]

Berita Terkait :  MPLS Ramah, Bangun Budaya Sekolah Mampu Tumbuhkan Semangat Belajar Siswa

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!