29 C
Sidoarjo
Monday, October 5, 2026
spot_img

Petani Sidoarjo Pilih Tanam Melon, Lebih Untung Daripada Tanam Padi

Desak Pemerintah Jamin Ketersediaan Pupuk Murah

Oleh:
Ali Kusyanto, Kabupaten Sidoarjo

Komoditas buah melon kini tengah menjadi primadona baru di kalangan petani di Kabupaten Sidoarjo. Sejumlah petani di berbagai kecamatan dilaporkan mulai beralih menanam buah tropis ini. Karena dinilai jauh lebih menguntungkan dan memiliki masa panen yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan tanaman padi tradisional.

Fenomena pergeseran tren budidaya ini tercatat menyebar luas di beberapa wilayah sentra pertanian Sidoarjo, antara lain di Kecamatan Buduran, Gedangan, Wonoayu, Porong, Jabon, Krembung, hingga Prambon.

Salah satu faktor utama yang memicu daya tarik budidaya melon adalah efisiensi waktu produksi. Tanaman melon hanya membutuhkan waktu sekitar 60 hari (2 bulan) untuk siap panen.

Durasi ini jauh lebih cepat daripada tanaman padi yang umumnya memerlukan waktu tunggu hingga 3 bulan atau lebih. Dengan siklus yang singkat, perputaran modal petani menjadi lebih cepat dan potensi keuntungan yang diraup pun diakui jauh lebih tinggi.

Meski menawarkan keuntungan menggiurkan dalam waktu singkat, beralih menjadi petani melon bukan tanpa tantangan. Para petani di lapangan mengakui bahwa komoditas ini memerlukan modal awal yang jauh lebih besar daripada menanam padi.

Petani buah melon di Desa Damarsih, Kecamatan Buduran, Yusron, mengatakan tigginya biaya operasional ini disebabkan oleh karakteristik tanaman melon yang membutuhkan perhatian ekstra, terutama dalam hal pemenuhan nutrisi.

Berita Terkait :  Atasi Sampah di Desa Bangeran Kabupaten Gresik, Pemdes Beli Mobil Pickup

“Selama masa pertumbuhan yang singkat tersebut, frekuensi pemupukan tanaman melon harus dilakukan jauh lebih sering dan intensif dibandingkan dengan tanaman padi, karena agar menghasilkan buah dengan kualitas premium dan manis,” komentarnya, belum lama ini.

Kendati padat modal dan membutuhkan perawatan yang rumit, hasil panen yang melimpah dan harga pasar melon yang stabil dinilai sangat sebanding, sehingga kian banyak petani di Sidoarjo yang tertantang untuk menekuni usaha ini.

Petani melon di wilayah Kabupaten Sidoarjo, menurut Yusron, sangat mengharapkan adanya kemudahan akses dan keterjangkauan harga pupuk demi menjaga keberlangsungan usaha tani mereka.

Pasalnya, saat terjadi kelangkaan pasokan di pasar, harga pupuk non-subsidi kerap melonjak tajam hingga memberatkan modal produksi para petani lokal.

Menanggapi harapan tersebut, Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo menjelaskan bahwa regulasi mengenai alokasi pupuk bersubsidi sepenuhnya diatur oleh kebijakan pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian.

Berdasarkan aturan terbaru dalam Peraturan Menteri Pertanian, kebijakan pupuk bersubsidi tidak diperuntukkan bagi komoditas melon.

Pemerintah memprioritaskan alokasi pupuk bersubsidi (seperti Urea dan NPK) hanya untuk 10 komoditas utama nasional yang berdampak langsung pada ketahanan pangan dan inflasi. Diantaranya, padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kopi, kakao, dan ubi kayu.

Karena melon dikategorikan sebagai buah hortikultura non-prioritas subsidi, maka para petani melon di Sidoarjo harus mengandalkan pupuk non-subsidi komersial untuk pemeliharaan tanaman mereka.

Berita Terkait :  Layanan Administrasi Tak Maksimal, Wacana Pemekaran Malang Utara Menguat

Pemerintah daerah mengimbau agar para petani hortikultura non-subsidi mengoptimalkan kombinasi pemupukan berimbang. Yakni memanfaatkan pupuk organik lokal, guna menyiasati tingginya harga pupuk kimia non-subsidi di pasaran. [kus.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!