30 C
Sidoarjo
Sunday, May 24, 2026
spot_img

Khofifah Pimpin Bongkar Ratoon Tebu Serentak di Kediri


Jatim Siap Sukseskan Swasembada Gula, Ditugaskan Kembangkan Lahan 54.897 hektare
Kediri, Bhirawa
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan Jawa Timur siap mesukseskan target swasenbada gula nasional .

Kesiapan ini disampaikan Gubernur Khofifah saat memimpin tanam perdana program bongkar ratoon tebu di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program bongkar ratoon serentak yang digelar di 11 kabupaten dan 15 titik tanam di Jawa Timur.

Kabupaten Kediri dipilih sebagai pusat pelaksanaan karena memiliki areal bongkar ratoon terluas dibanding daerah lain. Kegiatan itu dilakukan bersama Kelompok Tani Tebu Semoga Jaya.

“Hari ini kita lakukan bongkar ratoon serentak di 11 kabupaten di 15 titik tanam. Dari sebelas daerah itu, yang areanya paling luas di Kabupaten Kediri,” kata Khofifah, Sabtu (23/5).

Program bongkar ratoon menjadi salah satu strategi peningkatan produktivitas tebu sekaligus mendukung target swasembada gula nasional. Pada 2026, Kementerian Pertanian RI menargetkan pengembangan tebu nasional seluas 97.970 hektare.

Dari jumlah tersebut, Jawa Timur mendapat target terbesar yakni 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.

Khofifah mengatakan Jawa Timur memiliki peran penting dalam industri gula nasional karena menyumbang sekitar 51 persen produksi gula Indonesia. Pada 2025, produksi gula kristal putih Jawa Timur tercatat mencapai 1.343.995 ton atau tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.

Berita Terkait :  Pilwali Kota Surabaya 2024, Paslon Eri-Armuji Tanpa Lawan

“Ini menunjukkan Jawa Timur dipercaya sebagai garda terdepan dalam penguatan industri gula nasional,” ujarnya.

Selain memperluas areal tanam, Pemprov Jawa Timur juga menargetkan peningkatan kualitas hasil panen tebu. Khofifah berharap tingkat rendemen tebu pada musim giling tahun ini dapat meningkat hingga 8,5 persen.

Menurutnya, peningkatan produktivitas harus diikuti dengan perbaikan ekosistem pasca panen dan penggilingan gula. Sebab, persoalan yang dihadapi petani saat ini bukan hanya soal harga, tetapi juga penyerapan hasil produksi di pasar.

“Petani tebu harus memiliki kepastian bahwa hasil panennya terserap pasar dengan harga komersial,” katanya.

Khofifah menyoroti masih adanya gula rafinasi yang masuk ke pasar konsumsi dan berdampak pada distribusi gula petani. Karena itu, pemerintah pusat disebut telah mengurangi impor gula rafinasi dan menyerahkan pengawasannya kepada BUMN agar distribusinya lebih terkendali.

“Kita ingin memastikan gula rafinasi hanya untuk kebutuhan industri dan tidak merembes ke pasar konsumsi karena sangat mengganggu gula petani,” tandasnya.

Sementara itu Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara, Mahmudi menyebut Jawa Timur menjadi penopang utama produksi gula nasional. Menurut dia, sekitar 85 persen produksi gula nasional saat ini berasal dari Jawa Timur.

“Tahun ini target bongkar ratoon nasional mencapai 97 ribu hektare dan Jawa Timur menjadi penopang utamanya,” kata Mahmudi.

Ia menambahkan Kabupaten Kediri menjadi salah satu daerah dengan target bongkar ratoon tertinggi di Jawa Timur, yakni mencapai 7 ribu hektare. Hingga saat ini, surat keputusan untuk lebih dari 2 ribu hektare lahan telah diterbitkan. [van/nov.gat]

Berita Terkait :  Puncak HGN dan HAI, Pj. Gubernur Jatim Komitmen Angkat Martabat Profesi Guru

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!