27.8 C
Sidoarjo
Friday, August 7, 2026
spot_img

Kebun Binatang Surabaya Perlu Wisata Berbasis Pengalaman, Bukan Tiket

Pemkot Surabaya, Bhirawa. – Program Coordinator Creative Tourism Universitas Kristen Petra (UK Petra) merespon tentang Kebun Binatang Surabaya (KBS) perlu mengembangkan konsep wisata berbasis pengalaman (experiential tourism) agar mampu memberikan nilai tambah bagi pengunjung sekaligus memperkuat kemandirian finansial.

Didirikan pada 31 Agustus 1916, KBS hingga masih menjadi salah satu ikon wisata Kota Surabaya dan Jawa Timur, potensi yang dimiliki KBS jauh lebih besar dibanding sekadar menjadi lokasi melihat koleksi satwa. Kamis, (6/8/2026)

Program Coordinator Creative Tourism UK Petra, Devi Destiani Andilas, S.E., MM.Par., mengatakan KBS dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata edukasi modern yang tidak hanya mengandalkan penjualan tiket masuk.

“Kebun binatang konvensional umumnya memang hanya mengandalkan tiket dan atraksi sederhana, tetapi KBS tidak boleh mengandalkan hal ini saja, dilihat dari experiential tourism, ada banyak potensi yang bisa dieksplorasi agar pengunjung tidak merasa monoton,” Jelasnya.

Lanjut Devi mengukapkan bahwa dengan menghadirkan program behind the scene tour, konsep tersebut pengunjung tidak hanya melihat satwa dari balik kandang, tapi memperoleh pengalaman mengenal proses pengelolaan kebun binatang secara langsung.

“Pengunjung bisa diajak melihat aktivitas perawatan satwa, pemberian pakan hingga mengenal profesi para keeper, pengalaman seperti itu diyakini akan memberikan nilai edukasi sekaligus meninggalkan kesan yang lebih mendalam,” tuturnya.

Devi menjelaskan konsep memberi makan satwa (feeding animals) dinilai perlu dikembangkan menjadi aktivitas yang lebih interaktif.

Berita Terkait :  Kwarda Pramuka Jatim Lepas Kontingen Jambore Malaysia dan Rencanakan Pugar 100 RTLH

“Kalau mau memberikan experience, pengunjung bisa diajak terlibat dalam prosesnya, misalnya khusus pelajar dan mahasiswa, diajak melihat proses penyiapan nutrisi (meal plan), menyusun variasi makanan satwa bahkan melihat dan mensimulasikan secara langsung proses penyiapan pakan live-feeding bersama petugas. Kegiatan ini pasti diminati,” Ceritanya.

Devi menyarankan KBS mengembangkan program membership bagi sekolah dengan materi yang terintegrasi dengan pelajaran di kelas, mulai jenjang TK hingga SMP.

“Tim pemasaran KBS harus jeli membedah kurikulum sekolah, apa yang dipelajari di kelas, itu diintegrasikan dengan aktivitas di KBS, seperti materi metamorfosis, rantai makanan atau ganti kulit ular serta bisa menyediakan paket kunjungan beberapa kali dalam setahun dengan tema yang berbeda sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan biayanya lebih terjangkau,” paparnya.

Di sisi lain, Devi menilai KBS tidak harus memperluas lahan untuk meningkatkan daya tarik wisata, optimalisasi kawasan yang sudah ada melalui penyelenggaraan acara tematik (seasonal event) maupun penyewaan area untuk kegiatan komunitas dan perusahaan dapat menjadi sumber pendapatan di luar tiket masuk.

“Lewat inovasi kemasan produk dan wisata berbasis pengalaman, KBS berpeluang menjadi destinasi edukasi modern yang lebih mandiri secara finansial tanpa harus selalu bergantung pada penjualan tiket,” Imbuhnya. [ren.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!