Dari SMA hingga SMK, Temukan Karakter Berbeda dan Kebutuhan Pembelajaran Interaktif
Jam menunjukkan pukul 08.40 WIB. Tanda mata pelajaran pendidikan Pancasila di SMAN 4 Surabaya dimulai. Suasana ruang kelas X-3 SMAN 4 Surabaya perlahan berubah. Jika biasanya siswa menunggu guru mata pelajaran datang, pagi itu sosok yang berdiri di depan kelas bukan guru mereka sehari-hari. Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai hadir sebagai guru tamu.
Oleh :
Diana Rahmatus S, Kota Surabaya
Selasa (22/9) pagi, ada yang berbeda diruang kelas X-3 SMAN 4 Surabaya. Kunjungan Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai disekolah tersebut bukanlah kunjungan biasa. Ia tidak datang sekadar meninjau fasilitas dan kebersihan sekolah atau menyapa warga sekolah. Melainkan, kehadirannya justru mencoba merasakan langsung bagaimana menjadi seorang guru dan berhadapan dengan 32 siswa di dalam kelas.
Di hadapan para siswa, Aries membuka pembelajaran Pendidikan Pancasila dengan diskusi mengenai penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Suasana kelas pun dibuat lebih cair. Siswa diajak menyampaikan pendapat dan menuliskan cita-cita mereka untuk kemudian dimasukkan ke dalam amplop dan dititipkan kepada kepala sekolah.
Dari depan kelas itulah Aries menemukan pengalaman yang berbeda. Menjadi guru, menurutnya, tidak sesederhana berdiri di depan siswa dan menyampaikan materi.
“Ternyata menjadi guru itu tidak mudah seperti apa yang kita bayangkan. Kita berproses di dalam kelas, bagaimana murid-murid kita bisa tertarik dengan apa yang kita sampaikan,” ujar Aries.
Pengalaman tersebut sekaligus menjadi cara Aries memahami dinamika pembelajaran dari sisi yang berbeda. Selama ini, sebagai kepala dinas, ia banyak berbicara mengenai kebijakan pendidikan dan peningkatan kualitas guru. Namun, melalui program Menjadi Guru Sehari, ia ingin merasakan langsung bagaimana kebijakan tersebut diterjemahkan di ruang kelas.
“Saya hari ini mencoba menjadi guru sebagai seorang kepala dinas untuk bisa memahami tugas pokok dan fungsi guru di dalam kelas dan bagaimana suasana kelas yang sebenarnya,” katanya.
Ketika Gen Z Meminta Pembelajaran Lebih Interaktif
Dari interaksi dengan siswa, Aries menangkap satu pesan penting. Karakter peserta didik telah berubah seiring perkembangan teknologi.
Siswa saat ini tidak hanya menerima informasi dari buku atau penjelasan guru. Mereka tumbuh sebagai generasi yang terbiasa dengan visual, teknologi, dan akses informasi yang cepat.
“Mereka mengatakan kami butuh pembelajaran yang interaktif. Karena kami adalah generasi Gen Z yang visual,” tutur Aries.
Bagi Aries, suara siswa tersebut menjadi catatan penting bagi para pendidik. Guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu memilih cara penyampaian yang sesuai dengan karakter peserta didik.
“Anak-anak kita itu sudah cerdas karena melek teknologi, dia paham,” ujarnya.
Karena itu, metode pembelajaran konvensional menurutnya perlu terus beradaptasi. Teknologi tidak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran jika sekolah ingin tetap relevan dengan karakter peserta didik.
“Kalau kita masih mengajar cara konvensional, maka tentu akan ditinggal oleh murid-murid kita,” tegasnya.
Namun, pengalaman Aries tidak berhenti di ruang kelas SMA. Sehari berselang, ia kembali berdiri di depan kelas, kali ini di SMKN 1 Kebonsari, Madiun, Rabu (23/9).
Di kelas X jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Aries berhadapan dengan 36 siswa. Pembelajaran Pendidikan Pancasila berlangsung selama hampir dua jam, mulai pukul 12.30 hingga 14.15 WIB.
Salah seorang siswa di kelas tersebut adalah Louis, peserta program ADEM asal Nabire, Papua.
SMA dan SMK, Karakter Siswa Berbeda
Dua pengalaman dalam dua jenjang pendidikan tersebut memberikan gambaran berbeda bagi Aries.
Menurutnya, siswa SMA cenderung lebih kritis dan berani menyampaikan pendapat. Sementara siswa SMK memiliki kecenderungan lebih menikmati pembelajaran yang dekat dengan situasi nyata dan praktik.
“Menurut saya, tantangan mengajar siswa SMA itu mereka kritis di kelas dan berani mengemukakan pendapat. Sedangkan siswa SMK sepertinya lebih senang kalau berada di ruang nyata atau tempat praktik. Sehingga tantangan mengajarnya berbeda,” jelasnya.
Perbedaan karakter tersebut membuat Aries tidak menerapkan pola pembelajaran yang sama. Di kelas SMKN 1 Kebonsari, ia memilih tidak sekadar menyampaikan materi Pendidikan Pancasila, melainkan mengajak siswa berdiskusi mengenai kemampuan mengendalikan diri.
Diskusi diarahkan pada satu hal sederhana tetapi penting: bagaimana seseorang dapat menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
“Makanya saya tidak mengajar, saya ajak mereka berdiskusi tentang bagaimana mengendalikan diri untuk bisa memimpin diri sendiri,” katanya.
Dari dua ruang kelas itu, Aries semakin melihat bahwa pembelajaran tidak bisa dilepaskan dari karakter siswa. Cara guru mengajar harus mampu mengikuti kebutuhan peserta didik, tanpa kehilangan tujuan utama pendidikan.
Guru Juga Harus Terus Belajar
Pengalaman menjadi guru sehari juga membawa Aries pada kesimpulan lain: peningkatan kompetensi guru harus terus dilakukan.
Menurutnya, perubahan karakter siswa dan perkembangan teknologi membuat guru harus terus melakukan upgrade kemampuan. Peningkatan kompetensi tidak hanya diperlukan pada satu bidang, tetapi pada berbagai mata pelajaran dan aspek pembelajaran.
“Saya memang selalu menganggap bahwa proses upgrade ini penting,” tegas Aries.
Karena itu, Dindik Jatim akan terus mendorong forum peningkatan kompetensi dengan menghadirkan pengajar maupun instruktur profesional. Para guru diharapkan mendapatkan pengalaman yang dapat langsung diterapkan dalam proses pembelajaran.
“Terutama yang nanti kami datangkan para pengajar, instruktur yang profesional, yang bisa memahami bagaimana mengajar yang baik, yang benar, dan bisa implementatif bagi murid-murid,” tandasnya.
Bagi Aries, Menjadi Guru Sehari bukan sekadar kegiatan simbolis. Ada ruang dialog yang ingin dibangun antara pengambil kebijakan, guru, dan siswa.
Bahkan, salah satu hal yang membuat kegiatan tersebut menarik adalah ketika siswa tidak mengetahui bahwa sosok yang berada di depan mereka merupakan Kepala Dindik Jatim. Mereka hanya mengenalnya sebagai guru tamu.
Kondisi itu membuat komunikasi berlangsung lebih cair. Tanpa sekat jabatan, siswa lebih leluasa menyampaikan pendapat, kebutuhan, hingga pandangan mereka tentang pendidikan.
“Dalam menjadi Guru Sehari ini, siswa tidak tahu siapa saya. Mereka hanya tahu saya guru tamu. Berjalannya pembelajaran saya berdialog dan berdiskusi soal mata pelajaran hingga kebutuhan pendidikan. Dengan begitu kami dapat mengetahui bagaimana kebutuhan siswa dan guru,” pungkasnya.
Dua hari berada di dua ruang kelas berbeda akhirnya memberikan Aries lebih dari sekadar pengalaman mengajar. Dari bangku siswa, ia mendengar langsung suara generasi yang akan menjadi bagian dari masa depan Jawa Timur.
Dan dari sana, satu pesan menjadi jelas, bahwa guru perlu terus belajar agar cara mengajar tidak tertinggal dari cara generasi baru belajar. [ina.gat]


