28 C
Sidoarjo
Sunday, September 27, 2026
spot_img

Musim Kemarau, Pasokan Jagung Surplus dan Pakan Ternak Aman


Pemprov, Bhirawa – Di musim kemarau panjang ini, produksi jagung di Jawa Timur masih surplus sehingga masih bisa memenuhi kebutuhan peternakan di Jawa Timur. Baru-baru ini panen jagung berlangsung di Banyuwangi, namun untuk produksi terbanyak berada di Kabupaten Tuban.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno mengatakan, panen jagung prediksi Januari-Oktober untuk kadar air 14 persen sebesar 3.714.043 ton.

“Kenapa BPS memprediksi itu, karena dihitung berdasarkan luas baku panen pada tiga bulan lalu sekitar Juni – Juli,” katanya.

Untuk musim kemarau ini, lanjut Heru, Kementerian Pertanian banyak sekali membantu irigasi perpompaan.

“Disamping itu Pemprov Jatim melalui Gubernur Jatim juga akan memberikan bantuan 1.000 paket benih jagung untuk wilayah yang pertaniannya terkena puso,” katanya.

Dari total ratusan ribu hektare lahan jagung di Jatim, akumulasi lahan spesifik yang terdampak kekeringan ekstrem kata Heru, hanya sebanyak 92,52 hektar. Per tanggal 10 September, dari area terdampak tersebut yang resmi dinyatakan puso (gagal panen total) baru sebanyak 24,6 hektar.

Daerah yang mengalami puso jagung di antaranya 16,6 hektar di Tulungagung, 1 hektar di Sumenep, dan 7 hektar di Malang.

“Tuban malah tidak ada yang puso, sempat terkena dampak kekeringan tapi belum sampai puso,” imbuhnya.

Sedangkan kebutuhan jagung untuk peternakan, Heru menyampaikan masih mencukupi. Apalagi kini sudah ada SPHP jagung yang merupakan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan komoditas jagung, yang disalurkan oleh Perum BULOG untuk menyediakan bahan baku pakan ternak dengan harga terjangkau bagi peternak rakyat.

Berita Terkait :  Musim Kemarau, BPBD Kabupaten Malang Antisipasi Kekeringan di Sejumlah Wilayah

Data dilansir Dinas Peternakan Jatim, data proyeksi kebutuhan pakan ternak di Provinsi Jawa Timur untuk tahun 2026. Berdasarkan data terbaru, total kebutuhan komoditas jagung sebagai bahan baku pakan ternak di wilayah ini diproyeksikan menyentuh angka 3.283.550 ton per tahun.

Dari total kebutuhan tersebut, jagung hanya terserap oleh empat komoditas peternakan unggas utama. Sementara itu, sektor peternakan ruminansia seperti sapi potong, sapi perah, kambing, domba, serta ternak babi tercatat sama sekali tidak mengonsumsi atau membutuhkan alokasi jagung dalam struktur pakan tahunan mereka.

Sektor peternakan Ayam Ras Petelur menjadi konsumen jagung terbesar dengan angka kebutuhan yang sangat mendominasi, yakni mencapai 2.398.710 ton per tahun. Di posisi kedua, peternakan Ayam Ras Pedaging menyusul dengan kebutuhan sebesar 533.319 ton per tahun.

Sementara itu, dua komoditas unggas lainnya mencatatkan angka konsumsi yang lebih rendah. Kebutuhan jagung untuk komoditas Ayam Buras diestimasikan sebesar 204.822 ton per tahun, dan sektor peternakan Burung Puyuh membutuhkan alokasi paling sedikit, yaitu 146.699 ton per tahun.

Tingginya angka kebutuhan yang terpusat pada sektor perunggasan terutama ayam ras petelur dan pedaging, menjadi sinyal penting bagi para petani dan penyedia rantai pasok jagung lokal untuk menjaga stabilitas produksi demi memenuhi permintaan pasar peternakan Jawa Timur sepanjang tahun 2026. [rac.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!