28 C
Sidoarjo
Sunday, September 27, 2026
spot_img

PISA dan Harga Diri Bangsa

Oleh :
Abdul Razzaq Thahir
Penulis adalah Kepala Sekolah di SMAN 15 Surabaya.

Pada saat hasil PISA (Programme for International Students Assessment) tahun 2025 keluar 8 September lalu, kita dapat melihat bahwa Indonesia tetap di area yang sama. Yakni, tetap berada di area bawah. Memang, selintas posisi Indonesia pada tahun 2025 berada di ranking 73 dari 91 negara peserta, naik daripada tahun 2022. Namun, yang tidak dilihat bahwasanya ada perbedaan jelas dimana peserta tahun 2022 sejumlah 81 negara.

Kalau diurut sejak keterlibatan Indonesia dalam PISA pada tahun 2000, posisi Indonesia terus saja melorot. Itupun di segala bidang yang menjadi penilaian, yakni Sains, Membaca, dan Matematika. Lihat saja posisinya dalam ketiga bidang itu, mulai dari posisi mendekati 40, dikisaran 50, dikisaran 60 dan kini dikisaran 70-an. Memang, ada perubahan dalam pengurangan maupun penambahan negara peserta di PISA, tetapi secara konsisten posisi Indonesia tidak jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan, Indonesia belum mampu meletakkan diri di posisi 50 atau bahkan 30.

Indonesia merupakan negara besar. Baik dari segi luas wilayah, alam, budaya, maupun jumlah penduduknya. Namun, merupakan negara kecil dalam kemajuan pendidikan. Bahkan, bila di rata-rata, skor Indonesia di ASEAN masih berada di bawah rata-rata tersebut. Sejumlah rencana dirancang dan strategi dibuat demi menaikkan posisi Indonesia di dalam PISA. Namun, seluruh rancangan dan strategi itu hanya mampu menaikkan sedikit posisi dan itupun terbantu oleh penambahan negara peserta.

Kita seharusnya tidak mengucapkan “selamat” atas kenaikan yang sedikit itu. Hal itu disebabkan Indonesia tidak kekurangan Guru Besar maupun pakar untuk mampu menyelamatkan muka bangsa dalam dunia pendidikan. Singapura dan Malaysia pun telah melesat kemajuannya. Thailand pun demikian. Bahkan, sekarang Indonesia pelan-pelan didahului oleh Vietnam yang sebelumnya mengejar di belakang. Lantas, apa bentuk kebijakan yang seharusnya diperlukan dalam upaya mengejar ketertinggalan tersebut?

Berita Terkait :  Warga Tambak Wedi Surabaya Sayangkan Mutasi Lurah Muhammad Yusufian

Kita, melalui pihak terkait, terutama Kepala Dinas dan Kepala Sekolah, bersepakat bahwa dalam upaya mengejar ketertinggalan itu harus ada revolusi pendidikan. Yakni, mengajak agar siswa-siswi bersenang-senang dalam membaca. Kita dapat mengesampingkan dulu bidang sains dan matematika. Hal itu disebabkan, pada mulanya siswa-siswi diajak untuk memahami kalimat demi kalimat dalam sebuah paragraf yang beruntai menjadi tulisan. Saat siswa-siswi telah memahami seluruh tulisan tersebut, mereka dapat diarahkan untuk membaca buku rekomendasi yang diberikan oleh sekolah atau Dinas Pendidikan.

Setelah, mereka dapat diarahkan untuk membaca buku sesuai dengan minat mereka. Pada mulanya kumpulan cerita pendek. Setelahnya, Novel atau Roman. Dan ada banyak kumpulan cerpen maupun Novel dan Roman yang ditulis oleh penulis berkualitas. Ada judul novel klasik dari penulis dalam negeri seperti “Belenggu”, “Para Priyayi”, maupun “Sitti Nurbaya”. Ada juga judul novel kekinian yang ditulis oleh Eka Kurniawan maupun Leila S. Chudori. Dengan demikian, kekayaan intelektual mereka dapat berkembang karena dimulai sebuah cerita. Dan cerita yang baik akan bertindak sebagai pengantar para pembaca mudanya untuk ke cerita berikutnya yang lebih menantang dan liar.

Kegiatan membaca akan mengantar mereka ke kemampuan literasi. Dan membaca dalam hal ini literasi adalah proses seseorang dalam mensintesis, menganalisis, dan mencerna suatu informasi secara menyeluruh dan komprehensif (Journal on Education Vo. 05, No. 04 Mei-Agustus 2023, Febi Resvi Carmila dan Zaka Hadikusuma Ramadan). Kegiatan membaca bukanlah kegiatan yang sederhana. Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang cukup kompleks, karena pembaca dituntut untuk memahami apa informasi yang hendak disampaikan oleh penulis. Apa yang sebenarnya hendak diceritakan oleh si penulis itu.

Berita Terkait :  Tekan Indeks Risiko Bencana, BPBD Tuban Adakan Simulasi Penanganan Darurat

Dan inilah fakta yang dikemukakan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang membuat penulis juga terkejut. Yakni, 75 persen anak dikisaran usia 15 tahun memang mampu membaca, tetapi belum mampu atau kesulitan memahami gagasan utama dari sebuah teks panjang (tempo, April 2025). Artinya, dalam kemampuan berliterasi anak-anak belum cukup memuaskan. Bahkan, jauh dari kata memuaskan itu sendiri.

Dan faktor penyebab, mengapa generasi muda kita sampai dalam situasi semacam itu dan menjauhi keasyikan membaca tidak lain disebabkan oleh generasi pendahulunya sendiri. Kita memang banyak sekali tokoh terpandang, tetapi kurang terpandang dalam dunia pendidikan. Kita hanya disodori tentang pencapaian hasil suatu pihak di banyak media, tetapi tidak ada yang menyoroti proses maupun kegiatan dalam usaha mencapai hasil. Maksudnya, tidak ada contoh dari tokoh-tokoh yang ada yang dapat dijadikan panutan bahwa dirinya sering berkunjung ke perpustakaan untuk membaca. Atau minimal, ia mampu menjelaskan keasyikan membaca sebuah buku.

Hal-hal semacam itulah yang menyebabkan nilai Indonesia dalam PISA cenderung terus merosot. Dan hasilnya selalu berada di posisi 60-an atau 70-an untuk hampir segala bidang yang diujikan. Pemerintah seharusnya melihat serius persoalan ini. Karena, PISA dapat dijadikan tolak ukur sebuah keberhasilan dan kebanggaan bangsa. Apalagi, PISA merupakan tes berstatus internasional. Dan untuk menaikkan ranking atau posisi PISA, pemerintah melalui pihak-pihak terkait tidak hanya dapat mengandalkan cerita tentang kesuksesan dirinya. Motivasi semacam itu tidak lagi relevan. Generasi muda menginginkan gerak perubahan nyata yang dapat dirasakan. Dan cara itu bersifat koersif (paksaan).

Berita Terkait :  Puluhan Tahun Ketergantungan Warles, Warga Wonokoyo Kabupaten Pasuruan Akhirnya Bebas dari Gelap

Dan sekarang, sejak PISA dikeluarkan dapat dijadikan sebagai momen pergerakan atau perubahan. Pemerintah dapat memperbaiki terlebih dahulu budaya membaca buku yang sepertinya tidak ada. Dan pemerintah disarankan agar tidak mengikuti terlebih dahulu agenda PISA di tahun depan atau mendatang. Dalam upaya perbaikan, budaya membaca lebih baik di dahulukan daripada sains dan matematika. Selama siswa-siswi tidak atau belum memahami teks, selama itu pula mereka akan kesulitan menata struktur logika untuk menjawab pertanyaan.

Bahwa literasi sangat menjadi modal penting dalam PISA. Matematika yang diujikan pun bukan matematika sederhana, melainkan matematika yang penuh dengan penalaran logika. Bukan sekadar 1 + 1 = 2, tetapi lebih dari itu mengapa bisa menjadi dua dengan cara yang tidak biasa. Semakin kompleks suatu persoalan, maka semakin kompleks pula jawabannya. Dengan demikian hasil PISA memang menjadi cerminan suatu pendidikan di dalam sebuah negara, apakah negara itu benar-benar serius membenahi pendidikannya atau tidak. Kita ingin Indonesia memiliki harga diri yang tinggi.

———— *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!