29 C
Sidoarjo
Thursday, October 1, 2026
spot_img

Indonesia Raih 9 Penghargaan WorldSkills Shanghai 2026, Tiga Disumbang Peserta Jatim


Dindik Jatim, Bhirawa – Indonesia membawa pulang sembilan penghargaan dari ajang WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026 yang berakhir Senin (28/9). Prestasi tersebut terdiri atas satu medali perak, dua medali perunggu, dan enam Medallion for Excellence.

Dari sembilan penghargaan tersebut, tiga di antaranya disumbangkan kontingen Jawa Timur. Satu medali perak diraih Edsel Parama Mustapa, alumni SMKS PGRI 3 Malang/Poltek Astra, pada bidang Software Applications Development. Sementara dua Medallion for Excellence diraih Reno Surya Permana dan Rouf Aufa Rifqi, alumni SMKN 1 Jenangan, pada bidang Mechatronics beregu.

Medali perunggu Indonesia lainnya diraih Rash Asyari Amyris Thalib pada bidang IT Network Systems Administration dan Fatima Rani Al Husna Prameswara pada bidang Restaurant Service. Sedangkan enam Medallion for Excellence lainnya diraih pada bidang Web Technologies, Industrial Control, Electronics, Mechatronics, Refrigeration and Air Conditioning, serta Automobile Technology.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengapresiasi capaian para kompetitor dan expert Indonesia, khususnya kontingen Jawa Timur, yang telah berjuang dalam kompetisi keterampilan vokasi tingkat dunia tersebut.

“Alhamdulillah Perwakilan Jawa Timur dari tujuh Orang Perwakilan, tiga di antaranya membawa pulang medali, yakni satu Silver Medal dan dua Medallion for Excellence” ujar Aries.

Menurut Aries, WorldSkills Competition merupakan ajang bergengsi yang mempertemukan talenta-talenta muda dari berbagai negara untuk menunjukkan kompetensi sesuai standar profesi dan industri internasional. Karena itu, capaian di Shanghai perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pendidikan vokasi di Indonesia.

Berita Terkait :  Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Jalin MoU Bersama Unars Situbondo

“WorldSkills ini adalah ajang kompetisi keterampilan vokasi tingkat dunia yang mempertemukan talenta-talenta muda terbaik dari berbagai negara untuk menunjukkan kemampuan sesuai standar profesi dan industri internasional,” katanya.

Aries menilai persiapan peserta perlu dilakukan lebih matang. Kompleksitas kompetisi, menurut dia, berkaitan erat dengan kurikulum pendidikan vokasi, baik di tingkat SMK maupun perguruan tinggi.

Karena itu, pendidikan vokasi perlu terus diselaraskan dengan standar kompetensi internasional agar lulusan Indonesia memiliki kompetensi yang mampu bersaing di tingkat global.

Selain kompetitor, Aries menyoroti pentingnya peran expert dalam mempersiapkan peserta. Indonesia pada WSC Shanghai 2026 mengirim 17 expert untuk mendampingi peserta pada 17 bidang lomba.

“Expert perannya juga sama pentingnya dengan kompetitor. Seberapa dekat kompetensi expert, trainer, peralatan, metode latihan, dan lingkungan training Indonesia dengan negara-negara yang menjadi benchmark?” ujarnya.

Menurut Aries, evaluasi pasca-WorldSkills perlu mencakup kemampuan teknis, pemahaman terhadap standar WorldSkills dan sistem kompetisi, kemampuan membaca tren soal, jejaring internasional, hingga kemampuan mentransfer pengetahuan kepada para trainer di daerah.

Keterlibatan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA) juga dinilai perlu diperkuat. Aries menegaskan pendidikan vokasi dan persiapan WorldSkills tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan industri.

“WorldSkills ini ajang yang sangat bergengsi. Ini kesempatan bagi peserta menunjukkan kompetensi vokasi. Banyak mata DUDIKA dunia tertuju di sini,” katanya.

Pada WSC Shanghai 2026, Indonesia berada di peringkat ke-19 dari 74 negara peserta, dengan negara terkuat berasal dari China, yang merupakan tuan rumah kejuaraan. Posisi tersebut disebut Aries perlu disyukuri sekaligus menjadi pijakan untuk melakukan evaluasi, terlebih jumlah bidang yang berhasil meraih penghargaan internasional meningkat.

Berita Terkait :  Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya Gaet Ribuan Sineas Internasional melalui 4th Ciputra Film Festival

Aries mengingatkan capaian di Shanghai bukan menjadi titik akhir dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan vokasi. Menurutnya, pengalaman dan prestasi para peserta harus menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Ini bukan bagian akhir dari komitmen kita untuk terus mencerdaskan bangsa dan memajukan bangsa dan negara dengan pendidikan dan prestasi yang kalian dapat,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat lebih mengintensifkan training center bagi calon kontingen WorldSkills sehingga persiapan peserta semakin matang dan peluang meraih prestasi internasional semakin terbuka.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menyampaikan Indonesia mengirim 20 kompetitor pada 17 bidang, didampingi 17 expert dan technical delegate. Jumlah tersebut menjadi delegasi terbesar Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaan dalam WorldSkills.

Tatang menyebut jumlah bidang yang memperoleh prestasi internasional juga meningkat dari sebelumnya empat menjadi sembilan bidang. Para kompetitor menjalani latihan intensif sekitar lima hingga enam bulan sebelum bertanding di Shanghai.

Salah satu peraih penghargaan adalah Edsel Parama Mustapa. Ia menjalani pelatihan selama enam bulan untuk bidang Software Applications Development dengan mengerjakan soal-soal baru setiap hari sebagai persiapan kompetisi. “Dari awal saya tidak berekspektasi untuk mendapatkan. Tapi alhamdulillah saya bisa dapat,” ungkap Edsel.

Dalam kompetisi tersebut, Edsel mengerjakan proses pengembangan aplikasi mulai dari perencanaan, pembuatan, hingga pengujian. Aplikasi yang dibuat ditujukan untuk perangkat Android dan dapat diterapkan dalam dunia usaha dan industri.

Berita Terkait :  Ubaya Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Dorong Riset dan Inovasi Unggul

Sementara Fatima Rani Al Husna Prameswara yang meraih medali perunggu bidang Restaurant Service menjalani latihan sekitar dua setengah tahun. Perjalanannya dimulai dari Lomba Kompetensi Siswa (LKS) kompetisi tingkat ASEAN, seleksi daerah, seleksi nasional, hingga masuk training center untuk WSC Shanghai 2026.

Persiapan Fatima juga dilakukan melalui pengalaman langsung di lingkungan industri. Ia beberapa kali menjalani latihan di industri untuk meningkatkan pengalaman berinteraksi dengan tamu dan para profesional di bidang restaurant service. “Saya selalu berprinsip bahwa saya ingin memberikan yang terbaik. Alhamdulillah, mungkin ini bonus yang saya dapatkan,” ujarnya.

Capain WorldSkills tidak berhenti pada penghargaan yang diterima para peserta. Pengalaman selama kompetisi akan didiseminasikan oleh Kemendikdasmen melalui penyelarasan Lomba Kompetensi Siswa (LKS), penguatan pusat pelatihan mitra, serta penyusunan buku mengenai pengalaman Indonesia di panggung keterampilan dunia.

Para delegasi Indonesia kini telah menyelesaikan perjalanan kompetisi di Shanghai dengan membawa sembilan penghargaan. Selain capaian tersebut, pengalaman berkompetisi dengan talenta dari berbagai negara diharapkan dapat dibawa kembali ke sekolah, lembaga pendidikan vokasi, dan lingkungan kerja untuk memperkuat pembelajaran bagi peserta didik lainnya. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!