29 C
Sidoarjo
Wednesday, September 30, 2026
spot_img

Pancasila Wajib Sakti

Kejayaan PKI hanya bertahan sampai bulan Oktober 1965. Musuh utama PKI, golongan Islam tradisional, khususnya NU bangkit. Walau tanpa Masyumi (yang dibubarkan Presiden Soekarno pada Agustus 1960). Kyai-kyai kampung Nahdlatul Ulama (NU) bangkit bersama santri. Karena jika terus mengalah, akan menjadi target utama serangan pembantaian oleh PKI, yang didukung oleh kekuasaan. Bahkan PKI sudah terang-terangan menyerang akidah Islam (dan agama lain). Sekaligus bertujuan mengganti dasar negara Pancasila.

PKI menghasut Presiden supaya membubarkan Masyumi. Dengan berbagai dalih, termasuk rekam jejak pimpinan Masyumi terlibat pemberontakan PRRI tahun 1958 (dan Permesta tahun 1957). Namun sepanjang decade 1960-an segenap organisasi masyarakat dan parpol, berbasis muslim, juga mengusulkan pembubaran PKI. Khususnya Nahdlatul Ulama (NU), sebagai parpol terbesar ketiga (setelah PNI, dan Masyumi) hasil Pemilu 1955. Tetapi usulan NU tidak direspons Presiden (tidak bersedia membubarkan PKI).

NU tampil mengemuka menggantikan peran Masyumi. Memiliki dukungan rakyat hasil Pemilu 1955, hampir 7 juta suara (18,41%). Berbeda tipis dengan PKI yang memperoleh hampir 6,2 juta suara (16,36%). Walau NU lebih besar, namun PKI memiliki “pendukung lain” yang menyebabkan tidak dibubarkan. Bahkan PKI menjadi jumawa, mulai melaksanakan terror melalui seni budaya sejak awal dekade 1960-an. Khususnya melalui organisasi sayap Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Serangan terhadap akidah agama-agama dilakukan melalui atraksi seni budaya. Berdalih kebebasan budaya. Karena tidak dibubarkan, PKI semakin mengembangkan diri, menjadi 4 besar partai politik hasil Pemilu 1955. Melalui Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), dipentaskan seni tradisional. Lakon drama paling terkenal bertema “Matine Gusti Allah,” yang mengolok-olok agama Islam. Serta lakon “Pernikahan Paus,” yang menista ajaran Nasrani. Kedua lakon dipentaskan melalui seni kethoprak (di Yogya), serta ludruk di Jawa Timur.

Berita Terkait :  APBD untuk Kesejahteraan Rakyat

Beberapa judul pementasan yang tercatat memicu kemarahan umat beragama, memicu tawur social. Antara lain “Gusti Allah Telah Mati” (dipentaskan di Kediri pada tahun 1964), “Gusti Allah Dadi Manten”, dan “Gusti Allah Bingung”. Perang saudara berlangsung cukup lama, sampai mendekati hari Pahlawan 10 November 1965. Ratusan dokumen, dan kesaksian pelaku sejarah, menyatakan kader PKI yang mendahului aksi pembantaian terhadap warga, terutama kalangan santri dan ulama.

Dokumentasi olok-olok penistaan agama juga dinyatakan oleh Profesor RM Soedarsono (guru besar UGM). Dalam buku berjudul “Teater Tradisional Indonesia: Indonesia Indah Jilid 6,” ditulis, lakon penistaan ajaran agama dipentaskan di Gunung Kidul (DIY) pada 14 Juli 1964 oleh Lekra. Menurut Profesor Soedarsono, dua lakon tersebut bersifat agitatif, dan provokatif menebar kebencian.

Sebelumnya, peristiwa September 1948 (Pemberontakan PKI di Madiun), juga meng-geger-kan pulau Jawa. Basis PKI memang berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Terutama menyusup pada ajaran spiritual non-agama. Sejalan dengan keinginan PKI untuk menumpas semua kyai. Salahsatu korban yang di-incar PKI, adalah ulama pimpinan pesantren Termas, Pacitan. Yakni, KH Hamid Dimyathi, diculik, dan dibantai.

Tetapi pergerakan (kejayaan) PKI runtuh tuntas jelang akhir tahun 1965. Terbit TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966, yang membubarkan PKI. Sekaligus melarang ajaran komunisme. PKI gagal mengganti dasar negara Pancasila. Bahkan seluruh pimpinan dan simpatisan di semua daerah “diburu” untuk diadili. Namun sebagian juga dieksekusi tanpa diadili, persis seperti PKI memperlakukan lawan politik.

Berita Terkait :  Kereta Api Pilihan Utama di Libur Natal dan Tahun Baru, Dukung SDGs dengan Transportasi Ramah Lingkungan

Tetapi selama satu dekade terakhir dicoba rekonsiliasi persatuan nasional tanpa syarat. Memaafkan PKI. Keluarga eks PKI dijamin bisa melanjutkan hidup dengan segala hak dan kewajiban yang setara.

——— 000 ———

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!