31.7 C
Sidoarjo
Tuesday, July 7, 2026
spot_img

Emas Dorong Kinerja Pegadaian Semakin Berkilau, Bagaimana Dengan Perak?

Surabaya, Bhirawa – Pegadaian selama ini identik dengan emas. Nama Bank Emas yang disematkan pada lembaga ini sejak 2025 memperkuat posisi perusahaan sebagai rujukan masyarakat untuk menyimpan dan berinvestasi emas.

Namun di tengah fluktuasi harga emas global dan peningkatan minat kaum muda terhadap instrumen digital, satu pertanyaan mulai muncul, apakah perak bisa menjadi alternatif investasi yang layak dipertimbangkan?

Dari data internal PT Pegadaian Persero terlihat bahwa produk emas digital lewat aplikasi TRING menunjukkan peningkatan transaksi signifikan, akumulasi transaksi Januari–Mei 2026 mencapai sekitar Rp25 miliar, naik dari Rp22,5 miliar dari tahun sebelumnya diperiode yang sama.

Angka ini mencerminkan antusiasme masyarakat, terutama generasi milenial yang kini lebih adaptif dengan layanan berbasis ponsel, meski harga emas bergerak naik turun. Keberhasilan tersebut pula yang mendorong pertumbuhan kelolaan emas Pegadaian hingga menembus angka lebih dari 153,72 ton pada Mei 2025, sekaligus menopang kenaikan laba usaha yang besar setelah Pegadaian dinobatkan sebagai Bank Emas.

Namun Riana Rifani, Head of Corporate Communication Pegadaian, membuka ruang diskusi lebih jauh, di luar emas, perak merupakan komoditas yang mulai dilirik pasar. “Tidak menutup kemungkinan perak akan menjadi alternatif investasi atau aset yang disimpan di masa datang,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).

Hal ini menandakan bahwa opsi masuk ke produk lain seperti perak masih berada dalam ranah pertimbangan, walau belum menjadi strategi bisnis resmi Pegadaian saat ini.

Berita Terkait :  PEPC, IDFoS dan Perhutani Lakukan Konservasi Kawasan Hutan di Bojonegoro.

Daya tarik perak sebagai instrumen investasi punya beberapa aspek yang patut diperhatikan. Pertama, harga perak biasanya lebih rendah per unit dibandingkan emas, sehingga lebih mudah diakses oleh investor ritel pemula yang ingin bertransaksi dalam denominasi kecil.

Kedua, perak memiliki beragam kegunaan industri, dalam elektronik, energi terbarukan dan fotografi, yang menambah permintaan riil selain alasan investasi murni.

Ketiga, pada kondisi pasar tertentu perak dapat bergerak dengan korelasi berbeda terhadap emas sehingga berpotensi menambah diversifikasi portofolio investor.

Tetapi tantangan operasional juga nyata. Seperti halnya tenggat waktu cetak emas, kesiapan mencetak dan menyalurkan emas fisik yang memerlukan infrastruktur, standar penyimpanan (vaulting) yang terjamin, serta SLA operasional yang jelas.

Pegadaian sendiri menerapkan mekanisme satu banding satu untuk emas digital, setiap gram yang ditransaksikan tercatat dan tersimpan dalam bentuk lantakan emas yang disimpan di dalam tempat penyimpanan atau vaulting  berstandar internasional. Jika perak akan dihadirkan,maka  mekanisme serupa harus dirancang sehingga kepemilikan digital ter-backup secara fisik dan tercatat dengan rapi.

Masalah logistik juga muncul ketika permintaan distribusi fisik bersifat pecahan kecil, misalnya per satuan gram, karena pencetakan dalam volume kecil butuh waktu dan menimbulkan spread terhadap waktu penyaluran.

Untuk emas, proses cetak bisa memakan sekitar 15 – 45 hari, sesuai SLA yang dijalankan oleh anak usaha penyedia logistik dan cetak, Galeri 24.

Berita Terkait :  PLN Nusantara Power Uji Coba Hidrogen Fuel Generator di Gili Ketapang Kabupaten Probolinggo

Keamanan dan tata kelola menjadi faktor lain yang menentukan, terutama ketika produk investasi dioperasikan secara digital. Riana menegaskan komitmen Pegadaian pada keamanan: vaulting berstandar internasional dan prinsip 1:1 sehingga tiap satuan yang dibeli nasabah memang tercatat dan tersimpan. Bagi calon produk perak digital, skema ini harus terjamin agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Secara makro, kondisi ekonomi global, mulai dari perang geopolitik hingga fluktuasi suku bunga, berdampak pada pasar logam mulia. Riana menyebut bahwa naik-turunnya kondisi ekonomi membuat Pegadaian terus mengevaluasi dampak terhadap cost of fund dan biaya layanan.

Sampai saat ini, kenaikan biaya seperti beban bunga (BI Rate) belum berdampak signifikan pada penentuan sewa modal atau biaya sewa di Pegadaian, tetapi perusahaan tetap waspada dan menyiapkan mitigasi risiko.

Jadi, apakah perak layak menjadi alternatif di Pegadaian? Dari perspektif pasar ritel, jawabannya berpotensi iya, perak menawarkan titik masuk yang lebih rendah, permintaan industri yang nyata, dan kemungkinan diversifikasi portofolio bagi investor ritel.

Namun bagi Pegadaian, keputusan untuk menghadirkan perak memerlukan perencanaan matang, infrastruktur vaulting, rantai pasokan dan pencetakan, mekanisme 1:1 untuk kepemilikan digital, pengaturan Service Level Agreement (SLA), serta kepastian tata kelola dana dan transparansi bagi nasabah.

Penutupnya, perak bukan hanya sekadar kilau yang lebih murah dibanding emas. Ia merupakan alternatif yang menawarkan peluang dan tantangan bagi lembaga seperti Pegadaian.

Berita Terkait :  Daop 7 Berikan Program 'Silaturahmi' Dapatkan Diskon Hingga 20 Persen untuk Kelas Eksekutif

Bila dieksekusi dengan tata kelola yang kuat dan transparansi yang konsisten, perak bisa menjadi pelengkap nilai tambah bagi investor ritel dan memperluas peran Pegadaian sebagai pelayan kebutuhan investasi masyarakat. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!