Oleh:
Dr. Anggit Grahito Wicaksono, S.Pd., M.Pd.
Dosen Universitas Slamet Riyadi
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 baru saja dirilis. Skor sains Indonesia naik enam poin menjadi 389, membaca naik enam poin menjadi 365. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyebut ini sebagai tanda bahwa arah kebijakan mulai berada di jalur yang tepat. Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, bahkan menyatakan bahwa arah kebijakan sudah berada di jalur yang tepat.
Namun di balik euforia angka-angka itu, ada fakta yang tak bisa diabaikan: mayoritas anak Indonesia masih gagal mencapai kompetensi dasar. Hanya 16,93 persen siswa yang mencapai Level 2 atau lebih dalam matematika. Untuk membaca, 27 persen; untuk sains, 37 persen. Sementara rata-rata OECD mencapai 65 persen untuk matematika, 69 persen untuk membaca, dan 74 persen untuk sains.
Artinya, 83 persen siswa kita tidak mampu menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah sehari-hari. Mereka tidak bisa menafsirkan grafik sederhana, tidak bisa menalar, dan tidak bisa menghubungkan informasi.
PISA dan Makna Level 2
PISA Level 2 bukanlah standar tinggi. Ia adalah ambang kompetensi dasar: kemampuan memakai pengetahuan dalam situasi yang familiar. Jika 83 persen siswa tidak mencapainya, maka sebagian besar dari mereka tidak mampu bernalar secara minimal. Mereka bisa menghafal rumus di papan tulis, tetapi tidak bisa menghitung diskon di pasar atau membaca grafik inflasi.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, mengungkapkan bahwa siswa Indonesia relatif mampu menyelesaikan soal ketika persamaan sudah tersedia. Namun mereka kesulitan ketika harus menerjemahkan persoalan kehidupan sehari-hari menjadi model matematika. Contohnya: grafik penjualan yang menampilkan banyak titik data sekaligus garis linear. Siswa tidak cukup hanya membaca angka. Mereka harus memahami posisi tahun, menemukan pola, memilah informasi yang relevan, dan menerjemahkan hubungan tersebut ke dalam model matematika.
Ini bukan soal tidak bisa berhitung. Ini soal tidak bisa berpikir. Sebuah ironi, karena PISA 2025 mencatat 80 persen siswa Indonesia mengaku ingin tahu dan 74 persen mengatakan mau berusaha lebih keras ketika menghadapi tantangan. Rasa ingin tahu dan kemauan berusaha itu tinggi. Namun hasilnya tetap rendah. Saya menyebutnya sebagai nalar mandek: sistem pendidikan gagal mengubah rasa ingin tahu menjadi kemampuan nalar.
Di ASEAN, Kita Juru Kunci Matematika
Posisi Indonesia di ASEAN memprihatinkan. Kita berada di peringkat keenam dari delapan negara ASEAN dalam sains, ketujuh dalam membaca, dan terbawah dalam matematika. Hanya Kamboja dan Filipina yang skor sainsnya lebih rendah; dalam membaca kita hanya unggul atas Kamboja; dalam matematika kita paling rendah di kawasan. Vietnam, yang dulu setara, kini jauh melesat di atas kita dengan skor 457. Malaysia dan Thailand juga meninggalkan kita jauh di belakang.
Sejak 2015, proporsi siswa di bawah Level 2 meningkat 14 poin persentase dalam matematika, 18 poin dalam membaca, dan 7 poin dalam sains. Ini bukan tren satu tahun. Ini adalah kemunduran struktural yang berlangsung satu dekade.
Yang lebih memprihatinkan, pemerintah justru berkilah: akses pendidikan meluas. Coverage Index naik dari 0,46 menjadi 0,90. Memang benar, lebih banyak anak yang bersekolah. Namun perluasan akses tanpa perbaikan kualitas hanyalah ilusi. Memberi semua anak masuk sekolah, tetapi tidak memberi mereka kemampuan bernalar, sama saja membangun stadion tanpa atap: megah dari luar, tetapi tak bisa menahan hujan.
Kurikulum dan Metode Mengajar
Kita telah mengganti kurikulum berkali-kali, dari KTSP ke K-13, lalu ke Kurikulum Merdeka, kini Deep Learning dengan mengucurkan triliunan rupiah, namun hasilnya tetap sama. Perubahan kurikulum tanpa perubahan fundamental dalam cara mengajar dan cara belajar hanya akan menjadi ritual tahunan. Guru masih terjebak dalam beban administrasi yang mencekik kreativitas. Siswa masih dijejali hafalan, bukan diajak bernalar.
Laporan PISA 2025 pun mengungkap bahwa 79 persen siswa Indonesia masih berada di bawah Level 2 untuk literasi sains. Ini menunjukkan bahwa krisis literasi sains kita bukan hanya soal angka, tetapi soal cara kita mengajarkan sains. Sains diajarkan sebagai kumpulan fakta yang harus dihafal, bukan sebagai cara berpikir yang harus dilatih.
Padahal, PISA 2025 menemukan modal berharga: siswa Indonesia memiliki tingkat keingintahuan yang termasuk tertinggi, serta kemampuan baik dalam menilai kredibilitas konten AI. Rasa ingin tahu itu sudah ada. Tugas kita adalah mengubahnya menjadi nalar yang menyelamatkan.
Apa yang Harus Dilakukan?
Pertama, ubah cara mengajar sains. Sains harus diajarkan sebagai proses berpikir, bukan produk hafalan. Siswa perlu diajak mengamati, bertanya, mencoba, dan menyimpulkan. Guru berperan sebagai fasilitator, bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Dalam konteks ini, pendekatan seperti Discovery Learning dan Deep Learning perlu diimplementasikan secara konsisten, bukan sekadar menjadi jargon kebijakan.
Kedua, kurangi beban administrasi guru. Selama guru lebih sibuk mengisi formulir daripada merancang pembelajaran, kualitas pembelajaran tidak akan meningkat. Beri mereka ruang untuk berkreasi dan bereksperimen dengan metode pembelajaran inovatif. Guru adalah ujung tombak pendidikan. Tanpa dukungan yang memadai, semua kebijakan sehebat apa pun hanya akan menjadi dokumen di atas kertas.
Ketiga, perkuat literasi dan numerasi sejak dini. Ini adalah fondasi dari segala kemampuan berpikir tingkat tinggi. Tanpa kemampuan membaca dan berhitung yang kuat, mustahil siswa bisa bernalar secara ilmiah. Program literasi dan numerasi harus dimulai dari jenjang PAUD dan SD, dengan pendekatan yang menyenangkan dan kontekstual.
Keempat, libatkan orang tua dan masyarakat. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah. Orang tua perlu memahami pentingnya literasi dan numerasi, serta mendukung anak-anak mereka untuk belajar di rumah. Masyarakat juga perlu dilibatkan dalam menciptakan ekosistem belajar yang kondusif.
Mengubah Arah
Ki Hadjar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat anak. Tuntunan tidak bisa terjadi jika anak hanya dijejali hafalan. Ia harus diajak berpikir, mempertanyakan, dan menemukan.
Kenaikan 6 poin memang patut diapresiasi. Namun jangan sampai kita terjebak dalam euforia semu. Peringkat 78 dari 90 untuk matematika, 74 dari 90 untuk membaca, dan 73 dari 91 untuk sains adalah cermin pahit yang tak bisa dibantah. Kenaikan kecil bukanlah prestasi besar jika kesenjangan tetap lebar dan ketimpangan justru melebar.
Sudah saatnya kita berhenti berbangga dengan kenaikan 6 poin dan mulai bertanya: mengapa 83 persen siswa kita masih tertinggal? Karena pada akhirnya, angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah nasib anak-anak kita, dan masa depan bangsa ini.
Karena kemajuan bangsa tidak diukur dari seberapa banyak anak yang masuk sekolah, tetapi dari seberapa dalam mereka benar-benar belajar.
———- *** ————






