Surabaya, Bhirawa – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) diminta mengevaluasi dan memprioritaskan pemenuhan sarana dan prasarana (sarpras) sekolah negeri, menyusul temuan keterbatasan ruang kelas dan fasilitas belajar di SDN Semolowaru IV Surabaya.
Total 12 rombongan belajar (rombel), sekolah tersebut hanya memiliki delapan ruang kelas, mengakibatkan empat rombel harus mengikuti kegiatan belajar mengajar pada siang hari, sedangkan sebagian siswa terpaksa belajar lesehan di perpustakaan karena tidak tersedia bangku, Senin (12/10).
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan bahwa menerima laporan warga melalui hotline mengenai siswa yang harus belajar di luar ruang kelas akibat keterbatasan fasilitas. “Saya datang ke SDN Semolowaru IV untuk mengecek langsung terkait bangku dan fasilitas sekolah, ternyata terdapat 12 rombongan belajar, tetapi ruang kelas yang tersedia hanya delapan. Akibatnya, ada empat rombel yang harus masuk siang,” ujarnya.
Lanjut Eri menjelaskan bahwa selain kekurangan ruang kelas, juga mendapati perpustakaan yang digunakan sebagai tempat belajar tidak dilengkapi bangku, sejumlah bangku dan kursi siswa juga masih terbuat dari kayu dengan kondisi berlubang sehingga perlu mendapat perhatian.
“Sebab tidak ada ruang kelas, kegiatan belajar mengajar dilakukan di perpustakaan, di perpustakaan juga tidak tersedia bangku, sehingga para siswa harus belajar dengan duduk lesehan,” katanya.
Eri mengukapkan telah meminta Dispendik Surabaya melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebutuhan sarpras sekolah negeri, pemenuhan fasilitas dasar pendidikan harus menjadi prioritas dalam penggunaan anggaran, terutama untuk ruang kelas dan kamar mandi.
“Daripada mengadakan berbagai kegiatan yang membebani wali murid, lebih baik anggaran diprioritaskan untuk membenahi sarana dan prasarana terlebih dahulu, seperti ruang kelas dan kamar mandi,” tegasnya.
Eri menegaskan fasilitas pendidikan yang memadai menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang kenyamanan belajar dan prestasi siswa, karena itu, pembenahan sarpras perlu dilakukan agar seluruh siswa dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar secara layak.
“Saya minta maaf masih ada gedung pendidikan negeri di Surabaya yang kondisinya seperti ini, padahal berada di bawah naungan Pemerintah Kota Surabaya, fasilitas akan berpengaruh terhadap prestasi anak-anak,” ucapnya.
Wali kota menyampaikan Pemkot Surabaya targetkan pembenahan seluruh SD dan SMP negeri pada 2027. “Berharap perbaikan dapat meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman bagi siswa, semua sekolah negeri, baik SD maupun SMP, akan saya benahi, jadi anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan prestasinya juga bisa semakin baik,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala SDN Semolowaru IV Surabaya, Novita Aprilianti, menambahkan dari sekolah berupaya mengoptimalkan fasilitas yang tersedia, termasuk dengan mengatur jadwal pembelajaran. Namun, keterbatasan sarpras membuat sekolah belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan siswa.
“Sebenarnya sudah semampu mungkin untuk memanfaatkan apa yang sudah ada, mengatur jadwal dan lain sebagainya, kalau sudah terkendala tentang sarpras, kita sudah tidak bisa apa-apa lagi. Yang bisa kita upayakan adalah mengirim e-surat untuk kekurangan-kekurangan yang ada,” pungkasnya.
Novita mengatakan pengajuan penggantian bangku dan kursi yang sudah tidak layak telah disampaikan sejak Maret, tapi hingga peninjauan Wali Kota Surabaya dilakukan, pengajuan tersebut belum terealisasi.
“Sekolah juga masih kekurangan tiga guru, kondisi ini membuat sejumlah tenaga pendidik harus merangkap tugas mengajar untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran,” tambahnya. [ren.wwn]






