27 C
Sidoarjo
Tuesday, September 15, 2026
spot_img

Direktur DSI YPTA : AI Harus jadi Co-Pilot Bukan Autopilot


Surabaya, Bhirawa – Penggunaan artificial intelligence (AI) yang semakin masif dalam berbagai aktivitas harus diimbangi dengan kemampuan manusia untuk tetap berpikir kritis dan mengambil keputusan secara mandiri. AI seharusnya menjadi co-pilot atau pendamping manusia, bukan autopilot yang mengambil alih seluruh proses berpikir dan pengambilan keputusan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Direktorat Sistem Informasi (DSI) Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, Eko Halim Santoso, S.Kom., M.Kom. Menurutnya, AI pada dasarnya merupakan alat untuk menambah dan memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan peran manusia sepenuhnya.

“AI seharusnya menjadi co-pilot, bukan autopilot. Artinya, manusia harus tetap memegang kendali atas keputusan, etika, moral, dan tanggung jawab,” ujarnya, Selasa (15/9).

Eko mengatakan, masyarakat kini memasuki fase ketika AI telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, mencari informasi hingga membantu mengambil keputusan. Namun, yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sering AI digunakan, melainkan apakah pengguna masih memiliki kemampuan untuk berpikir, memvalidasi, memverifikasi, dan mengambil keputusan secara mandiri.

Karena itu, penggunaan AI harus dilakukan secara tepat guna. Tidak semua pekerjaan harus diserahkan kepada AI, terutama pekerjaan sederhana yang masih dapat dilakukan manusia secara mandiri. Sebaliknya, AI dapat memberikan nilai tambah besar untuk pekerjaan yang membutuhkan analisis, kreativitas, maupun pengolahan data dalam jumlah besar.

“Gunakan AI ketika memang memberikan nilai tambah, bukan sekadar karena AI sudah tersedia lalu kita menggunakannya untuk semua hal,” katanya.

Berita Terkait :  Unej Bahas Pengelolaan Tanaman Kopi di Konferensi Internasional PCM 2024

Ia juga mengingatkan pengguna agar tidak menerima begitu saja informasi yang dihasilkan AI. Setiap informasi tetap perlu diverifikasi untuk memastikan validitasnya. Selain itu, keamanan data, privasi, perlindungan data pribadi, serta persoalan hak cipta harus menjadi perhatian dalam penggunaan teknologi tersebut.

Pengguna juga diminta tidak memasukkan data sensitif secara sembarangan ke dalam layanan AI. Menurut Eko, kemampuan menggunakan AI harus berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap risiko dan konsekuensi penggunaannya.

Perkuat Literasi AI
Eko menegaskan, institusi pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk cara generasi berikutnya menggunakan teknologi. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga perlu membangun literasi AI di kalangan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Dalam konteks DSI, lanjutnya, terdapat dua posisi yang harus dijalankan, yakni sebagai enabler dan governor. Sebagai enabler, DSI perlu membuka ruang pemanfaatan AI untuk mendukung proses pendidikan, administrasi, pengolahan data, pengembangan sistem informasi, penelitian hingga peningkatan layanan.

Sementara sebagai governor, DSI harus memastikan pemanfaatan AI tetap memperhatikan keamanan informasi, perlindungan data pribadi, etika, serta validitas informasi. “Pendekatan yang tepat bukan melarang penggunaan AI, tetapi membangun literasi AI. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa perlu memahami bukan hanya cara menggunakan AI, tetapi juga kapan AI layak digunakan, apa keterbatasannya, bagaimana memverifikasi hasilnya, serta apa konsekuensi dari penggunaannya,” jelasnya.

Berita Terkait :  Kunjungi TK Hingga MTs, Wabup Pastikan MPLS di Kabupaten Gresik Berjalan Lancar

Di sisi lain, Eko menilai perkembangan AI juga perlu dilihat dari aspek efisiensi dan keberlanjutan. Di balik penggunaan AI terdapat infrastruktur pusat data, server berperforma tinggi dan sistem pendinginan yang bekerja terus-menerus. Sistem tersebut membutuhkan energi dan, dalam sejumlah sistem pendinginan pusat data, penggunaan air.

Karena itu, kemajuan AI tidak semestinya hanya diukur dari kecanggihan dan kecepatan komputasi. Efisiensi penggunaan air, listrik, energi dan sumber daya lainnya juga perlu menjadi bagian dari inovasi.

Menurutnya, tantangan ke depan bukan menghentikan perkembangan AI, melainkan memastikan teknologi tersebut mampu menghasilkan manfaat yang semakin besar dengan penggunaan sumber daya yang semakin efisien.

“AI yang lebih canggih belum tentu menjadi AI yang lebih baik, apalagi jika sumber daya yang digunakan tidak sebanding dengan manfaat yang dihasilkan,” tandasnya.

Pada akhirnya, kata Eko, masa depan bukan persoalan memilih antara manusia atau AI. Yang lebih penting adalah membangun kolaborasi manusia dan AI untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi, dengan tetap menjaga nilai kemanusiaan dan keberlanjutan.

“Teknologi yang baik bukan hanya teknologi yang semakin canggih atau pintar, tetapi teknologi yang manfaatnya semakin besar dengan dampak yang semakin terkendali,” pungkasnya. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!