28 C
Sidoarjo
Tuesday, September 15, 2026
spot_img

Generasi Alpha Perlu Literasi Digital

Oleh :
Dr Merry Fridha Tripalupi,MSi
Dosen Magister Ilmu Komunikasi-Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Bukan Sekadar Cakap Menggunakan Gawai

Ada pertanyaan yang muncul pada orang tua tentang penggunaan gawai oleh anak-anak generasi Alpha yaitu berapa lama anak boleh berselancar dengan gawai? Dalam penelitian berjudul Pengembangan Model Diet Media Digital FRAME (Focus, Responsible, Adaptive, Media Engagement) untuk Penguatan Literasi Digital Generasi Alpha di Surabaya yang dilakukan Dr. Merry Fridha Tripalupi, M.Si dan A.A.I prihandari Satvikadewi, M.Med. Kom bersama 3 orang mahasiswa dari Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengemukakan persoalan tersebut dari sudut yang berbeda yaitu waktu berselancar memang penting, tetapi bukan satu-satunya persoalan. Maka melihat kegelisahan tersebut, Tim peneliti dari Universitas Surabaya ini merumuskan sebuah model diet media digital yang diperuntukan untuk anak sekolah dasar atau berada pada rentang generasi alpha.

Dalam penelitian dengan narasumber anak generasi alpha, orang tua/pengasuh, guru, pegiat literasi digital dan psikolog anak yang berada di Surabaya ini melihat penerapan penggunaan gawai sangatlah beragam. Ada orang tua yang memiliki aturan penggunaan gawai secara ketat, namun ada juga orangtua lebih santai ketika anak menggunakan gawai, ada anak yang memiliki gawai sendiri, namun sebagian anak lain menggunakan telepon seluler orang tuanya untuk berselancar di dunia maya. Dari lingkungan sekolah pun, ada sekolah yang tidak memperbolehkan anak didiknya yang masih bersekolah di sekolah dasar membawa HP kesekolah, namun beberapa sekolah membolehkan anak didiknya terutama yang duduk dikelas 5 dan 6 untuk membawa HP dan digunakan sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran tertentu.

Berita Terkait :  Usai Polres Gresik Ringkus Pelaku Curanmor, Senyum Haru Indrajit Saat Motor Kesayangan Ditemukan

Dengan intensifitas penggunaan gawai dalam kegiatan sehari-hari, membuat anak-anak generasi alpha cakap dalam menggunakan teknologi ini, seperti untuk mencari informasi di google, generate AI seperti ChatGPT atau Gemini, membuat presentasi dengan canva, mencari inspirasi gerakan tari untuk pelajaran seni, serta bermain game online. Bisa dikatakan dari sekedar mencari informas atau hiburan, generasi alpha sudah tidak asing dengan gawai yang terhubung internet. Namun, walaupun telah memiliki kemampuan dalam hal teknis, tidak semua anak memiliki kemampuan literasi digital yang memadai. Maka melihat kegelisahan tersebut Tim penelitian dari Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya tersebut, merumuskan sebuah model yang dapat dijadikan sebagai prototipe pendampingan pada anak generasi Alpha.

Alih-alih terlalu fokus dengan durasi, penelitian ini merumuskan sebuah model diet literasi digital yang diberi nama model FRAME, yang merupakan singkatan dari Focus, Responsible, Adaptive dan Media Enggangment untuk penguatan literasi digital generasi Alpha di Surabaya. Model ini tentu tidak bisa di generalisir menjadi resep tunggal untuk semua keluarga yang memiliki anak berusia gen alpha. Peneliti menyadari bahwa Kehidupan anak terlalu beragam untuk diselesaikan dengan model yang sama. Namun dengan berbagai faktor pendukung diet media digital dapat menjadi Solusi agar anak tidak kecanduan dalam menggunakan gawai. Yang dirumuskan sebagai berikut:

Dalam Model FRAME untuk Diet Media Digital yang diperuntukkan untuk gen alpha, pihak yang terlibat tidak hanya anak, namun juga kebiasaan bermedia dari orang tua maupun lingkungan terdekatnya juga sangat mempengaruhi kebiasaan bermedia digital anak. Demikian juga dengan lingkungan sekolah. Kebijakan penggunaan gawai di sekolah juga turut memberikan andil akan interaksi anak dengan media digital.

Berita Terkait :  Pemkot Batu Siapkan Regulasi Kebudayaan dan Dukung RUU BUMD

Model FRAME, yang terdiri dari empat elemen ini, merupakan model yang membangun pola penggunaan media digital yang sehat, sadar, dan seimbang pada Generasi Alpha. Elemen pertama yaitu Focus. Pada elemen ini, anak mampu mengatur waktu layar, menghindari distraksi, dan menjaga keseimbangan aktivitas digital maupun non-digital. Pada elemen kedua yaitu Responsible, dimana anak dapat menjaga privasi, memeriksa informasi, menghormati orang lain, serta memahami konsekuensi aktivitas digital. Sedangkan pada elemen ketiga yaitu Adaptive anak dapat menjadi fleksibel menghadapi perubahan, mampu belajar teknologi baru, serta mengenali risiko digital yang muncul. Sedangkan Media Engagement adalah kemampuan anak dalam memanfaatkan media untuk belajar, berkomunikasi, berkarya, dan membangun interaksi positif. Sehingga menjadi Generasi Alpha yang cerdas, tangguh, mandiri, dan bertanggung jawab dalam kehidupan digital.

Model FRAME tidak digunakan untuk memberi penilaian dengan skor angka, melainkan sebuah kerangka untuk memahami pengalaman dan pola penggunaan media digital. Dengan demikian, Model ini ditempatkan sebagai kerangka pendampingan diet media digital Generasi Alpha yang menekankan kualitas penggunaan media, bukan semata-mata terfokus pada durasi penggunaan. Hasil akhirnya diharapkan bukan anak yang menjauh dari media digital, melainkan anak yang mampu hidup berdampingan dengan teknologi secara sehat, sadar, bertanggung jawab, dan bermakna. Maka agar diet media digital in berhasil, maka langkah penerapannya dapat dirumuskan, yaitu: dengan membangun pemahaman bersama tentang penggunaan media digital, dimana anak, orang tua, dan guru perlu memahami bahwa penggunaan media digital tidak selalu harus dilarang. Fokusnya adalah membangun pola penggunaan yang sehat, aman, dan sesuai kebutuhan perkembangan anak.

Berita Terkait :  Tri Rismaharini, Sosok Ibu Pembangunan Kota Surabaya

Dalam model ini, orang tua juga perlu memetakan kebiasaan media anak. Identifikasi kapan anak menggunakan gawai, jenis konten yang diakses, tujuan penggunaan, situasi yang membuat anak sulit berhenti, serta pengaruhnya terhadap belajar, tidur, interaksi sosial, dan aktivitas fisik. Disinilah orang tua dapat menerapakan model diet media digital FRAME. Dan yang terpenting adalah orang tua harus membuat kesepakatan penggunaan media bersama anak. Aturan sebaiknya tidak seluruhnya bersifat satu arah. Anak perlu dilibatkan dalam menentukan waktu penggunaan, waktu tanpa gawai, jenis konten, serta konsekuensi jika kesepakatan tidak dijalankan. Pelibatan ini membantu membangun kesadaran dan regulasi diri. Tidak hanya memberikan aturan orang tua juga perlu memberi keteladanan dan pendampingan tentang perilaku digital yang sehat. Artinya orang tua pun tidak selalu menggunakan gawai setiap saat, dan menjelaskan tentang penggunaan gawai untuk kegiatan yang bermanfaat. Selain itu sekolah juga perlu membuat kesepakatan waktu dan pendampingan penggunaan gawai anak dan orangtua di luar jam sekolah.

Pendidikan literasi digital menjadi penting dimiliki anak generasi alpha namun keterlibatan bersama, konsistensi, keteladanan, dialog, dan kemampuan menyesuaikan aturan dengan perkembangan anak. Tujuan akhir dari model diet media digital FRAME bukan untuk membuat anak menjauhi media digital, melainkan membantu Generasi Alpha mampu mengelola media secara mandiri, kritis, aman, dan seimbang.

————- *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!