DPRD Jatim, Bhirawa – Komisi E DPRD Jawa Timur membedah tata kelola, pendanaan, hingga pembinaan atlet dalam pembahasan Raperda tentang Penyelenggaraan Keolahragaan dan Kepemudaan, Senin (14/9/2026).
Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari, mengatakan pembahasan keolahragaan sengaja dipisahkan dari kepemudaan agar lebih fokus. Pembahasan kepemudaan dijadwalkan dilanjutkan pada 21 September 2026.
Salah satu sorotan utama adalah kebutuhan anggaran untuk menghadapi ajang nasional seperti PON. Untari mengusulkan pembentukan dana cadangan olahraga yang disiapkan bertahap karena kebutuhan kontingen Jatim diperkirakan mencapai Rp150-200 miliar.
“Minimal antara Rp150 sampai Rp200 miliar karena dengan cabor yang banyak,” kata Untari.
Namun, dana cadangan tersebut belum bisa dimasukkan dalam Raperda dan membutuhkan Perda tersendiri. Komisi E berencana mendorong pembahasannya pada 2027.
Komisi E juga menyoroti tumpang tindih pengelolaan olahraga antara Dispora, KONI, KORMI dan NPCI. Menurut Untari, Dispora harus menjadi leading sector dengan pembagian fungsi dan target yang jelas.
Selain APBD, pembiayaan olahraga juga dinilai perlu diperkuat melalui skema creative financing, termasuk kerja sama dengan dunia usaha dan CSR.
Keberadaan SMA Negeri Olahraga (SMANOR) turut menjadi perhatian. Untari menilai perlu ada pemetaan kelembagaan karena siswa dituntut menjalani pendidikan formal sekaligus mengejar prestasi olahraga.
Anggota Komisi E DPRD Jatim, Puguh Pamungkas, menyebut kondisi tersebut membuat pembinaan atlet kurang optimal. Salah satu opsi yang muncul adalah menempatkan SMANOR di bawah Dispora atau memasukkannya dalam rumpun pendidikan khusus.
“Anak-anak dituntut untuk latihan olahraga, mereka juga dituntut memenuhi kualifikasi kurikulum SMA secara umum. Sehingga enggak fokus,” ujar Puguh.
Komisi E juga mendorong olahraga dikembangkan sebagai sektor ekonomi melalui industri olahraga dan sport tourism. Salah satu gagasannya adalah menyusun kalender olahraga tahunan Jatim agar agenda olahraga sekaligus menjadi daya tarik wisata. [geh*]


