Oleh :
Rindi Andini
Penulis adalah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember.
Beberapa waktu yang lalu masyarakat Indonesia dihebohkan dengan adanya aktivitas erupsi di 4 Gunung yang sedang aktif, gunung yang mengalami erupsi tersebut meliputi Gunung Semeru (Jawa Timur pada Minggu 6 September 2026), Gunung Anak Krakatau (Selat Sunda pada Jumat 4 September 2026), Gunung Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur pada 6 September 2026), dan Gunung Ibu (Maluku Utara pada 6 September 2026). Erupsi gunung tersebut menyebabkan banyak masyarakat Indonesia bertanya-tanya, apakah peristiwa erupsi gunung api itu saling memiliki keterkaitan antar gunung api satu dengan yang lainnya? Sehingga menyebabkan gunung api yang lain ikut beraktifitas mengeluarkan material di dalamnya. Masyarakat juga berspekulasi bahwa terjadinya erupsi pada Gunung Anak Krakatau akan memicu erupsi pada gunung lainnya, masyarakat banyak yang mempercayai pada “jalur pipa magma” atau juga disebut “jaringan bawah tanah” yang telah menghubungkan keempat gunung.
Fenomena gunung yang mengalami erupsi dalam waktu bersamaan tersebut membuat masyarakat menjadi panik, tetapi anggapan bahwa fenomena ini saling berhubungan, atau menjadi pertanda akan adanya bencana besar adalah spekulasi yang salah. Secara ilmiah peristiwa erupsi simultan tersebut tidak memiliki keterkaitan antar satu dengan yang lainnya, dikarenakan pada setiap gunung memiliki sistem vulkaniknya masing-masing. Setiap gunung berapi jika sudah mencapai kritis akumulasi tekanan gas dan magma pada saat yang bersamaan, maka akan menyebabkan erupsi tanpa harus memiliki keterkaitan antar gunung berapi lainnya.
Fenomena seperti ini sangat mungkin terjadi di Indonesia, dikarenakan kondisi posisi geografis Indonesia. Indonesia berada pada posisi ring of fire atau dinamakan dengan Cincin Api Pasifi, yang dimana merupakan zona dari 3 lempeng besar yaitu Indo Australia, Pasifik, serta Filipina yang saling bertumbukan dan menunjam di bawah lempeng Eurasia. Tekanan tektonik secara terus-menerus tersebut membuat magma dibawah bumi aktif dan mudah naik ke permukaan. Wilayah Indonesia terdiri dari 120 gunung api yang aktif, oleh karena itu sangat mungkin jika dalam waktu yang berdekatan beberapa gunung menunjukkan peningkatan aktivitasnya masing-masing. Kondisi erupsi gunung berapi secara simultan tersebut adalah suatu realita yang biasa terjadi bagi wilayah yang berada diatas cincin api, karena posisi ring of fire tersebut lah kondisi serupa bisa saja terjadi lagi di masa depan.
Penjelasan secara ilmiah mengenai peristiwa tersebut telah disampaikan oleh Badan Geologi dan juga para ahli, tetapi respon masyarakat menunjukkan respon yang sama yaitu mudah panik dan cepat berspekulasi. Hal tersebut disebabkan literasi dan kampanye kebencanaan masih rendah dan kurang maksimal di wilayah Indonesia. Masyarakat lebih mudah terpengaruh berita yang hoax dari pada mencari informasi resmi dari sumber yang terpercaya.Fokus utama pada saat ini adalah bagaimana kita menyikapi suatu realita hidup di negara yang memiliki banyak gunung berapi, Indonesia tidak bisa menolak fakta bahwa berada pada ring of fire, yang dimana terjadinya erupsi, gempa, dan ancaman lahar akan terus meliputi wilayah Indonesia. Hal yang paling penting adalah kesadaran akan memahami karakteristik masing-masing gunung berapi, mematuhi rekomendasi radius aman, dan mengecek kebenaran suatu informasi sebelum di bagikan. Tanpa adanya perubahan sikap tersebut, maka setiap kali beberapa gunung mengalami erupsi maka kita akan terjebak pada siklus panik yang berulang.
Untuk menyikapi kenyataanbahwaposisi Indonesia yang berada pada wilayah ring of fire dibutuhkan beberapa langkah-langkah yang harus dilaksanakan olehseluruh masyarakat Indonesia. Langkah pertama adalah masyarakat harus senantiasa terbiasa untukmencari informasi kebencanaan secara resmi dan terbukti kebenarannya. Masyarakat bisa merujuk kepada sumber valid seperti Magma ESDM, Badan Geologi, BMKG, serta BPBD. Dengan demikian spekulasi tentang “jalur magma saling terhubung” kemudian tentang ancaman terjadinya tsunami akan semakin tidak beredar luas di masyarakat dikarenakan hal tersebut tidak valid kebenarannya. Kedua literasi mengenai kebencanaan harus digencarkan pelaksanannya baik melalui pemerintah ataupun masyarakat. Edukasi tersebut tidak hanya pada saat terjadinya erupsi gunung berapi, tetapi harus dilaksanakan secara rutin bagi masyarakat Indonesia terutama pada daerah yang rawan bencana. Selain itu diperlukan integrasi antar lemabaga di Indonesia seperti sekolah, komunitas, dan pemerintah perlu lebih aktif dalam menyampaikan pengetahuan mendasar mengenai gunung api, mematuhi radius aman, serta cara menyikapi hujan abu dan ancaman lahar. Semakin tinggi tingkat pemahaman masyarakat maka akan berkurang tingkat kepanikan yang dialami masyarakat ketika menghadapi bencana, dan masyarakat akan mengetahui langkah apa yang sebaiknya diambil ketika terjadi bencana.
Ketiga, ketika kita masyarakat Indonesia hidup di negara yang posisinya ring of fire harus memiliki kesadaran kolektif mengenai kebencanaan. Dengan memahami bahwa terjadinya erupsi simultan adalah bagian dari dinamika alam yang sangat mungkin terjadi di wilayah ring of fire, oleh karena itu masyarakat diharapkan lebih siap secara mental dan praktis. Tindakan waspada tetap diperlukan ketika menghadapi suatu bencana, tetapi rasa panik dan takut secara berlebihan justru bisa mengaburkan langkah-langkah mitigasi yang sebaiknya dilakukan. Tindakan kesiapan dan pemahaman yang mendalam jauh lebih berharga daripada sekedar perasaan panik akibat aktivitas gunung berapi.
Kondisi erupsi 4 gunung secara bersamaan adalah suatu kenyataan bahwa posisi Indonesia berada di wilayah ring of fire. Kita menempati zona yang dinamis yang dimana lempeng bumi terus bergerak dan beraktivitas mengeluarkan magma didalamnya. Fenomena ini bukan untuk ditakuti secara berlebihan apa lagi berspekulasi yang tidak benar, tetapi hendaknya dijadikan langkah untuk mempelajari secara mendalam mengenai pengetahuan kebencanaan. Selama kita menempati wilayah ring of fire maka terjadinya erupsi gunung berapi baik yang terjadi secara tunggal ataupun bersamaan akan sangat mungkin terjadi di kemudian hari. Pembedanya adalah bagaimana respon masyarakat kita menghadapi peristiwa tersebut, jika literasi mengenai kebencanaan terus diperkuat, masyarakat mencari informasi yang valid sebelum menyebarluaskannya, serta adanya kesadaran kolektif mengenai posisi wilayah kita, maka setiap kali gunung berapi beraktifitas kita tidak akan mudah panik dalam menghadapinya. Hal tersebut justru membuat kita semakin waspada dan mampu beradaptasi hidup berdampingan dengan alam yang dinamis tersebut.
———– *** ————-


