Pemkot Probolinggo, Bhirawa. – Keterbatasan kapasitas menjadi salah satu persoalan yang dihadapi Panti Tresna Wreda Muhammadiyah Kota Probolinggo dalam melayani Lanjut Usia (Lansia). Kini panti ini menampung 17 penghuni, sementara permintaan masyarakat untuk menitipkan anggota keluarga lanjut usia masih cukup tinggi.
Kepala Panti Tresna Wreda Muhammadiyah Kota Probolinggo, Ratna mengatakan, kondisi ini membuat tidak semua Lansia yang membutuhkan layanan dapat langsung diterima. Selain persoalan ruang, panti juga menghadapi tantangan dalam mendampingi penghuni yang mengalami demensia.
”Yang menjadi tantangan ketika ada Lansia yang demensia, pendampingannya memang membutuhkan perhatian lebih,” kata Ratna saat menerima kunjungan Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin, Selasa (8/9).
Menurut Ratna, sejumlah bagian bangunan panti juga membutuhkan rehabilitasi. Pihaknya berharap ada dukungan untuk memperbaiki kondisi fisik bangunan sekaligus menambah ruangan agar kapasitas pelayanan dapat ditingkatkan.
Persoalan ini menjadi perhatian dalam kunjungan Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin ke panti. Aminuddin mengatakan pemerintah akan melihat kemungkinan dukungan terhadap kebutuhan rehabilitasi bangunan maupun pengembangan fasilitas panti.
Selain dukungan pemerintah, ia membuka kemungkinan keterlibatan organisasi masyarakat dan lembaga lain untuk membantu kebutuhan penghuni, terutama karena sebagian besar Lansia di panti mendapatkan pelayanan tanpa biaya.
”Kalau ada program, nanti kita lihat untuk rehabilitasi fisik. Bisa juga dari Muhammadiyah dan Baznas membantu, terutama kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Dalam kunjungan ini, persoalan kesehatan penghuni juga sempat dibicarakan. Salah seorang lansia, Suwati, kelahiran 1952, mengeluhkan penggunaan sejumlah obat yang dikonsumsinya selama beberapa tahun. Ia diketahui memiliki riwayat diabetes, tekanan darah tinggi dan keluhan nyeri.
Suwati mengaku sempat mengurangi sendiri konsumsi obat diabetes dan obat antinyeri karena khawatir penggunaan dalam jangka panjang menimbulkan dampak lain. Namun, ketika obat diabetes tidak dikonsumsi, kadar gula darahnya kembali meningkat.
Aminuddin yang berlatar belakang dokter mengingatkan agar perubahan atau penghentian obat tidak dilakukan sendiri. Menurut dia, penggunaan obat untuk penyakit kronis tetap perlu mengikuti petunjuk tenaga medis.
”Jangan langsung dihentikan. Kalau mau dikurangi, pelan-pelan,” katanya.
Aminuddin juga menyoroti penggunaan obat antinyeri pada Lansia. Keluhan nyeri memang cukup sering dialami pada usia lanjut, namun konsumsi obat itu menurutnya tetap perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan kondisi pasien. [fir.fen]


