27 C
Sidoarjo
Sunday, September 6, 2026
spot_img

Double Track Ponorogo Catat Transaksi Rp161,1 Juta


Ponorogo, Bhirawa – Program SMA Double Track di Kabupaten Ponorogo mencatat nilai transaksi sebesar Rp161,1 juta. Capaian tersebut terealisasi 75,79 persen dari target Rp214,7 juta.

Selain capaian transaksi, program yang dikembangkan Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut juga menunjukkan dampak terhadap alumni. Dari 4.289 alumni Double Track di Ponorogo, sebanyak 1.824 orang atau 42,47 persen tercatat telah bekerja. Sementara 366 alumni lainnya memilih berwirausaha.

Data tersebut terungkap dalam monitoring dan evaluasi (monev) program SMA Double Track yang digelar Dindik Jatim bersama ITS di Kabupaten Ponorogo, Kamis (3/9).

Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai mengatakan, capaian tersebut menjadi salah satu indikator untuk melihat keberlanjutan program Double Track. Menurutnya, evaluasi tidak cukup hanya melihat angka transaksi, tetapi juga harus mengukur sejauh mana keterampilan yang diperoleh siswa berdampak setelah mereka lulus.

“Monev ini kita lakukan untuk mengukur perkembangan program, mulai dari penguasaan keterampilan siswa, pengembangan produk dan jasa, transaksi, hingga perkembangan usaha setelah program berjalan,” ujar Aries, Jumat (4/9).

Di Ponorogo, program Double Track dilaksanakan di 10 SMA dengan 22 rombel kelompok pembelajaran. Program tersebut melibatkan 631 murid aktif dan 109 Kelompok Usaha Siswa (KUS).

Meski nilai transaksi belum mencapai target, Aries meminta sekolah tidak menjadikan angka transaksi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Ia mendorong kepala sekolah, guru atau trainer, serta siswa untuk mampu membaca peluang dan mengembangkan potensi pasar. “Target kita bukan sekadar tentang angka transaksi. Melainkan membangun ekosistem usaha siswa yang sehat dan berkelanjutan,” tegas mantan Pj Wali Kota Batu tersebut.

Berita Terkait :  Ikuti Kebijakan Menteri Imipas, Rutan Situbondo Sigap Gelar Tes Urin WBP

Menurut Aries, SMA Double Track dirancang untuk membekali siswa dengan keterampilan praktis dan jiwa kewirausahaan. Bekal tersebut diharapkan menjadi modal bagi lulusan yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha secara mandiri.

Karena itu, siswa tidak hanya diarahkan menguasai keterampilan, tetapi juga mengembangkan produk atau jasa, melakukan pemasaran dan penjualan, serta membangun kemandirian pendapatan.

Aries menekankan penerapan konsep 5P dalam pengembangan usaha siswa, yakni pelajari, produksi, pasarkan, pelanggankan, dan perbesar. “Jangan berhenti ketika murid hanya membuat produk. Dorong untuk menciptakan karya yang bernilai, berani memasarkannya, mampu membuat orang percaya dan membeli, serta terus mengembangkan menjadi peluang nyata,” tegasnya.

Dalam monev tahun ini, Dindik Jatim dan ITS juga memperkuat forum focus group discussion (FGD) bersama sekolah. Forum tersebut menjadi ruang bagi sekolah untuk menyampaikan praktik baik, perkembangan program, sekaligus kendala yang dihadapi.

Alumni yang telah mengembangkan usaha juga dihadirkan untuk berbagi pengalaman mengenai dampak keterampilan Double Track terhadap usaha yang mereka rintis.

Aries mengatakan, pola monev tersebut dibuat lebih implementatif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan tidak hanya berorientasi pada capaian administrasi, tetapi diarahkan untuk menemukan persoalan di lapangan sekaligus merumuskan langkah perbaikan.

“Lewat FGD ini, sekolah bisa menyampaikan praktik baik, tantangan dan kendala yang dihadapi. Kita juga menghadirkan alumni untuk melihat sejauh mana Double Track memberikan dampak terhadap usaha yang mereka rintis,” katanya.

Berita Terkait :  Khofifah Takziyah ke Rumah Duka Keluarga Daris di Situbondo

Salah satu tantangan yang masih dihadapi sekolah adalah keterbatasan modal dan bahan praktik. Selain itu, terdapat persoalan sarana dan rasio peralatan praktik serta pemasaran digital yang belum optimal.

Menurut Aries, sejumlah produk siswa sebenarnya memiliki kualitas yang baik, namun belum didukung branding, kemasan, katalog dan strategi pemasaran yang kuat.

Karena itu, sekolah didorong memiliki satu hingga tiga produk unggulan, mengembangkan sistem repeat order, memanfaatkan konten digital, serta membangun kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Untuk memperluas pasar, Dindik Jatim mendorong sekolah mengembangkan tiga lapis pasar, yakni pasar internal sekolah, pasar lokal Ponorogo dan pasar digital. “Pasar digital harus membuat semua sekolah memiliki etalase yang sama luasnya,” ujar Aries.

Ia juga meminta kepala sekolah, guru atau trainer dan DUDI memainkan peran lebih aktif. Kepala sekolah diarahkan berperan sebagai CEO, guru atau trainer menjadi mentor sekaligus market connector, sedangkan DUDI menjadi mitra dalam penyelarasan keterampilan, magang, fasilitas, bahan, akses pasar hingga peluang bagi lulusan.

Untuk memastikan program berjalan terukur, Dindik Jatim menetapkan enam indikator kinerja utama (KPI), yakni kompetensi, unggulan, pasar, transaksi, kemitraan dan alumni.

Aries berharap hasil monev dapat segera ditindaklanjuti oleh masing-masing sekolah. Menurutnya, keberhasilan Double Track tidak berhenti pada keterampilan yang dikuasai siswa, tetapi harus terlihat dari kemampuan menghasilkan produk atau jasa yang memiliki pasar dan berkembang setelah siswa lulus.

Berita Terkait :  Dinkes Jatim Wujudkan Percepatan Penurunan AKI/AKB dan Stunting di Jawa Timur

“Kami berharap setelah monev ini ada perbaikan nyata. Sekolah harus semakin mampu membaca kebutuhan pasar, memperkuat produk unggulan, membangun kemitraan dan memanfaatkan pemasaran digital. Yang paling penting, keterampilan yang diperoleh siswa bisa menjadi bekal untuk bekerja maupun menciptakan usaha secara mandiri,” harapnya.

Sebagai informasi, di Ponorogo, program Double Track dilaksanakan di 10 sekolah dengan 22 rombel kelompok pembelajaran. Kesepuluh sekolah tersebut yakni SMAN 1 Sambit, SMAN 1 Badegan, SMAN 1 Slahung, SMAN 1 Jenangan, SMAN 1 Kauman, SMAN 1 Ngrayun, SMAN 1 Jetis, SMAN 1 Bungkal, SMAN 1 Balong dan SMAN 1 Sampung. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!