27 C
Sidoarjo
Sunday, September 6, 2026
spot_img

Sambil Menikmati Keindahan, Ratusan Pelari Ikuti Marathon Internasional di Jalur Rimba Bromo


Pasuruan, Bhirawa – Udara dingin pegunungan menyengat kulit di depan Plataran Bromo, Kabupaten Pasuruan, Minggu (6/9) pagi. Tepat pukul 06.00 WIB, terompet pelepasan berbunyi. Ratusan pelari kategori full marathon (42 km) melesat maju, membelah kabut tipis dan memulai petualangan yang tak biasa di kaki Gunung Bromo.

Tiga puluh menit kemudian, gelombang peserta kategori 21 km (half marathon), 10 km, 5 km, hingga kids category menyusul langkah mereka. Secara keseluruhan, tak kurang dari 3.000 pelari dari 26 negara memadati garis awal Bromo Marathon 2026.

Gelaran ke-13 Bromo Marathon itu menghadirkan pengalaman baru bagi para pecinta olahraga ekstrem. Jika pada edisi-edisi sebelumnya lintasan didominasi jalan beraspal mulus, kali ini panitia merombak konsep acara menjadi lebih menantang, yakni trail run.

Para pelari tak lagi sekadar berlomba memburu waktu, melainkan diajak menjelajahi sisi lain keindahan alam Bromo dengan cara yang lebih memacu adrenalin.

Tidak ada lagi lintasan aspal yang nyaman. Sebagai gantinya, tapak-tapak sepatu melintasi jalanan tanah, tumpukan bebatuan, rintangan akar pohon, hingga jalur berlumpur dan rindangnya pepohonan kebun serta hutan warga.

Tanjakan curam dan turunan tajam menjadi ujian fisik yang menguras stamina, memaksa pelari tak sekadar mengandalkan kecepatan di jalur datar, melainkan ketahanan fisik, teknik navigasi, serta keteguhan mental.

“Yang juara memang yang finish terdepan. Tapi Bromo Marathon tahun ini lebih menantang karena konsepnya trail run. Peserta tidak hanya lari di atas jalan beraspal, tapi sekarang masuk ke kebun dan hutan,” ujar Founder Bromo Marathon, Dedy Kurniawan.

Berita Terkait :  Atlet Binaraga Kabupaten Malang Konsumsi Ayam Tiren Jadi Juara Umum di Porprov Jatim.

Perubahan konsep tersebut memberikan sudut pandang baru dalam menikmati lanskap Bromo. Meski panorama klasik Bromo sempat terpengaruh proses pemulihan vegetasi (recovery) pascakabakaran hutan dan lahan (karhutla) beberapa waktu lalu, setiap lekuk jalur alternatif yang dilalui peserta tetap menyuguhkan lanskap alam yang memukau.

Perbukitan hijau, lembah sunyi, hingga kehangatan suasana pedesaan menjadi ganjaran bagi setetes demi setetes keringat para pelari. Riuh semangat tidak hanya datang dari para pelari. Di sepanjang pinggir jalan desa dan pematang kebun, warga lokal berkumpul memberi semangat.

Tepuk tangan dan sorak-sorai anak-anak desa menyambut setiap pelari yang melintas, menciptakan kehangatan tersendiri di tengah dinginnya udara pegunungan.

Bagi warga sekitar, Bromo Marathon bukan sekadar panggung olahraga bagi para pendatang, melainkan pesta rakyat yang meniupkan angin segar bagi perekonomian desa. Penginapan, homestay, warung makan, hingga penyedia jasa transportasi jip dan pengangkut barang panen warga ketiban rezeki sejak beberapa hari menjelang acara.

“Senang sekali desa kami jadi ramai. Dari pekan lalu homestay dan kamar-kamar rumah warga sudah habis dipesan pelari. Warung makan dan jualan hasil kebun warga juga makin laris manis. Harapannya acara seperti ini terus ada tiap tahun,” urai Sutrisno, salah satu warga lokal yang ditemui di pinggir rute lari.

Geliat ekonomi ini juga ditegaskan oleh Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Wakil Bupati Pasuruan, HM Shobih Asrori yang akrab disapa Gus Shobih secara resmi melepas para peserta dan menekankan pentingnya kawasan pariwisata berbasis olahraga (sport tourism) bagi kesejahteraan warga.

Berita Terkait :  Tiga Mahasiswa PENS Surabaya Ukir Prestasi di Worldskills ASEAN 2025

“Kami Pemkab Pasuruan berharap melalui pelaksanaan Bromo Marathon ini, volume kunjungan wisatawan mancanegara ke Bromo via jalur Kabupaten Pasuruan dapat terus meningkat,” tutur Gus Shobih.

Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk Bank Jatim sebagai sponsor utama yang dinilainya konsisten mendorong kebangkitan pariwisata dan UMKM daerah. Di tengah beratnya rintangan alam dan tantangan fisik lintasan trail run, Bromo Marathon 2026 juga menghadirkan kisah inspiratif tentang batas kemampuan manusia.

Adalah Anggi Wahyuda, seorang pelari difabel asal Medan, Sumatra Utara, yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menaklukkan jalur ekstrem. Turut bersaing di kategori 5 km, Anggi berhasil menuntaskan seluruh rute dengan senyum penuh rasa syukur di garis finish.

“Saya sangatlah berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah ‘mengambil’ kaki saya. Saya percaya, apa yang terjadi adalah yang terbaik, yang penting kita ikhlas dan bersabar. Sebab saya percaya, batas kemampuan manusia itu bukan terletak pada fisiknya, melainkan pada kemauannya,” kata Anggi.

Langkah kaki ribuan pelari dari berbagai penjuru dunia di Bromo Marathon 2026 menegaskan satu hal. Yaitu, Bromo tak pernah kehabisan cara untuk memikat pancaindra. Lewat olahraga ekstrem, pesona keindahan alam dan ketangguhan jiwa manusia menyatu di tanah pegunungan yang megah ini. [hil.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!