Oleh:
Dr. Eko Setiawan
Peminat Studi Teknologi dan Budaya Digital, Doktor Ilmu Sosial Universitas Airlangga Surabaya
Setiap Agustus kita kembali merayakan kemerdekaan dengan upacara, pengibaran bendera, lomba-lomba, dan berbagai refleksi tentang arti menjadi bangsa yang merdeka. Kita mengingat bagaimana para pendiri bangsa memperjuangkan kebebasan dari kekuasaan yang menentukan hidup kita.
Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin belum cukup sering kita ajukan: di tengah kehidupan digital hari ini, apakah kita benar-benar sudah merdeka dalam menentukan apa yang kita lihat, baca, pikirkan, dan percayai?Pertanyaan ini penting karena kekuasaan hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk negara, tentara, atau aparat. Ia bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus: algoritma.
Kita membuka ponsel dan merasa bebas memilih. Kita menggeser layar, memilih video, membaca berita, mengikuti akun, memberi tanda suka, atau menikmati mini drama favorit. Tetapi di balik layar, ada sistem yang terus belajar tentang diri kita: apa yang kita sukai, berapa lama kita berhenti pada sebuah video, siapa yang kita ikuti, apa yang kita cari, bahkan konten seperti apa yang membuat kita kembali lagi. Semua ditentukan algoritma media sosial. Ia menyajikan sesuatu yang dianggap paling mungkin menarik perhatian kita.
Di sinilah persoalannya.Kita merasa sedang memilih, padahal pilihan kita juga sedang dipilihkan. Fenomena ini adalah tantangan yang kita hadapi hari ini. Laporan Digital News Report 2026 dari Reuters Institute menunjukkan bahwa 64 persen responden Indonesia menjadikan media sosial sebagai sumber utama berita. Secara global, untuk pertama kalinya media sosial dan jaringan video menjadi cara paling populer untuk mengakses berita.Indonesia Creator Marketing Report2026 yang dirilis IDN Research Institute mencatat 60% Generasi Z menemukan informasi dari kreator konten di media sosial bukan lagi di mesin pencari atau laman tertentu. Mereka tidak lagi searching melainkan scrolling. Artinya, semakin banyak orang tidak lagi datang langsung kepada media untuk mencari berita. Berita datang kepada kita melalui platform.
Perubahan ini tentu membawa banyak manfaat. Informasi menjadi lebih cepat, murah, dan mudah diakses. Siapa pun dapat menjadi produsen informasi. Suara yang dahulu sulit mendapatkan ruang kini bisa memperoleh perhatian jutaan orang.Tetapi ada konsekuensi yang tidak boleh diabaikan.Ketika informasi yang kita konsumsi semakin ditentukan oleh sistem rekomendasi, ruang publik kita berpotensi berubah menjadi kumpulan ruang-ruang pribadi yang berbeda. Dua orang yang hidup di kota yang sama, menghadapi persoalan sosial yang sama, bahkan tinggal dalam lingkungan yang sama, dapat menerima realitas digital yang sangat berbeda.Keduanya kemudian merasa bahwa apa yang muncul di layar mereka adalah gambaran dunia yang sebenarnya.Padahal, itu hanyalah dunia yang telah disaring.Inilah yang membuat persoalan algoritma lebih serius daripada sekadar persoalan teknologi. Ia menyentuh cara kita membentuk pengetahuan dan memahami kenyataan.
Kita sering membicarakan literasi digital sebagai kemampuan membedakan berita benar dan hoaks. Itu penting, tetapi mungkin tidak lagi cukup.Literasi digital generasi berikutnya harus mengajarkan satu hal yang lebih mendasar: memahami bagaimana informasi sampai kepada kita.
Mengapa video ini muncul? Mengapa berita itu direkomendasikan? Mengapa setelah menonton satu konten, kita kemudian menerima puluhan konten yang serupa? Mengapa kita merasa semua orang berpikir seperti kita?
Jawabannya tidak selalu karena semua orang memang berpikir demikian. Bisa jadi karena algoritma telah membangun lingkungan informasi yang membuat kita jarang bertemu dengan pandangan berbeda.Kita kemudian masuk ke dalam filter bubble tanpa merasa sedang berada di dalam gelembung.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika mekanisme tersebut bertemu dengan ekonomi atensi. Konten yang paling bernilai bagi platform bukan selalu konten yang paling benar, paling mendidik, atau paling bermanfaat. Sering kali yang paling berharga adalah konten yang membuat kita berhentiscrolling.
Kemarahan dan ketakutan menarik perhatian. Kontroversi dan sensasi melahirkan atensi. Akibatnya, ruang digital memberi insentif lebih besar kepada konten yang memancing emosi daripada konten yang mengajak berpikir. Konten yang mengarah pada afektif jauh lebih diminati dari pada konten berbasis kogntif.
Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar apakah kita kecanduan gawai. Persoalannya adalah apakah kedaulatan atas perhatian kita masih berada di tangan kita.Kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya tentang bebas dari siapa yang menjajah kita. Kemerdekaan juga tentang kemampuan menentukan apa yang layak mendapatkan perhatian kita. Karena perhatian adalah sumber daya. Siapa yang bisa menarik atensi publik, dia punya peluang mendapatkan benefit dari ekonomi atensi sekaligus membentuk opini.
Pada saat kapan kita berhenti menggulirkan layar, pada saat itulah pengetahuan kita akan suatu hal terbentuk. Berikutnya, apa yang kita ketahui memengaruhi apa yang kita yakini. Apa yang kita yakini pada akhirnya memengaruhi bagaimana kita bertindak sebagai warga negara.Karena itu, perjuangan kemerdekaan di era digital mungkin memiliki bentuk yang berbeda.
Kita tidak perlu memusuhi teknologi. Kita juga tidak perlu meninggalkan media sosial. Yang kita perlukan adalah membangun hubungan yang lebih sadar dengan teknologi.Sesekali kita perlu keluar dari rekomendasi algoritma dan mencari informasi secara sengaja. Membaca media yang berbeda. Mendengarkan pendapat yang tidak kita sukai. Memeriksa sumber asli. Atau tidak langsung membagikan sesuatu hanya karena sesuai dengan keyakinan kita.
Kita juga perlu menuntut platform lebih transparan tentang bagaimana sistem rekomendasi dalam algoritma media sosial bekerja dan bagaimana data pengguna digunakan.Pemerintah, sekolah, keluarga, media, dan masyarakat sipil memiliki pekerjaan yang sama pentingnya: membangun warga digital yang tidak sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi mampu mengendalikan hubungan dirinya dengan teknologi.Sebab ancaman terbesar dari algoritma bukanlah bahwa ia akan menggantikan manusia.Ancaman yang lebih halus adalah ketika manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk menentukan sendiri apa yang ingin dilihat, dipikirkan, dan dipercayainya.
Di usia kemerdekaan kita yang ke-81, mungkin sudah waktunya memperluas makna merdeka.Merdeka bukan hanya bebas berbicara.Merdeka juga berarti bebas menentukan apa yang kita dengarkan.Bukan hanya bebas memilih.Tetapi memahami siapa dan apa yang sedang membentuk pilihan kita.Dan bukan hanya bebas menggunakan teknologi.Tetapi tetap menjadi manusia yang memegang kendali atas perhatian, pikiran, dan keputusan kita sendiri.
Sebab pada akhirnya, bangsa yang merdeka bukan bangsa yang hidup tanpa algoritma.Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang tidak menyerahkan pikirannya kepada algoritma. Merdeka!
————- *** ————–



