Surabaya, Bhirawa – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jatim menerima kunjungan kerja dari pimpinan dan anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Papua Barat (DPRPB) di kantor Bakesbangpol Jatim.
Pertemuan kedua belah pihak saling berbagi pandangan mengenai cara-cara efektif dalam mempertahankan kondusivitas politik dan keamanan, sekaligus memitigasi kerawanan sosial yang telah berhasil diimplementasikan oleh Pemprov Jatim. Rabu, (12/8/2026)
Kepala Bakesbangpol Jatim Eddy Supriyanto mengatakan berbagai indikator capaian dan tantangan real penegakan kondusivitas wilayah, salah satunya terkait pengetatan regulasi dan pengawasan peredaran zat adiktif berbahaya seperti vape di kalangan generasi muda.
“Langkah penertiban dilakukan secara masif berkoordinasi dengan Badan POM RI guna mencegah penyalahgunaan rokok elektrik yang dioplos dengan zat ekstrem seperti nitrogen, uap bensin, hingga narkotika kelas A (kecubung dan jamur kotoran sapi) yang kerap menyasar lingkungan sekolah,” jelasnya.
Salah satu materi krusial yang menjadi bahan diskusi hangat adalah penataan organisasi kemasyarakatan (ormas), Eddy membeberkan dari data total nasional, terdapat 1.400 ormas di Jatim yang tertib melaporkan keberadaannya, tapi terdapat disparitas besar karena ada sekitar 118.000 ormas yang belum melakukan pelaporan balik.
Di sisi lain, Eddy mengukapkan juga merangkul dan menjaga para pelajar serta mahasiswa asal Papua yang menempuh studi di Jawa Timur. Pemerintah memfasilitasi akses beasiswa perguruan tinggi negeri melalui program ADik, hingga membuka ruang interaksi positif lewat kompetisi olahraga seperti turnamen futsal antarkampus demi mempererat tali persaudaraan.
“Sinergitas ini diperkuat melalui optimalisasi Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Jatim yang aktif mewadahi seluruh perwakilan suku bangsa di Indonesia guna meredam potensi gesekan sosial di masyarakat,” tuturnya.

Wakil Ketua I DPRPB, Petrus Makborn menyampaikan pentingnya kerja sama dalam menyamakan persepsi di tengah masyarakat, mengingat para mahasiswa datang dengan latar belakang karakter dan budaya yang berbeda, pola penanganan dan pembimbingan dari pemerintah daerah setempat dinilai sangat krusial agar tidak muncul sentimen negatif.
“Pola dengan kita di Papua itu hampir sama, kami paham betul pergerakannya, Namun, Jatim bisa seberani itu membuat regulasi untuk memberikan proteksi, ketika mereka insaf, mereka tidak dikerdilkan tetapi justru dirangkul,” pungkasnya.
Petrus Makborn berpesan bahwa menitip para mahasiswa asal Papua Barat kepada Bakesbangpol Jatim, berharap komunikasi lintas daerah terus dibangun apabila muncul persoalan dalam proses adaptasi maupun pergaulan mahasiswa di tengah lingkungan masyarakat Jawa Timur.
“Kami menitipkan anak-anak dan adik-adik mahasiswa kami yang ada di Jawa Timur, jika ada hal-hal yang kurang dari pola pergaulan mereka, kami berharap kita bisa saling berkomunikasi untuk mencari jalan keluar terbaik,” pesanya.
Beliau menambahkan akan terus memperkuat koordinasi, khususnya dalam menjaga keamanan dan kenyamanan mahasiswa Papua di Jatim serta memperluas ruang pembauran masyarakat, sinergi antardaerah dinilai penting supaya keberagaman latar belakang budaya justru menjadi kekuatan dalam memperkokoh persatuan nasional. [ren]


