28.1 C
Sidoarjo
Tuesday, August 11, 2026
spot_img

Pangkas Waktu Water Bombing hingga Usul Kajian Air Ranu Kumbolo, Strategi Taktis Jinakkan Karhutla Bromo

Kab. Probolinggo, Bhirawa – Operasi water bombing terus dioptimalkan untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Strategi operasi disesuaikan dengan kondisi cuaca dan medan yang menjadi kendala utama pemadaman.

Sekda Jawa Timur Adhy Karyono mengatakan, pola operasi water bombing telah dievaluasi agar penggunaan helikopter lebih efektif. Dua helikopter kecil ditempatkan dengan sistem pengisian bahan bakar di Ranu Pani sehingga waktu tempuh menuju lokasi kebakaran dapat dipangkas.

Sebelumnya, pengisian bahan bakar dilakukan di Lanud Abdulrachman Saleh. Kondisi tersebut membuat waktu operasi menjadi kurang efektif ketika helikopter harus kembali ke pangkalan.

“Perbedaannya adalah helikopter standby di Pasuruan, refuel-nya di Pasuruan, sehingga efektif. Kemarin kami merubah setelah melihat dua helikopter ini kurang, apalagi dengan base off-nya ada di Lanud, ada kendala perjalanan,” ujarnya.

Adhy mengatakan, water bombing tetap dibutuhkan karena kebakaran di kawasan Bromo dapat merembet dan menyisakan bara yang kembali memicu api, terutama pada malam hari.

“Walaupun sudah kering, ternyata percikan itu muncul lagi, bara, api lagi,” katanya.

Namun, operasi udara juga menghadapi kendala kabut tebal yang membatasi jarak pandang pilot. Komandan Sektor Penanganan Karhutla TNBTS sekaligus Danrem 083/Bdj Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan mengatakan, kondisi tersebut membuat penggunaan helikopter disesuaikan dengan keamanan dan kondisi visual di lapangan. Dari sebelumnya tiga unit, dua helikopter dioperasikan untuk water bombing pada Selasa (11/8/2026).

Berita Terkait :  Bupati Madiun dan OJK Ingatkan Pentingnya Menabung Sejak Dini

Selain operasi udara, pemerintah daerah juga diminta memperkuat ketersediaan sumber air. Inventarisasi sumber air hingga rencana pembangunan sumur bor di lokasi rawan menjadi bagian dari langkah antisipasi.

Bupati Probolinggo Gus Haris mengatakan, terdapat potensi sumber air di bawah kawasan Ranu Kumbolo yang dapat dikembangkan. Debit air di lokasi tersebut dinilai cukup besar dan secara elevasi memungkinkan dimanfaatkan.

Namun, pengembangan sumber tersebut masih membutuhkan kajian teknis atau feasibility study (FS). Pemkab Probolinggo telah mengajukan rencana tersebut kepada Kementerian Pekerjaan Umum.

“Debit air ini sifatnya dia tekanan tanpa harus kita sedot. Kalau kita lihat elevasinya, insyaAllah masih bisa, cuma memang agak panjang,” ujarnya.

Menurut Gus Haris, ketersediaan sumber air menjadi kebutuhan penting bagi kawasan Bromo. Saat ini, masyarakat bahkan harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mitigasi jangka panjang juga dinilai penting karena kebakaran di Bromo bukan persoalan baru. Gus Haris menyebut kawasan tersebut pernah mengalami kebakaran hampir setiap tahun, bahkan ketika kondisi El Nino tidak seperti saat ini.

Karena itu, ia mendorong penyusunan peta risiko berdasarkan pola kebakaran selama bertahun-tahun. Pemetaan tersebut dapat digunakan untuk menentukan kawasan rawan berdasarkan kondisi medan dan tingkat kerentanannya.

Sistem peringatan dini juga perlu diperkuat dengan melibatkan masyarakat dan komunitas lokal. Salah satunya melalui keberadaan ranger masyarakat atau komunitas Jaga Gunung yang selama ini berada dekat dengan kawasan rawan.

Berita Terkait :  Tes Kesehatan Jiwa dan Psikologi ASN Pemkot Kediri, Wali Kota Vinanda: Bentuk Kepedulian Pemerintah

“Kita punya ranger masyarakat itu. Masyarakat ini kan yang selalu melihat secara langsung. Ini ada ranger sebenarnya, ada Jaga Gunung namanya di sini,” katanya.

Pembuatan firebreak atau sekat bakar juga diusulkan untuk menghambat rambatan api. Kawasan tertentu yang rawan dapat dibersihkan dari material mudah terbakar sehingga penyebaran api dapat ditekan.

Selain kawasan hutan, pemerintah pusat mengingatkan daerah agar mewaspadai potensi kebakaran di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Kondisi kemarau dan kekeringan meningkatkan risiko kebakaran yang dapat berlangsung lama serta menghasilkan asap hingga kawasan permukiman.

Penanganan pascabencana juga perlu disiapkan. Adhy Karyono mengatakan kebakaran dapat berdampak terhadap infrastruktur dan aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk sektor pariwisata.

“Kalau Bromo ini enggak selesai, dampaknya luar biasa. Bagaimana jip-jip berhenti, warung, homestay, itu ekonomi jelas sangat terganggu,” ujarnya.

Karena itu, pemulihan nantinya tidak hanya diarahkan pada kawasan yang terbakar, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat dan aktivitas ekonomi dapat kembali berjalan normal. [fir.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!