Pemprov Jatim, Bhirawa – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan pentingnya peran mahasantri dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan keteguhan karakter nilai luhur bangsa saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (DPP FKMSB) Tahun 2026. Kegiatan digelar di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, pada Sabtu (8/8/2026).
Menurut Wagub Emil, istilah mahasantri merujuk pada pola pendidikan yang menjawab kebutuhan pasca-pendidikan menengah dengan tetap mempertahankan nuansa pesantren.
“Mahasantri tidak hanya dibekali keilmuan akademis modern, tetapi tetap mempertahankan pola pendidikan pesantren yang sarat akan tradisi keilmuan dan nilai-nilai spiritualitas abadi,” ujarnya.
Emil mengaitkan peran mahasantri dengan upaya merajut kepemimpinan nasional yang berkarakter. Ia mengingatkan bahwa sikap progresif kerap dipandang bertentangan dengan tradisi, padahal keduanya bisa saling melengkapi.
“Progresif tendensinya adalah selalu melakukan hal baru. Perkembangan zaman selalu diikuti bahkan ikut menciptakan. Sedangkan keteguhan karakter adalah keistikhomahan dalam menjaga tradisi pendahulu,” jelas Emil Dardak.
Ia menambahkan kekhawatiran jika kemajuan dimajukan tanpa fondasi karakter yang kuat. “Jika kita mengedepankan progresif tanpa karakter, kita malah terombang-ambing oleh pergerakan zaman. Oleh sebab itu kita bersyukur bahwa Mahasantri bisa mendorong progresifitas dan tetap berkarakter,” imbuhnya.
Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Lembaga Pengembangan Pendidikan Diniyah (LPPD) terus memperkuat sumber daya manusia berbasis pesantren. Salah satu upayanya adalah melanjutkan program beasiswa bagi mahasantri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, baik di dalam negeri maupun pada lembaga pendidikan tinggi Islam internasional.
Emil menegaskan bahwa nilai karakter yang ditanamkan pada mahasantri bukan hanya untuk bekal duniawi, melainkan sebagai benteng moral dalam menghadapi tantangan zaman. “Kami percaya bahwa eksistensi mahasantri dapat menjadi penguat bagi Jawa Timur dan Indonesia dalam menggapai cita-cita luhur,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa menjadi modern tidak berarti mengabaikan tradisi, melainkan bersikap adaptif tanpa mengorbankan prinsip dasar. Untuk memperkuat argumennya, Emil mencontohkan dinamika sektor keuangan global yang sering diwarnai praktik spekulatif dan krisis sebagai alasan pentingnya nilai-nilai ekonomi Islam dan dorongan moral agar terhindar dari keserakahan finansial. “Mencari keseimbangan ini membutuhkan ilmu dan karakter. Karena karakter itulah yang membedakan,” tegasnya.
Wagub Emil turut mengingatkan peran strategis generasi milenial dan Z sebagai penggerak bangsa. Di akhir sambutannya, ia berharap FKMSB dapat menjadi wadah yang merangkul potensi mahasantri di seluruh Indonesia untuk bersinergi dengan pemerintah, sehingga mahasantri aktif maupun alumni berperan dalam mewujudkan masa depan bangsa.
“Semoga segenap mahasantri Banyuanyar terus bersinergi dan menjadi lentera menyongsong Indonesia Emas 2045 yang barokah,” pungkasnya. [aya.kt]


