32.2 C
Sidoarjo
Thursday, August 6, 2026
spot_img

80 Hektare Savana Bromo Membara: Kemenhut hingga BNPB Maksimalkan Operasi Darat-Udara

“ Pengamanan Kawasan Konservasi Diperketat, Penutupan Wisata Diperluas, dan Pemulihan Ekosistem Disiapkan “

Kabupaten Probolinggo, Bhirawa – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo terus diperkuat. Kementerian Kehutanan mengerahkan operasi terpadu untuk melindungi kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoperasikan dua unit helikopter water bombing mulai Kamis (6/8/2026) guna membantu pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau. Hingga Rabu (5/8/206) pukul 19.00 WIB, luas lahan yang terbakar dilaporkan mencapai sekitar 80 hektare berdasarkan data Balai Besar TNBTS yang disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo.

Karhutla terjadi sejak Senin (3/8/2026) pukul 17.00 WIB. Berdasarkan data terbaru BB TNBTS, luas lahan yang terbakar hingga Rabu (5/8) pukul 19.00 WIB mencapai sekitar 80 hektare. Sebelumnya, hingga pukul 16.45 WIB luas kebakaran tercatat sekitar 60 hektare, meliputi sekitar 10 hektare di kawasan Watu Gede, Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, serta sekitar 50 hektare di kawasan Pusung Jantur, Kabupaten Malang. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Sementara itu, berdasarkan pemantauan Kementerian Kehutanan hingga Rabu (5/8/2026) pukul 18.00 WIB, api di kawasan Blok Watu Gede masih belum sepenuhnya padam. Manggala Agni bersama tim gabungan terus berjibaku membatasi penyebaran api guna melindungi kawasan konservasi dari kerusakan yang lebih luas.

Kebakaran melanda vegetasi savana, cemara gunung, pakis, dan semak belukar. Upaya pemadaman menghadapi berbagai tantangan, mulai lereng kaldera dan perbukitan yang curam, vegetasi yang mudah terbakar, angin kencang yang mempercepat rambatan api hingga keterbatasan sumber air. Untuk mendukung operasi, suplai air dilakukan secara bertahap menggunakan truk tangki menuju titik-titik yang masih dapat dijangkau personel.

Berita Terkait :  Pastikan Penanganan KLB Berjalan Optimal, Menkes RI Tinjau Imunisasi Campak di Sumenep

Indikasi awal kebakaran diketahui melalui Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) milik Kementerian Kehutanan yang mengolah data titik panas (hotspot) dari berbagai satelit, termasuk NASA-MODIS.

Pada Selasa (4/8/2026), sistem tersebut mendeteksi titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang (medium confidence). Informasi itu kemudian diverifikasi melalui pemeriksaan langsung (ground check) sehingga operasi pemadaman dapat segera dilakukan untuk melokalisasi penyebaran api.

Operasi pengendalian dilakukan secara terpadu oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) bersama Manggala Agni Wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara dengan dukungan BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Kabupaten Malang, BPBD Kabupaten Lumajang, TNI, Polri, Polisi Kehutanan, Perhutani, Satpol PP, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Jawa Timur, Agen Pengurangan Risiko Bencana Jawa Timur, unsur kecamatan, Korps Brimob Polda Jawa Timur, Forkopimda Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan serta masyarakat setempat.

Sebagai pengelola kawasan konservasi, BB TNBTS memimpin pengamanan kawasan, pemetaan area terdampak, pengaturan akses menuju lokasi kebakaran, perlindungan potensi keanekaragaman hayati, hingga koordinasi penanganan di dalam kawasan. Sementara Manggala Agni memimpin upaya teknis pemadaman untuk mengendalikan titik-titik api aktif agar tidak terus merambat ke kawasan lain.

Di lapangan, tim gabungan mengerahkan satu unit mobil pemadam kebakaran, mobil tangki air, alat pemukul api (gepyok), sprayer, hingga pesawat nirawak (drone) untuk memantau sebaran titik api sehingga memudahkan personel menentukan jalur pemadaman.

Berdasarkan perkembangan terakhir pada Rabu (5/8), api di kawasan Blok Bantengan hingga Pusung Jantur, wilayah administratif Desa Sariwani, Kabupaten Probolinggo, berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.00 WIB.

Namun, masih terdapat satu titik api yang belum dapat dijangkau karena berada di medan ekstrem dengan kontur terjal. Sementara di sekitar tugu perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang juga masih terpantau sisa titik api sehingga petugas tetap bersiaga melakukan pemantauan dan penanganan.

Berita Terkait :  Bupati Tulungagung Ajak Warga Tak Lakukan Aksi Unjuk Rasa

Peristiwa karhutla ini mendapat perhatian pemerintah pusat. Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto menginstruksikan percepatan penanganan melalui operasi pemadaman udara. BNPB akan mengerahkan dua unit helikopter water bombing mulai Kamis (6/8) untuk menjangkau titik api di lereng yang sulit dicapai tim darat.

Selain itu, BNPB juga menyiapkan dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang pelaksanaannya disesuaikan dengan perkembangan cuaca dan kebutuhan penanganan di lapangan. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan perluasan kebakaran sekaligus mempercepat proses pemadaman.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan kebakaran di kawasan konservasi tidak hanya mengancam hutan, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung pada fungsi ekologis kawasan tersebut.

“Bromo bukan hanya destinasi wisata, tetapi kawasan konservasi yang menopang kehidupan masyarakat dan menjadi ruang hidup berbagai jenis tumbuhan serta satwa. Api harus segera dikendalikan, penyebabnya diungkap, dan kawasan dipulihkan. Masyarakat juga harus menjadi bagian dari pencegahan dengan menjaga aktivitas di sekitar kawasan dan segera melaporkan setiap tanda kebakaran,” tegasnya.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan pengamanan kawasan dilakukan seiring dengan upaya pemadaman untuk memastikan keselamatan pengunjung serta menjaga kawasan yang belum terdampak.

“Keselamatan pengunjung menjadi prioritas kami. Penutupan sebagian akses dilakukan agar operasi pemadaman dapat berlangsung optimal sekaligus melindungi masyarakat dari potensi bahaya. Setelah kondisi dinyatakan aman, kami akan melakukan penilaian menyeluruh terhadap dampak kebakaran sebagai dasar penyusunan langkah pemulihan kawasan,” ujarnya.

Berita Terkait :  Pemkab Sumenep Siapkan Air Bersih ke 64 Desa Rawan Kekeringan

Sementara Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, menegaskan seluruh personel terus menyesuaikan strategi pemadaman dengan perkembangan kondisi di lapangan.

“Api masih aktif dan kondisi di lapangan terus berubah. Personel kami fokus pada sektor-sektor yang memiliki potensi rambatan tertinggi agar penyebaran api dapat ditekan secepat mungkin, dengan tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel yang bertugas,” katanya.

Untuk menjamin keselamatan masyarakat dan wisatawan, BB TNBTS menutup sementara akses wisata melalui pintu Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta pintu Senduro di Kabupaten Lumajang sejak 3 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Sementara akses melalui Cemoro Lawang, Kabupaten Probolinggo, dan Wonokitri, Kabupaten Pasuruan, tetap dibuka secara terbatas hanya sampai kawasan Lautan Pasir, sedangkan kawasan Savana ditutup bagi seluruh pengunjung.

Kabupaten Probolinggo saat ini berstatus Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan berdasarkan Keputusan Bupati Probolinggo Nomor 300.2/326/426.32/2026 yang berlaku selama 180 hari sejak 1 Agustus hingga 5 Oktober 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menetapkan Status Siaga Darurat melalui Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/327/013/2026 yang berlaku selama 180 hari mulai 26 Mei hingga 6 Oktober 2026.

Kementerian Kehutanan menegaskan perlindungan kawasan konservasi dari ancaman karhutla menjadi bagian penting kebijakan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Penguatan sistem deteksi dini melalui SiPongi+, patroli lapangan, kesiapsiagaan personel, operasi terpadu, penyelidikan penyebab kebakaran, serta kolaborasi lintas instansi dan masyarakat akan terus diperkuat agar setiap potensi kebakaran dapat dideteksi lebih awal, ditangani secara cepat, serta dicegah berkembang menjadi kerusakan ekologis yang lebih luas. [fir.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!