Surabaya, Bhirawa. – Parkinson, hingga saat ini masih belum ditemukan penyebabnya apakah dari benturan kepala, trauma atau berhubungan dengan zat kimia serta makanan dan minuman. Dari 100 ribu penduduk dunia, 4,2% adalah pengidap Parkinson dan didominasi oleh usia 50 sampai 60 tahunan dan sekarang sudah mulai mengidap ke usia muda. Untuk menstabilkan pasien Parkinson, National Hospital Surabaya telah meluncurkan Metode Adaptive DBS dengan AI yang pertama ada di Indonesia.
Subsp.N-Func, FINPS, IFAANS, Dr.dr.Achmad Fahmi, Sp.BS (K), usai meluncurkan Metode Adaptive DBS dengan AI mengungkapkan bahwa di National Hospital Surabaya sudah 90 pasien yang menggunakan metode tersebut. “Ada sekitar 150 pasien Parkinson di Indonesia yang sudah menggunakan metode tersebut dan rata-rata pasien diusia 50 sampai 60 tahunan,” terangnya.
Dr. Fahmi menambahkan bahwa Parkinson sudah menjajakin usia muda. “Ada, pasien saya yang berusia 30 tahun tapi cukup kita terapi pakai obat saja untuk mengurangi tremornya. Karena hingga kini masih belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan Parkinson,” ujarnya.
Sementara itu, bagi usia lanjut yang menggunakan metode Adaptive DBS dengan AI cukup memakai alat lama yang sudah dipakainya. “Pakai alat yang sudah terpasang saja, selanjutnya kami akan mengupdate ulang dengan berbasis AI yang nantinya bisa memberikan aliran listrik ke otak,” jelasnya.
Menurutnya, dengan Adaptive DBS bisa menentukan area mana di otak yang paling bagus untuk distimulasi dan voltasenya. “Selama ini kita manual, kita naik turunkan manual. Dengan teknologi ini, juga memanfaatkan AI dapat kita arahkan sehingga bisa mengatur sendiri ketika otak itu butuh stimulasi lebih maka dia akan naik sendiri. Dan ketika otak itu tidak membutuhkan stimulasi yang berlebihan kualitasnya akan turun jadi adaptif menyesuaikan kondisi pasien,” paparnya.
dr Fahmi menegaskan bahwa dengan Adaptive DBS ada harapan lebih baik kedepannya bagi pasien Parkinson. Subsp.N-Func, FINPS, dr Heri Subianto, SpBS (K) mengatakan Adaptive DBS tidak hanya bisa dimanfaatkan oleh pasien Parkinson, namun juga bisa dimanfaatkan oleh pasien epilepsi. “Alatnya sama, cuman kalau Parkinson dihubungkan dengan otak tapi kl epilepsi ditempat yang berbeda yang dapat mengurangi resiko epilepsi dan kejang,” katanya.
Menurut dr Heri, dengan alat ini dapat mengurangi resiko terjadinya epilepsi. “Ada pasien saya ini kalau kambuh epilepsinya itu bisa sehari 3 kali, tapi usai menggunakan metode ini, sekarang kalau kambuh hanya ketika datang bulan itupun kejangnya tidak sekeras saat epilepsi jadi bisa dikontrol,” pungkasnya.[riq.ca]


