27.8 C
Sidoarjo
Monday, August 3, 2026
spot_img

ASI, Asupan Gizi Utama dan Pertama

Refleksi Pekan ASI Sedunia, 1-7 Agustus 2026

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya

Dalam perspektif kesehatan, Air Susu Ibu (ASI) tak terbantahkan bahwa ASI menjadi sangat penting bagi perkembangan bayi, khususnya enam bulan pertama pasca kelahiran (ASI eksklusif). ASI memiliki semua kandungan zat penting yang dibutuhkan oleh sang bayi seperti ; DHA (Docosa Hexanoic Acid) salah satu jenis asam omega-3, AA (Arachidonic Acid) atau Omega 6, laktosa, taurin, protein, laktobasius, vitamin A, kolostrum, lemak, zat besi, laktoferin and lisozim yang semuanya dalam takaran dan komposisi yang pas untuk bayi dan tak dimiliki oleh produk susu formula sekalipun, termasuk dalam membentuk sistim imun pada bayi. Aspek lain adalah diproduksi secara alami, tanpa campur tangan mesin atau zat kimia buatan, jauh lebih higienis, steril dan luar biasanya adalah kandungan suhu ASI tepat sesuai untuk kebutuhan sang buah hati. Dari sisi kemanfaatan bagi ibu melalui menyusui, sang ibu dapat melepaskan ketegangan yang ada pada payudaranya, termasuk memperkecil risiko sang ibu terkena kanker ovarium. dibanding wanita yang tidak memberikan ASI.

Secara psikis-psikologis, pemberian ASI dapat membangun kedekatan jiwa antara ibu dan bayi. Secara empiris bahwa bukan menjadi rahasia umum lagi kalau anak yang mendapatkan ASI eklusif dari ibu akan cenderung mempunyai kedekatan dan hubungan harmonis yang lebih baik dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapatkan asupan ASI. Tema yang diusung dalam Pekan ASI Sedunia 2026 pada tanggal 1-7 Agustus 2026, adalah “Breastfeeding for a Sustainable Start in Life : Strengthen What Works” (Menyusui untuk Awal Kehidupan yang Berkelanjutan: Perkuat Apa yang Berhasil) yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pentingnya ASI eksklusif dalam membangun sistem yang mampu menguatkan infrastruktur dan rantai dukungan hangat bagi ibu menyusui dan melakukan evaluasi kemajuan dan menilai keberhasilan praktik menyusui untuk gizi dan kesehatan bayi dan balita.

Berita Terkait :  Jelang Muktamar NU, Gus Yahya Kunjungi Tambakberas Jombang

Tantangan Berat
Beberapa faktor yang mempengaruhi eksistensi gerakan pemberian ASI antara lain : Pertama, faktor kesehatan dan fisik si ibu. Faktor kesehatan menjadi salah satu masalah belum optimalnya gerakan ASI eksklusif terutama kondisi fisik ibu akibat gangguan fisik anggota tubuh dan fisiologis kerja ASI seperti nyeri atau sakit di area payudara ibu akibat perlekatan bayi yang kurang pas, kondisi pembengkakan, infeksi atau peradangan. Selain itu adanya faktor penumpukan ASI yang membuat payudara terasa keras, nyeri, dan susah dihisap bayi. Kesemuanya tentu akan berdampak pada kualitas asupan gizi bayi. Kedua, gangguan psikologis yakni timbulnya rasa cemas dan kekawatiran ibu bahwa ASI tidak cukup untuk mengenyangkan bayi. Selain itu juga munculnya stres berlebihan dan faktor kelelahan akibat kondisi tekanan mental pasca melahirkan yang berpotensi mengganggu kelancaran metabolisme hormon pengeluaran ASI (oksitosin).

Ketiga, lingkungan sosial. Harus diakui bahwa seiring dengan modernisasi dan perkembangan jaman yang sangat cepat mengubah perilaku masyarakat terutama bagi kaum perempuan yang kian banyak yang bekerja diluar rumah sehingga berpengaruh pada upaya pemberian ASI. Pada umumnya ibu yang berkarir (bekerja) terkadang mengalami kesulitan memerah dan menyimpan ASI di tempat kerja karena keterbatasan waktu serta fasilitas yang tersedia. Faktor minimnya dukungan dan peran keluarga (suami) atau lingkungan sekitar. Oleh karena itu peran suami misalnya sangat berpengaruh pada upaya menciptakan kondisi sosial yang memungkinkan dan mengutamakan sang buah hatinya. Di sisi lain kian gencarkan dampak media elektronik dan media sosial terutama pengaruh iklan produk susu formulasi yang seakan-akan mampu mengsubstitusikan ASI ke susu formula dengan berbagai promosi, iklan dan marketing produk. Akibat tekanan sosial atau iklan susu formula yang membuat ibu beralih dari ASI eksklusif sebagai jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan bayinya.

Berita Terkait :  BSI dan Muhammadiyah Berkolaborasi Membangun Umat melalui Masjid Padepokan KH Ahmad Dahlan

Peran dan dukungan lintas sektor sangat dibutuhkan ditengah tantangan mereduksi pemberian ASI (eksklusif), seperti sektor kesehatan dengan menyediakan layanan edukasi laktasi, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), dan pelayanan posyandu atau puskesmas. Sektor Pemerintahan melalui penyusunan aturan hukum yang jelas seperti kewajiban penyediaan ruang laktasi di fasilitas umum, ruang publik dan perkantoran. Sektor ketenagakerjaan dimana perusahaan wajib memberikan hak cuti melahirkan bagi ibu serta waktu memerah ASI di tempat kerja serta dukungan masif masyarakat dan keluarga dengan memberikan dukungan mental dan lingkungan yang tidak berpihak dan memarginalkan ibu menyusui.

———— *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!