Refleksi dari Dialog Aspirasi RRI Pro 1 FM Surabaya dan Hasil telaah Pengalaman Pembinaan di Lapangan

Binpres PSTI Jawa Timur Dr. Muhammad Muhyi M.Pd (kanan) dan Sekretaris PSTI Jatim Moh. Hanafi, S.Pd., M.Pd saat menghadiri dialog di RRI Surabaya (foto atas). Juara di turnamen sepak takraw yang digelar di Pulau Bawean Gresik (foto bawah). dok pribadi
Antusias masyarakat sangat luar biasa pada saat saya membuka tournamen sepak takraw di Pulau Bawean, tepat pada minggu ke empat di bulan Juni 2026, tournament sepak takraw di buka di dua kecamatan yang berbeda. Ada hal menarik yang dapat saya maknai yakni durasi pelaksanaan turnamen yang memakan waktu kurang lebih 1 bulan, jumlah klub yang ikut dalam turnamen tersebut berjumlah  puluhan klub yang ikut bertanding, selang satu hari saya pindah membuka di kecamatan satunya ada  puluhan  klub yang ikut bertanding,  dari tournament tersebut total ada 130 klub yang ikut bertanding, hal tersebut merupakan pemandangan yang sangat menarik dan memiliki makna yang sangat mendasar dalam menjadikan olahraga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Prestasi olahraga pada prinsipnya tidak pernah hadir tiba-tiba di panggung juara, prestasi selalu di mulai dengan pembinaan yang hidup di tengah-tengah masyarakat.
Pertanyaan paling mendasar dari apa yang telah saya lihat dan saya amati di PSTI Gresik, maka dirasakan penting disini adalah bukan bagaimana mencari juara, namun lebih mendalam lagi adalah bagaimana merancang agar juara terus lahir dari waktu ke waktu. PSTI Jawa Timur berupaya untuk terus mendorong agar mampu menciptakan rancangan tersebut, berbagai macam cara dilakukan seperti memperbanyak kompetisi, menuliskan buku sport sciences untuk olahraga sepak takraw, sosialisasi dengan kab kota termasuk melalui media digital seperti RRI Pro 1 baru-baru ini tentang strategi PSTI Jatim cetak atlet sepak takraw, dan pelatihan pelatih serta wasit di PSTI Kab Blitar, Kompetisi di Bakorwil 5 Banyuwangi dan akan disusul di Barkorwil II di Gresik, Kompetisi antar pelajar di Kabupaten Malang. Semua kegiatan yang sudah dilakukan dan akan dilakukan dapat diteruskan dalam bingkai desain pembinaan prestasi olahraga sepak takraw yang lebih memadai dan lebih baik.
Sebagai bahan kajian dan telaah serta refleksi saya dalam tulisan ini menawarkan pendekatan DESAIN sebagai kerangka yang dapat dikatakan sederhana yang fokus pada penguatan pembinaan prestasi di olahraga sepak takraw. Adapun penawaran gagasan dari pendekatan DESAIN dapat saya jabarkan sebagai berikut, yakni dimulari dari Huruf D: Deteksi Potensi, E: Ekonsistem Pembinaan, S: Sport Sciences, A: Aktivitas Kompetensi Berjenjang, I : Integrasi Pembinaan, dan N: Nilai Karakter. Pemikiran ini diharapkan dapat memberikan arah pembinaan prestasi olahraga sepak takraw yang makin lebih baik. Saya berupaya untuk menjelaskan satu persatu, Deteksi Potensi (D) yang sering kita dengar kata Talent Identification, mengidentifikasi individu yang punya potensi untuk dibina menjadi atlet seperti saat kegiatan liga pelajar maupun kejuaraan antar klub, dan pemanduan bakat pada setiap kompetisi sepak takraw, tidak hanya dilihat pada saat kejuaran namun di dokumentasikan dengan baik sebagai bibit yang beprestasi. E: Ekosistem Pembinaan seperti dukungan keluarga, sekolah, PSTI dan Klub, Pemerintah, termasuk media dan akademisi menjadi bagian dari penguatan yang harus dilakukan dan hal ini dapat dikuatkan dengan pendekatan pentahelix yang dapat mengkolaborasikan berbagai sektor . Bagaimanapun juga keberhasilan atlet secara umum termasuk di sepak takraw tidak lepas dari dukungan tersebut. S: Sport Sciences, pembinaan yang ada tidak cukup hanya pengalaman namun juga di dukung dengan data mulai dari fisik, psikologi, nutrisi. A: Aktivitas Kompetisi Berjenjang, kompetisi yang sudah dilakukan sangat baik untuk terus ditingkatkan dan kompetisi bukan tujuan pada dasarnya, kometisi adala sebagai alat evaluasi, mulai dari antar pelajar di tingkat SD, SMP dan SMA, termasuk di KLUB, Porprov dan kejurprov sampai pada kejrunas, dan tidak kalah penting termasuk kompetisi tersebut sebagai laboratorium prestasi olahraga. I : Integrasi Pembinaan, jangan sampai tidak sinergis, apalagi berjalan sendiri-sendiri, jangan sampai sekolah jalan sendiri dan klub jalan sendiri. N: Nilai Karakter, tidak hanya sebatas tulisan fairplay dan sportive namun lebih dari itu, seperti atlet sepak takraw harus memiliki disiplin, tangung jawan, sportivitas dan hormati lawan serta pantang menyerah.
Sebagai akhir dari ulasan pendapat saya ini adalah juara memang tidak lahir dari pertandingan, namun dari pembinaan yang dirancang dengan arah yang jelas, tepat dan terarah serta terukur, dikdukung dengan ilmu pengtahuan, dan didukung karakter yang kuat diperkaya melalui kompetisi. Masa depan olahraga sepak takraw tergantung seberapa sungguh-sungguh kita merancang lahirnya juara-juara baru, mari kita rancang prestasi bukan menunggu juara.
Penulis
Dr. Muhammad Muhyi M.Pd.
Dosen Prodi penjas Program Magister Universitas PGRI Adi Buana Surabaya,
Binpres PSTI Jawa Timur.


