Puncak peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 di Bakorwil Pamekasan, Selasa (21/7/2026).
Pemprov Jatim. Bhirawa. – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan kembali peran koperasi sebagai salah satu penyangga utama ekonomi rakyat dalam puncak peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 di Bakorwil Pamekasan, Selasa (21/7/2026).
Dalam sambutannya, Khofifah menyebut koperasi bukan sekadar institusi ekonomi, melainkan ruang gotong royong yang menjaga denyut kesejahteraan masyarakat dari desa hingga kota.
Di hadapan insan perkoperasian, Khofifah mengajak seluruh pengurus, pengawas, anggota, pendamping, dan pemangku kepentingan untuk menjadikan Hari Koperasi sebagai momentum memperkuat kembali semangat kolektif yang menjadi roh koperasi sejak awal berdiri.
Ia menekankan bahwa koperasi harus terus hadir sebagai kekuatan yang memperluas akses ekonomi, memperkuat solidaritas, dan memberi manfaat nyata bagi anggota maupun masyarakat luas.
Khofifah juga menautkan semangat koperasi dengan sejarah panjang gerakan ekonomi rakyat di Indonesia. Ia menyinggung akar koperasi yang tumbuh dari gagasan R. Aria Wiriaatmadja dan diteguhkan melalui Kongres Koperasi Indonesia pertama pada 12 Juli 1947 di Tasikmalaya, sebagai fondasi moral bagi gerakan koperasi hingga hari ini.
Dalam kerangka itu, koperasi ditempatkan bukan sebagai pelengkap, melainkan bagian penting dari amanat Pasal 33 UUD 1945 yang menempatkan perekonomian nasional pada asas kekeluargaan dan keadilan sosial.
“Tema Hari Koperasi Nasional ke-79, Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya, menurut Khofifah, mengandung makna strategis. Koperasi Berdaya diartikan sebagai tekad membangun koperasi yang sehat kelembagaannya, profesional tata kelolanya, kuat permodalannya, dan adaptif terhadap teknologi digital. Sementara Indonesia Berjaya menjadi cita-cita bersama untuk menghadirkan ekonomi nasional yang tangguh, inklusif, dan berkeadilan,” ujar Khofifah dalam sambutannya.
Khofifah menegaskan bahwa koperasi memiliki peran semakin penting di tengah pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang tetap solid. Berdasarkan data yang ia sampaikan, ekonomi Jawa Timur pada triwulan I 2026 tumbuh 5,96 persen secara tahunan, lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Jawa Timur juga menyumbang sekitar 14 persen terhadap PDB nasional dan lebih dari 25 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa.
Capaian itu, kata Khofifah, tidak lepas dari kerja bersama pemerintah, dunia usaha, akademisi, UMKM, dan gerakan koperasi.
Ia menilai kekuatan ekonomi Jawa Timur bertumpu pada ekonomi rakyat, yang membuat daerah ini memiliki daya tahan lebih kokoh saat menghadapi gejolak ekonomi global.
“Dalam konteks ini, koperasi dapat dipandang sebagai penggerak penting penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, perluasan akses ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan,” katanya.
Khofifah juga menyoroti besarnya ekosistem koperasi di Jawa Timur. Saat ini, Jawa Timur memiliki 29.987 koperasi aktif, jumlah terbesar di Indonesia. Bahkan, berdasarkan Survei Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM Tahun 2025, kontribusi koperasi dan UMKM terhadap perekonomian Jawa Timur telah mencapai sekitar 60 persen.
“Angka ini memperkuat pesan bahwa ekonomi Jawa Timur bertumpu pada kekuatan pelaku usaha kecil dan menengah yang bergerak bersama dalam semangat gotong royong,” cetusnya.
Di tengah perubahan zaman, Khofifah mengingatkan bahwa koperasi tidak boleh berjalan di tempat. Disrupsi teknologi dan perkembangan kecerdasan buatan menuntut koperasi untuk bertransformasi agar tetap relevan dan kompetitif. Ia menekankan bahwa koperasi harus memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat tata kelola.
Namun transformasi digital, menurut Khofifah, tidak cukup hanya dengan perangkat dan sistem. Penguatan sumber daya manusia menjadi syarat utama, mulai dari peningkatan kompetensi manajerial, literasi keuangan, hingga budaya inovasi. Dengan begitu, koperasi dapat tumbuh menjadi organisasi ekonomi yang modern, profesional, adaptif, tetapi tetap setia pada nilai dasar koperasi.
Untuk mendorong hal itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur disebut terus memperkuat koperasi melalui program Jatim Sejahtera, Jatim Kerja, dan Jatim Agro.
Pemprov juga mendorong korporatisasi sektor riil, hilirisasi produk unggulan, digitalisasi koperasi, serta perluasan akses pembiayaan yang inklusif. “Arah kebijakan tersebut ditujukan agar koperasi tak hanya bertahan, tetapi juga menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Khofifah turut menyoroti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi desa dan kelurahan sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Melalui program ini, koperasi diharapkan menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat, mulai dari produksi, distribusi, pembiayaan, hingga pemasaran.
Di Jawa Timur, program itu menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga kini, telah terbentuk 8.494 KDKMP, dengan 1.093 koperasi telah beroperasi hingga akhir Juni 2026 dan didukung 1.375 gerai usaha yang meliputi sembako, kefarmasian, klinik kesehatan, logistik, pergudangan, hingga simpan pinjam.
Khofifah menyebut capaian itu sebagai bukti bahwa penguatan kelembagaan yang disertai aktivitas ekonomi nyata dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Bahkan, berdasarkan data per 19 Juli 2026, Jawa Timur mencatatkan nilai transaksi KDKMP tertinggi secara nasional, yakni Rp 23,7 miliar atau 38 persen dari total transaksi nasional sebesar Rp 61,9 miliar. Capaian ini menegaskan posisi Jawa Timur sebagai salah satu daerah paling progresif dalam menggerakkan koperasi berbasis desa dan kelurahan.
Di bagian akhir sambutannya, Khofifah menekankan bahwa keberhasilan membangun koperasi tidak mungkin dicapai sendirian. Ia mengajak pemerintah pusat dan daerah, gerakan koperasi, dunia usaha, perbankan, perguruan tinggi, dan seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat sinergi.
Koperasi, katanya, harus menjadi penggerak ekonomi rakyat, penguat UMKM, pendorong hilirisasi produk unggulan, sekaligus motor pemerataan kesejahteraan hingga ke desa dan kelurahan.
Dengan semangat gotong royong, Khofifah optimistis koperasi akan terus menjadi kekuatan utama dalam memperkuat ketahanan ekonomi daerah dan mengantarkan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara menuju Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera. Ia menutup sambutannya dengan pesan yang sederhana namun kuat, koperasi harus terus berdaya agar Indonesia benar-benar berjaya. [aya din hel].


