Gresik, Bhirawa – Ada kisah inspiratif dari Siti Nur Afidah (47), pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di lingkungan sekitar PT Petrokimia Gresik. Usaha jamu temulawak rumahan yang dirintisnya mengalami lonjakan omzet yang signifikan setelah ia bergabung dalam program Kelompok Jajanan Masyarakat Sekitar, atau yang dikenal dengan nama Program Lontar.
Jika sebelumnya produknya hanya dipasarkan secara terbatas lewat status WhatsApp, kini ia mampu memproduksi hingga 100 botol per hari dan sering kali ludes terjual dalam waktu singkat, terutama saat mengikuti bazar.
Perempuan yang akrab disapa Afidah ini mengaku telah merintis usahanya sejak tahun 2019, namun pada awalnya perkembangannya terbilang lambat.
“Dulu jualannya cuma dari rumah ke rumah, lewat WhatsApp, atau grup komunitas. Proses penjualannya terasa sangat lama,” ujarnya.
Perubahan besar mulai terasa ketika Afidah mendapatkan pendampingan melalui Program Lontar. Bantuan yang diterimanya tidak hanya berupa tambahan modal usaha, tetapi juga meliputi peralatan produksi, pelatihan desain kemasan, hingga kemudahan dalam mengurus perizinan dan sertifikasi produk.
“Kalau tidak ada pendampingan seperti ini, kami pasti akan kesulitan mengembangkan usaha. Mulai dari ketersediaan bahan baku, peralatan, hingga biaya sertifikasi dan uji produk membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ungkapnya.
Kini, warga Kelurahan Ngipik, Kecamatan Gresik ini mampu memproduksi hingga 100 botol jamu temulawak kemasan kecil setiap harinya. Meskipun biasanya stok disimpan dalam lemari pendingin dan habis dalam rentang dua hingga tiga hari, situasi berbeda terjadi pada momen-momen tertentu, seperti saat bulan Ramadan.
“Waktu puasa kemarin, sekali produksi 100 botol langsung habis dalam satu hari. Malam harinya saya harus membuat lagi untuk keesokan harinya, begitu terus selama dua hari,” tuturnya sambil tersenyum.
Selain jamu temulawak, produk lain yang dihasilkannya seperti kacang goreng, kacang telur kemasan, kolak kacang hijau, dan aneka jajanan pasar basah juga selalu diminati pengunjung saat mengikuti kegiatan binaan program tersebut. Jika sebelumnya pangsa pasarnya hanya terbatas di lingkungan sekitar rumah, kini produknya dapat menjangkau wilayah yang lebih luas, bahkan sering menerima pesanan dari lingkungan internal perusahaan.
“Alhamdulillah, sekarang pesanan datang tidak hanya dari tetangga, tetapi juga untuk keperluan kegiatan di lingkungan perusahaan,” imbuhnya.
Peningkatan penjualan ini memberikan dampak nyata bagi perekonomian keluarga. Dari hasil usahanya, Afidah mampu membiayai pendidikan kedua anaknya. Saat ini, salah satu anaknya sudah bekerja, sedangkan yang lain sedang menempuh pendidikan tinggi.
Program Lontar yang digagas oleh Petrokimia Gresik ini tidak hanya berfokus pada bantuan modal semata, tetapi juga memberikan pelatihan penyusunan kemasan agar produk terlihat lebih menarik dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Dulu kemasan kami terlihat sederhana saja, sekarang kami diajari membuat desain kemasan yang lebih bagus agar terlihat menarik dan profesional,” katanya.
Kisah Afidah menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata. Usaha rumahan yang sederhana kini telah bertransformasi menjadi UMKM yang produktif dengan pangsa pasar yang terus berkembang.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Gresik, Darmawan, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dilakukan oleh Petrokimia Gresik. Menurutnya, bantuan berupa pelatihan, permodalan, dan pendampingan pemasaran sangat membantu perkembangan para pelaku usaha.
“Melalui pelatihan yang terstruktur, para pelaku UMKM dibekali pengetahuan tentang manajemen usaha, literasi keuangan, hingga strategi pemasaran berbasis digital. Selain itu, kemudahan akses permodalan juga membantu mereka meningkatkan skala produksi dan memperluas jangkauan pasar,” tuturnya.
Pemerintah Kabupaten Gresik berharap program serupa tidak hanya berfokus pada satu sektor atau kelompok tertentu saja, melainkan dapat diperluas agar pelaku usaha mikro dari berbagai bidang juga dapat merasakan manfaatnya.
“Dengan adanya pemerataan dukungan, dampak positif dari program ini diharapkan dapat dirasakan oleh lebih banyak lapisan masyarakat,” urai Darmawan.
Di tengah perkembangan era digital, kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha dinilai sebagai langkah strategis untuk mempercepat transformasi UMKM. Pemanfaatan platform digital untuk promosi dan distribusi produk terbukti efektif dalam meningkatkan omzet sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.
“Ke depannya, sinergi antara pemerintah daerah, perusahaan, dan pelaku UMKM diharapkan terus diperkuat guna menciptakan ekosistem usaha yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” pungkasnya. [kim.kt]


