Surabaya, Bhirawa – Upaya menekan angka stunting di Jawa Timur tidak cukup hanya dilakukan melalui intervensi kesehatan. Pencegahan harus dimulai dari keluarga, termasuk dengan mencegah pernikahan dini yang berisiko meningkatkan kehamilan dan pengasuhan anak tanpa kesiapan pengetahuan maupun kesehatan.
Hal tersebut disampaikan Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Timur, Gardjati Heru Tjahjono, dalam peringatan HUT ke-64 BKOW Jatim di Ruang Rapat Binaloka Adhikara, Kantor Setdaprov Jawa Timur, Jalan Pahlawan 110, Selasa (6/10/2026) pagi.
Mengusung tema Menguatkan Perempuan, Meneguhkan Keluarga, Memajukan Jawa Timur, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat peran perempuan dalam membangun keluarga sehat sekaligus mendukung berbagai program pembangunan di Jawa Timur.
Gardjati mengatakan, BKOW Jatim saat ini menaungi 53 organisasi perempuan dengan latar belakang yang beragam. Perbedaan tersebut, menurut dia, menjadi kekuatan untuk membangun gerakan bersama dalam menangani persoalan keluarga, kesehatan, hingga stunting.
“Kalau kita menuju perempuan yang hebat, itu memang dari perempuan itu sendiri, kemudian keluarga, kemudian untuk lingkungan yang besar yaitu Jawa Timur,” ujar Gardjati.
Menurut Gardjati, persoalan stunting memiliki kaitan dengan kesiapan pasangan dalam membangun rumah tangga. Pernikahan pada usia anak dapat membuat calon pasangan belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kesehatan reproduksi, kehamilan, persalinan, serta pengasuhan anak.
“Awalnya memang stunting itu juga dari pernikahan dini. Anak-anak remaja kita belum menguasai benar masalah kesehatan, bagaimana untuk berkeluarga, kita itu harus bagaimana,” katanya.
Data Pemerintah Provinsi Jawa Timur menunjukkan proporsi perempuan berusia 20–24 tahun yang menikah atau hidup bersama sebelum usia 18 tahun terus menurun, dari 10,44 persen pada 2021 menjadi 9,46 persen pada 2022 dan 8,86 persen pada 2023.
Meski menurun, pernikahan anak masih menjadi persoalan yang perlu ditangani secara berkelanjutan karena berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, serta kondisi sosial-ekonomi keluarga.
Gardjati menjelaskan, edukasi bagi calon pengantin menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah dampak pernikahan dini. Melalui pembekalan tersebut, calon pasangan diharapkan memahami pentingnya kesehatan ibu sebelum merencanakan kehamilan.
“Calon manten itu kita beri pembelajaran supaya dia tahu bagaimana kesehatan setelah kita berkeluarga, kemudian punya anak. Ibu harus sehat dulu, baru kemudian kita akan mempunyai anak,” tuturnya.
Dalam pencegahan stunting, Gardjati menilai perempuan memiliki posisi strategis karena berperan besar dalam menjaga kesehatan keluarga. Namun, tanggung jawab tersebut tetap harus didukung oleh seluruh anggota keluarga dan lingkungan sekitar.
BKOW Jatim, kata dia, selama ini mengikuti program yang dikembangkan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur. Sejak 2024, organisasi tersebut mulai menguatkan program edukasi keluarga yang berkaitan dengan pencegahan stunting.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Edukasi ini diarahkan agar keluarga memahami pentingnya kebersihan, kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, serta pola pengasuhan sejak masa kehamilan.
“Kita membuat edukasi dan pembelajaran untuk keluarga masing-masing melalui PHBS. Saya kira kalau PHBS-nya baik, stunting tidak ada,” kata Gardjati.
Berdasarkan data pemerintah, prevalensi stunting di Jawa Timur tercatat 14,7 persen pada 2024, turun dari 17,7 persen pada 2023. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan prevalensi stunting nasional pada 2024 yang mencapai 19,8 persen.
Meski demikian, Jawa Timur masih menjadi salah satu provinsi dengan jumlah balita stunting yang besar sehingga pencegahan dan penanganan tetap membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Gardjati menegaskan, target zero stunting tidak berarti persoalan selesai hanya dengan menghentikan munculnya kasus baru. Anak-anak yang telah mengalami stunting tetap membutuhkan perhatian, pendampingan, dan pemantauan agar kondisi kesehatannya tidak semakin memburuk.
“Pengertian zero ini tidak bertambah. Tapi yang sudah stunting tetap harus kita jaga agar lebih sehat,” ujarnya.
Karena itu, BKOW Jatim mendorong organisasi-organisasi perempuan yang tergabung di dalamnya untuk menyampaikan edukasi secara lebih luas kepada keluarga. Setiap organisasi diharapkan dapat berkontribusi sesuai latar belakang, kapasitas, dan lingkungan masing-masing.
“BKOW ini berbagai macam organisasi wanita yang backgroundnya beda-beda. Ada yang agama, mungkin spesialis apa, karakternya beda-beda. Kami bersatu untuk menyampaikan stunting di Jawa Timur harus zero,” kata Gardjati.
Menurut dia, penguatan keluarga harus berjalan bersamaan dengan peningkatan pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan pernikahan dini, kesiapan menjadi orang tua, serta pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Melalui tema HUT ke-64 tersebut, BKOW Jatim ingin menegaskan bahwa perempuan yang berdaya akan membentuk keluarga yang lebih sehat. Dari keluarga yang kuat, lahir generasi yang sehat dan menjadi modal penting bagi kemajuan Jawa Timur. [aya.kt]






