27.3 C
Sidoarjo
Wednesday, June 10, 2026
spot_img

Pustakawan UM Bagikan Kunci Sukses Adaptasi Mahasiswa Perantau


Kota Malang, Bhirawa
Menjadi mahasiswa perantau di Kota Malang tidak hanya menuntut kemampuan akademik yang baik, tetapi juga kesiapan beradaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya yang beragam. Fase perkuliahan dinilai menjadi momentum krusial dalam pembentukan karakter generasi muda.

Hal tersebut ditegaskan oleh Pustakawan Universitas Negeri Malang (UM), Teguh Yudi Cahyono, S.I.Pust., M.M. Menurutnya, Malang memiliki keunikan tersendiri sebagai kota pendidikan yang dihuni oleh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Kondisi ini menjadikan Kota Malang sebagai ruang belajar sosiologis yang nyata.

“Malang bukan sekadar tempat untuk menempuh pendidikan tinggi. Kota ini adalah ruang tumbuh yang memungkinkan mahasiswa belajar tentang keberagaman, budaya, dan kehidupan sosial secara langsung,” urai Teguh Yudi Cahyono.

Teguh menjelaskan, banyak mahasiswa perantau yang datang ke Malang hanya berfokus pada raihan gelar akademik semata. Padahal, pengalaman berinteraksi dengan masyarakat dan memahami kearifan lokal merupakan bagian tidak terpisahkan dari proses pendidikan yang utuh.

Oleh karena itu, ia menekankan agar indikator keberhasilan kuliah tidak melulu diukur dari Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Kemampuan membangun relasi sosial dan menghargai perbedaan justru menjadi modal berharga setelah mahasiswa lulus dan terjun ke dunia kerja.

Dalam menunjang pilar akademik, Teguh mendorong mahasiswa untuk membangun kebiasaan belajar mandiri dan bijak mengelola waktu. Fasilitas penunjang di kampus seperti perpustakaan, ruang belajar bersama, hingga forum diskusi dengan dosen harus dimanfaatkan secara optimal.

Berita Terkait :  Raih Berbagai Penghargaan, SMKN 1 Bondowoso jadi Pusatnya Sekolah Berprestasi

Di sisi lain, ia juga mewanti-wanti agar mahasiswa tidak terjebak dalam zona nyaman kelompok eksklusif. “Jangan hanya berinteraksi dengan teman satu daerah atau satu program studi. Semakin beragam lingkungan pergaulan, semakin besar kesempatan mahasiswa belajar memahami perspektif yang berbeda,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia mengajak para mahasiswa perantau untuk aktif berbaur dengan warga di sekitar tempat kos atau kontrakan. Nilai-nilai lokal Jawa Timuran seperti unggah-ungguh, gotong royong, dan penghormatan kepada yang lebih tua harus tetap dijunjung tinggi.

“Kedekatan dengan masyarakat lokal akan memberikan banyak manfaat, mulai dari rasa aman, jaringan sosial yang lebih luas, hingga pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan di Malang,” tutur Teguh.

Di akhir pemaparannya, Teguh juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah tekanan tugas kuliah dan fenomena homesick (rindu kampung halaman). Mahasiswa diharapkan tidak ragu memanfaatkan layanan konseling yang disediakan pihak kampus jika menghadapi kendala psikologis. [mut.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!