Wacana Bahasa Inggris jadi Pembelajaran Wajib
Surabaya, Bhirawa
Pemerintah pusat memiliki wancana Bahasa inggris dijadikan sebagai mata pembelajaran wajib di sekolah dasar (SD) mulai 2027 hal tersebut disambut baik Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya dengan melalui program pembiasaan berbahasa inggris setiap hari Jumat di sekolah.
Konsep berbahasa setiap hari Jumat terinpirasi dari program pembuasaaan Berbahasa Jawa melalui Kamis Mlipis yang sudah berjalan, dimana Dispendik mendorong sekolah untuk membiasakan penggunaan Bahasa Inggris pada hari tertentu. Jumat, (5/6/2026)
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dispendik Kota Surabaya, Mohamad Sufyan, menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa inggris lebih mudah dikuasai apabila secara rutin dalam keseharian, karena biasa.
“Kebiasaan bahasa karena biasa, missal sudah terbiasa dipakai, kosa kata dimiliki anak-anak semakin berkembang, dan semakin sering digunakan, semakin bisa,” katanya.
Lanjut Sufyan mengatakan sekarang Bahasa Inggris pada jenjang SD dan SMP berstatus muatan lokal, sebab pelaksanaannya bergantung pada kesiapan masing-masing sekolah.
“Ketika kebijakan pemerintah pusat diberlakukan pada 2027, seluruh sekolah wajib menyediakan mata pelajaran Bahasa Inggris, selama ini masih muatan lokal yang menyesuaikan kemampuan sekolah masing-masing,” tuturnya.
Sufyan mengukapkan kebutuhan tenaga pengajar akan jadi perhatian, ketika kebijakan diterapkan, sekolah nantinya akan membutuhkan guru Bahasa Inggris secara khusus, sebagai bentuk persiapan, Dispendik menjalin kolaborasi berbagai lembaga kursus dan pelatihan (LKP) yang menyediakan program peningkatan kemampuan Bahasa Inggris bagi siswa.
“Ada beberapa lembaga yang menawarkan program gratis untuk sisw, kami bekerja sama dengan LKP-LKP yang memang memiliki program penguatan Bahasa Inggris,” pungkasya.
Sufyan berharap 283 SD negeri di Surabaya, baik negeri maupun swasta, dapat beradaptasi secara bertahap sehingga siap saat kebijakan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai diterapkan pada 2027.
“Kami optimistis, yang penting dibiasakan dulu, jika sudah menjadi kebiasaan, maka anak-anak lebih percaya diri menggunakan Bahasa Inggris,” ungkap Sufyan.
Guru Bahasa Inggris SDN Kaliasin I, R. Danis Noviyanto, menyampaikan bahwa program dirancang supaya siswa tidak hanya memahami teori, tapi berani menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
“Pembelajaran di English Club dibuat berbeda dari pembelajaran reguler di kelas, siswa diajak belajar melalui berbagai aktivitas interaktif seperti permainan edukatif, diskusi kelompok, presentasi sederhana, hingga praktik percakapan langsung dengan teman-temannya,” katanya.
Danis berharap melalui English Day dan English Club siswa tidak hanya memperoleh nilai akademik yang baik, tapi memiliki keberanian dan keterampilan komunikasi yang akan jadi bekal penting di masa depan, terlebih menjelang rencana penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar pada 2027.
“Anak-anak lebih mudah memahami materi ketika belajar sambil bermain, sebab itu kegiatan English Club dikemas lebih aktif dan menyenangkan sehingga mereka tidak merasa sedang belajar dalam suasana yang kaku,” ujarnya.
Sementara itu, Peserta English Club SDN Kaliasin I, Aqila Zerlinda, menceritakan kemampuan Bahasa Inggrisnya meningkat setelah mengikuti kegiatan ini.
“Saya merasa lebih mudah memahami materi sebab proses belajar tidak hanya dilakukan dengan duduk dan mendengarkan penjelasan guru, di English Club belajarnya seru karena banyak permainan dan kegiatan interaktif, jadi lebih mudah memahami pelajaran dan saya jadi lebih percaya diri saat berbicara Bahasa Inggris,” cerita Aqila.
Ia menambahkan suasana belajar lebih menyenangkan membuat dirinya lebih berani mencoba menggunakan kosakata dan kalimat Bahasa Inggris dalam berbagai kesempatan, baik di sekolah maupun saat mengikuti kegiatan lainnya. [ren.kt]


