Sidoarjo, Bhirawa
Pasar Wonoayu salah salah satu dari 19 pasar tradisional milik Pemkab Sidoarjo yang kondisinya saat ini memprihatinkan. Ibarat peribahasa hidup enggan mati tidak mau. Setelah dilakukan rehab oleh Pemkab Sidoarjo, pada kurun waktu 2010 hingga 2020, justru pasar tradisional yang ada sejak zaman kolonial Belanda ini, kondisinya sepi. Di bagian bangunan belalang pasar, stand-standnya kosong tidak ada penjual.
Hanya ada 1 penjual sayur mayur, yang masih bertahan. Karena melayani kebutuhan warga sekitarnya. Yang selama ini menjadi pelanggan setianya sejak dulu. “Saya jualan disini sejak awal tahun 1980 an, pelanggan saya dulu banyak, sekarang banyak berkurang, hanya warga di sekitar pasar ini saja,” komentarnya, Minggu (7/6) akhir pekan lalu.
Karena sudah tua, dirinya tidak terlalu bernafsu. Perempuan berusia 75 tahun ini membuka stand tokonya pada pukul 06.00 WIB dan menutup stand tokonya pada pukul 12.00 WIB. ” Saya sebetulnya sudah gak boleh sama anak anak saya jualan, karena sudah tua, tapi daripada saya nganggur di rumah tidak ada kegiatan, saya tetap jualan,” ujarnya.
Menurut dirinya bentuk bangunan pasar tradisional Wonoayu saat ini mempengaruhi kunjungan pembeli. Menurut dirinya, harusnya bentuk bangunan pasar tradisional ini berbentuk hurup U. Agar tidak ada pedagang depan dan pedagang belakang. “Kalau seperti ini yang ramai hanya pedagang di depan saja, itupun tidak seberapa, yang dibelakang apa lagi, tidak ada pembeli yang datang,” ujarnya.
Jumlah total pedagang di pasar tradisional Wonoayu ini tidak lebih dari 10. Mayoritas jualan di bagian depan. Di bagian belakang hanya dirinya saja.
Menurut Kastin, saat ini keberadaan pasar tradisional Wonoayu ini kalah dengan pasar -pasar desa atau pasar -pasar dadakan. Misalnya pasar dadakan di kawasan Perumtas 3. Di pasar dadakan ini penjual jualan di pinggir jalan. Ada pagi hari ada sore hari. Apalagi pada Minggu pagi, pedagangnya ramai sekali.
Seorang pembeli di pasar dadakan di Perumtas 3 Wonoayu, Sukariyah, mengatakan dirinya lebih senang berbelanja di pasar dadakan tersebut. Selain lebih dekat dengan tempat tinggalnya, juga segala kebutuhan ada di pasar dadakan tersebut. “Saya suka belanja di pasar dadakan ini, dekat rumah saya, segala kebutuhan ada di sini,” komentarnya.
Senada dengan Sukariyah, Nella, pembeli di pasar dadakan Perumtas 3 lainnya, juga mengaku demikian. Dirinya tidak perlu jauh-jauh berbelanja ke pasar tradisional Wonoayu. Karena di pasar dadakan Perumtas ini semua ada. “Di pasar dadakan ini semakin lama semakin ramai,” komentar ibu dua orang anak itu.[kus.ca]


