Gresik, Bhirawa
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Lia Istifhama, menilai kawasan Mina menjadi lokasi dengan tantangan terberat bagi para jemaah haji. Ia memberikan apresiasi tinggi terhadap berbagai kebijakan yang diterapkan Pemerintah Arab Saudi, khususnya imbauan tegas demi melindungi keselamatan jiwa jemaah dari risiko cuaca panas ekstrem hingga kepadatan arus manusia di area pelontaran. Tak hanya itu, Lia juga menyoroti perjuangan para petugas haji Indonesia yang kerap mengesampingkan kesehatan diri sendiri demi memastikan ibadah jemaah berjalan lancar dan aman.
Pihak otoritas Arab Saudi sendiri menekankan agar seluruh jemaah tidak bersikap terburu-buru atau memaksakan diri saat melaksanakan rangkaian ibadah. Pengawasan ketat diberlakukan, termasuk pengaturan pergerakan menuju Jamarat yang diarahkan dilakukan pada malam hari demi menghindari sengatan matahari yang berbahaya.
“Jika dipaksakan berjalan di siang hari dengan suhu panas ekstrem, pasti banyak jemaah yang tidak kuat. Kebijakan dan pengawasan dari pemerintah Arab Saudi sangat memperhatikan kondisi fisik jemaah dari berbagai negara, agar mereka bisa menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya. Larangan bergerak di waktu panas itu juga bertujuan mencegah penumpukan massa. Begitu pula saat wukuf, semua detail diperhatikan sepenuhnya oleh pemerintah setempat,” ujar Lia Istifhama, yang akrab disapa Neng Lia.
Lebih lanjut, Lia menyampaikan bahwa pemerintah kini mulai merumuskan formula baru yang lebih manusiawi untuk penyelenggaraan haji di masa depan. Salah satu gagasannya adalah pembangunan tenda bertingkat, mengingat secara geografis kawasan Mina sudah tidak memungkinkan untuk diperluas lagi.
Di sisi lain, Lia sangat mengapresiasi kerja keras para petugas haji. Menurutnya, selama ibadah berlangsung, peran petugas di lapangan sangat krusial dan dituntut untuk cerdas serta tanggap membaca situasi. Misalnya saat cuaca sedang sangat panas, petugas harus pandai membagi waktu pergerakan jemaah agar tidak ada yang tumbang akibat sengatan matahari.
“Banyak petugas kita yang saking fokusnya melayani, sampai lupa menjaga kesehatan diri sendiri. Yang lebih menyentuh hati, ada fenomena di mana mereka rela merogoh kocek pribadi, menggunakan uang sendiri, hanya agar bisa mengikuti pelatihan tambahan. Tujuannya satu: supaya bisa melayani jemaah dengan lebih pintar, cekatan, dan maksimal,” ungkap Lia.
Meski dedikasi para petugas sudah sangat tinggi, Lia menilai hal tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan perhatian yang layak terhadap kesejahteraan dan proteksi kesehatan mereka. Ketiadaan jumlah tenaga medis atau petugas kesehatan yang ideal di lapangan pun turut memperberat beban kerja para petugas. Belum selesai di situ, usai ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Kementerian Agama tetap mendorong petugas untuk terus bekerja keras hingga seluruh jemaah tiba di rumah masing-masing.
“Saya angkat topi dengan perjuangan petugas haji pendamping jemaah Indonesia tahun 2026 ini. Sungguh keren dan luar biasa perjuangannya,” pungkas Lia.
Sementara itu, Wakil Menteri Haji dan Umrah sekaligus Naib Amirul Hajj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, meminta seluruh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tetap meningkatkan kewaspadaan dalam melayani jemaah, meski rangkaian puncak ibadah haji Armuzna telah resmi berakhir. Ia mengingatkan petugas untuk tetap bergerak cepat menangani berbagai keluhan yang muncul di lapangan, mulai dari persoalan transportasi hingga kenyamanan pemondokan.
“Berakhirnya fase Armuzna, tidak berarti risiko yang dihadapi jemaah ikut berakhir. Justru pada masa setelah Armuzna ini, kondisi fisik jemaah – terutama lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta – perlu mendapat perhatian lebih. Pasalnya, mereka mengalami kelelahan luar biasa setelah menjalani rangkaian ibadah yang sangat padat,” jelas Dahnil.
Sebagai informasi, tahapan kepulangan jemaah haji ke Tanah Air telah dimulai pada 1 Juni hingga 30 Juni 2026. Kepulangan kelompok terbang (kloter) pertama Jemaah Haji Embarkasi Banten, tiba di Indonesia pada Selasa (2/6) pukul 09.45 WIB di Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.
Sebanyak 390 jemaah diberangkatkan dari Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, pada Senin malam (1/6) waktu Arab Saudi, menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Pada fase awal ini, tercatat sebanyak 17 kloter dijadwalkan pulang ke Indonesia.
Secara bertahap, total 6.798 jemaah akan diterbangkan kembali ke tanah air, dan Pemerintah memastikan seluruh proses kepulangan berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan dalam operasional haji tahun ini. [kim.kt]


