Surabaya, Bhirawa
Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya biaya hidup, mayoritas masyarakat Indonesia ternyata tetap berkomitmen melaksanakan ibadah qurban. Hal tersebut terungkap dalam hasil riset terbaru ThinkLeap Indonesia bertajuk “Potret Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Berkurban di Era Ketidakpastian Ekonomi”.
Penelitian yang dilakukan pada April–Mei 2026 terhadap 200 responden dari 23 provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari separuh masyarakat tetap memilih berqurban meskipun kondisi ekonomi dirasa semakin sulit. Sebanyak 53 persen responden menyatakan tetap berqurban, sementara 37,5 persen lainnya tetap berqurban dengan menyesuaikan anggaran yang dimiliki.
Direktur Eksekutif ThinkLeap Indonesia, Teguh Imami, menyampaikan bahwa hasil ini menunjukkan qurban masih dipandang sebagai ibadah prioritas sekaligus bentuk solidaritas sosial masyarakat Muslim Indonesia.
“Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat mungkin menahan konsumsi lain, tetapi tidak untuk berbagi. Qurban bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga bentuk kepedulian sosial kepada sesama,” katanya.
Teguh, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa riset ini menemukan alasan utama masyarakat tetap berqurban adalah karena qurban dianggap sebagai prioritas ibadah tahunan dan adanya keinginan untuk tetap berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan.
Selain itu, penelitian juga menunjukkan adanya perubahan perilaku masyarakat dalam memilih layanan qurban. Sebanyak 58,5 persen responden mengaku pernah membeli qurban secara online.
Meski demikian, mayoritas masyarakat tetap memilih melaksanakan qurban di masjid atau mushola sekitar tempat tinggal sebagai bentuk penguatan solidaritas sosial berbasis komunitas lokal.
Agil Darmawan selalu Kepala Divisi Riset ThinkLeap Indonesia mengatakan, dalam konteks lembaga filantropi, faktor kepercayaan menjadi aspek paling menentukan dalam pemilihan lembaga qurban. Sebanyak 67 persen responden menyebut trust atau kepercayaan sebagai alasan utama memilih lembaga zakat maupun lembaga kemanusiaan.
Sebaliknya, keraguan masyarakat terhadap lembaga qurban juga didominasi oleh persoalan transparansi dan ketidakmampuan melihat langsung proses penyembelihan maupun distribusi qurban.
“temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat saat ini tidak hanya membutuhkan layanan qurban yang praktis dan digital, tetapi juga menginginkan transparansi, dokumentasi, dan akuntabilitas yang kuat dari lembaga pengelola qurban, ” ungkap Agil.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa qurban mulai dipandang tidak hanya sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai instrumen sosial untuk memperkuat solidaritas masyarakat dan membantu kelompok rentan di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.
“ThinkLeap Indonesia berharap hasil penelitian dapat menjadi masukan bagi lembaga filantropi, pengambil kebijakan, dan masyarakat dalam memahami perubahan perilaku qurban masyarakat Indonesia di era digital dan ketidakpastian ekonomi.” pungkas Agil.
Tentang ThinkLeap Indonesia
ThinkLeap Indonesia merupakan lembaga riset dan kajian sosial yang berfokus pada pembangunan, isu masyarakat, ekonomi sosial, dan transformasi perilaku sosial di Indonesia. [geh.kt]


