33 C
Sidoarjo
Thursday, May 7, 2026
spot_img

Menjaga Api Demokrasi di Persimpangan Jalan

Demokrasi bukan sekadar angka di bilik suara atau seremoni pelantikan setiap lima tahun sekali. Ia adalah nafas yang menghidupkan hak-hak sipil, kebebasan berpendapat, dan tegaknya hukum yang tidak pandang bulu. Namun, belakangan ini, kita merasakan ada kabut tebal yang menyelimuti perjalanan demokrasi di tanah air. Sebagai bagian dari bangsa yang besar, sudah saatnya kita merenungkan kembali: sejauh mana kita telah menjaga amanah reformasi ini?

Salah satu tantangan terbesar demokrasi kita saat ini adalah fenomena polarisasi yang kian meruncing. Media sosial, yang sejatinya menjadi ruang publik yang demokratis, seringkali berubah menjadi medan tempur hoaks dan ujaran kebencian. Kita terjebak dalam gema pemikiran kita sendiri (echo chamber), sehingga sulit menerima perbedaan perspektif. Padahal, inti dari demokrasi adalah dialektika-kemampuan untuk berbeda pendapat tanpa harus memutus tali persaudaraan.

Selain itu, pelemahan terhadap institusi-institusi demokrasi dan supremasi hukum menjadi alarm yang sangat nyata. Ketika kritik dibalas dengan kriminalisasi, dan ketika proses legislasi berjalan tanpa partisipasi publik yang bermakna, maka demokrasi sedang mengalami regresi atau kemunduran. Demokrasi yang sehat membutuhkan mekanisme checks and balances yang kuat. Tanpa itu, kekuasaan cenderung memusat dan mengarah pada otoritarianisme terselubung.

Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap politik uang yang masih mencengkeram sistem pemilihan kita. Selama suara rakyat masih bisa dibeli dengan nominal rupiah, maka pemimpin yang lahir bukanlah mereka yang terbaik secara visi, melainkan mereka yang paling kuat secara finansial. Ini adalah racun yang perlahan membunuh substansi demokrasi kita.

Berita Terkait :  Beri Jaminan Hukum, Polres Batu Olah TKP Meninggalnya Warga Gunungsari

Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat sipil?

Pertama, kita harus menjadi pemilih yang cerdas dan kritis. Literasi politik adalah kunci agar kita tidak mudah dimanipulasi oleh narasi populis yang kosong. Kedua, jangan pernah lelah untuk bersuara. Kritik konstruktif adalah vitamin bagi demokrasi; ia menjaga agar pemegang kekuasaan tetap berada pada jalurnya. Ketiga, kita harus memperkuat solidaritas sosial. Demokrasi hanya akan tumbuh subur di atas tanah yang menghargai keberagaman.

Budiono
Wiraswasta, tinggal di Surabaya

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!