Surabaya, Bhirawa
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggelar wisuda ke 21 di Dyandra Convention Center, Surabaya. Terdapat salah satu wisudawan Unusa yang memiliki background seorang biarawati, dimana menyelesaikan studinya di tengah lingkungan kampus yang mayoritas muslim, Rabu (22/4).
Wisudawan Unusa, Suster (Sr) Yustina Klun Kolo. SSpS mengatakan bahwa mengaku sempat memiliki kekhawatiran pertama kali memulai studi di Unusa, tapi pengalaman di rasakan justru berbanding terbalik dengan kekhawatiran tersebut, dikarenakan melihat keunggulan akademik dan system pembinaan karakter yang dinilai sangat baik.
“Saya merasakan langsung suasana kampus yang inklusif dan penuh toleransi, Interaksi dosen maupun teman-teman berlangsung sangat baik, tanpa membedakan latar belakang, melihat,” jelasnya.
Lanjut Yustina mengukapkan pengalaman justru memperkaya perspektifnya sebagai mahasiswa lintas agama, belajar memahami nilai-nilai keislaman yang moderat, sekaligus pentingnya hidup berdampingan secara harmonis
“Faktor keberhasilan inklusivitas di Unusa terletak pada peran dosen dan tenaga kependidikan yang bersikap profesional, adil, dan tidak membeda-bedakan mahasiswa,” ucapnya.
Yustina mengatakan keberagaman pada lingkungan pendidikan tinggi menjadi kekuatan dalam membangun harmoni sosial, perbedaan bukanlah penghalang, tapi kekayaan yang memperkuat persatuan.
“Pentingnya toleransi kehidupan bermasyarakat, perbedaan agama, suku, dan budaya hendaknya menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghargai, sehingga tercipta kehidupan yang damai dan harmonis,” pungkasnya.
Sekarang Yustina telah mengabdikan diri dan bekerja di RSK. Budi Rahayu, Blitar. Kisah Yustina menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis nilai, jika dijalankan secara konsisten, mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul, tetapi juga relevan dengan kebutuhan global. [ren.wwn]


