33 C
Sidoarjo
Thursday, May 7, 2026
spot_img

Mahasiswa S3 UM Edukasi Pengelolaan Sampah di SMKN 3 Malang


Kota Malang, Bhirawa
Mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang (UM) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SMK Negeri 3 Malang, pekan kemarin. Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam menumbuhkan kesadaran dan kepedulian lingkungan di kalangan pelajar.

Mengusung tema praktik pengelolaan sampah melalui metode Takakura dan Ecobrick, kegiatan yang merupakan bagian dari mata kuliah Global Sustainability and Social Responsibility (GSSR) tersebut diikuti siswa kelas X Kuliner, guru, koordinator Adiwiyata, serta staf sekolah.

Berbeda dari kegiatan serupa, program ini tidak hanya menitikberatkan pada penyampaian materi, namun juga praktik langsung guna meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam mengelola sampah secara berkelanjutan.

Dosen pembimbing, Prof. Mimien Henie Irawati Al Muhdhar, M.S., menegaskan pentingnya pendidikan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. “Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan dalam mengelola sampah secara berkelanjutan,” ujarnya.

Apresiasi disampaikan Wakil Kepala Sekolah SMKN 3 Malang, Ivalatul Latifah, S.Pd., M.M., saat membuka kegiatan. Menurutnya, program tersebut selaras dengan visi sekolah yang berwawasan lingkungan. “Kegiatan ini sangat mendukung program Adiwiyata di sekolah kami,” katanya.

Dalam sesi pemaparan materi, Muhammad Khalil, M.Pd., menjelaskan metode Takakura sebagai teknik pengolahan sampah organik menjadi kompos skala rumah tangga. Ia menekankan pentingnya komposisi bahan dan sirkulasi udara agar proses berjalan optimal tanpa menimbulkan bau. “Kompos harus lebih dominan dibanding sampah baru agar prosesnya cepat dan tidak berbau,” jelasnya.

Berita Terkait :  Peringati Hari Santri, PWNU Jatim Road Show Seminar Kebangsaan di 16 Kampus

Sementara itu, Rahman Fadli, M.Pd., memaparkan metode Ecobrick sebagai solusi kreatif pemanfaatan sampah plastik menjadi produk bernilai guna. Ia menegaskan bahwa tingkat kepadatan isi botol menjadi faktor utama kualitas Ecobrick. “Semakin padat isi botol, semakin baik kualitas Ecobrick yang dihasilkan,” tegasnya.

Pada sesi praktik, peserta dibagi dalam lima kelompok untuk mengaplikasikan kedua metode tersebut. Dalam praktik Takakura, peserta menggunakan wadah berlubang sebagai sirkulasi udara, dilengkapi lapisan kardus, sekam, sampah organik, kompos starter, serta larutan EM4 untuk mempercepat fermentasi. Sedangkan pada praktik Ecobrick, peserta memadatkan potongan plastik bersih ke dalam botol hingga tidak menyisakan rongga udara.

Kegiatan ini juga menjadi implementasi nyata tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya poin pendidikan berkualitas, kota dan komunitas berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta aksi terhadap perubahan iklim.

Sebagai evaluasi, peserta mengikuti posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah kegiatan. Ke depan, para siswa diharapkan mampu menerapkan pengelolaan sampah dalam kehidupan sehari-hari sekaligus berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan. [mut.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!