28 C
Sidoarjo
Sunday, April 5, 2026
spot_img

Pedagang Sapi Kota Pasuruan Stop Operasional, Protes Dugaan Daging Ilegal

Kota Pasuruan, Bhirawa
Keheningan mencekam menyelimuti Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Blandongan, Kota Pasuruan, sejak dini hari kemarin. Tak ada lenguhan sapi, tak ada deru mesin pemotong, apalagi keriuhan transaksi jual beli daging yang biasanya menjadi urat nadi ekonomi lokal.

Lokasi tersebut mendadak mati suri usai puluhan pedagang dan jagal memutuskan untuk melakukan aksi mogok massal.

Langkah drastis tersebut diambil bukan tanpa alasan. Para pelaku usaha daging di Kota Pasuruan mengaku sudah berada di titik nadir akibat ‘triple kill’ yang menghimpit bisnis mereka.

Kelangkaan sapi, lonjakan harga yang gila-gilaan serta maraknya peredaran daging ilegal yang merusak tatanan harga pasar.

Salah satu pedagang daging senior di Kota Pasuruan, Faisol, menyatakan saat ini kondisinya sudah tidak lagi masuk akal secara bisnis.

Ia menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah terhadap masuknya daging-daging tak berizin. Termasuk dugaan peredaran daging glonggongan.

“Kondisi saat ini sudah tidak lagi sehat bagi pelaku usaha resmi. Pemerintah belum serius menindak peredaran daging ilegal. Ada daging yang dijual jauh lebih murah (diduga glonggongan), jelas kami yang mengikuti prosedur resmi kalah bersaing,” keluh Faisol dengan nada getir, Sabtu (4/4).

Senada dengan Faisol, Afnan, pedagang lainnya, mengaku berada di posisi buah simalakama.

Di satu sisi, harga sapi bakalan terus meroket dan barangnya sulit didapat. Di sisi lain, daya beli masyarakat tidak sanggup mengejar kenaikan harga jika ia memaksakan harga jual tinggi di pasar.

Berita Terkait :  Senam Lansia Dimulai Lagi, Pj Wali Kota Madiun Berharap Lansia Sehat dan Selalu Happy

“Bila harga dinaikkan, kami kasihan ke pembeli. Tapi kalau dipertahankan, kami yang merugi. Kami butuh solusi cepat, bukan sekadar janji,” jelas Afnan.

Tentu saja, aksi mogok tersebut tak pelak memutus rantai penghasilan banyak orang, termasuk para Juru Sembelih Halal (Juleha).

Ayatulloh Khumaini, salah satu petugas Juleha di RPH Blandongan, merasakan betul dampak penurunan drastis pasokan sapi belakangan ini.

“Biasanya kami bisa menyembelih belasan ekor per hari. Sekarang turun drastis, bahkan hari ini nol. Kalau tidak ada penyembelihan, otomatis kami tidak punya penghasilan sama sekali,” kata Juleha dengan lesu.

Aksi itu dipastikan bukan sekadar gertakan sambal. Ketua Paguyuban Pedagang dan Jagal Sapi Kota Pasuruan, Muhammad Syaifulloh, menegaskan bahwa sekitar 60 pedagang dan 20 jagal telah bersepakat untuk menghentikan aktivitas secara kolektif.

Ia menyebut, mogok operasional ini merupakan bentuk protes atas ketidakberdayaan pemerintah dalam menstabilkan harga dan memberantas praktik daging ilegal yang kian liar.

“Kondisinya sudah sangat berat. Sapi langka, harga tinggi, ditambah lagi daging ilegal masih bebas beredar di pasar-pasar. Kami tidak punya pilihan lain selain mogok sampai ada langkah konkret dari pihak terkait,” kata Syaifulloh. [hil.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!