26 C
Sidoarjo
Monday, March 30, 2026
spot_img

Atap Tiga Kelas SMKN 1 Ampelgading Kupaten Malang Ambruk, Dindik Jatim Lakukan Asesmen

Kadindik Pastikan KBM Tetap Berjalan Dengan Manfaatkan Aula dan Laboratorium Sekolah


Dindik Jatim, Bhirawa
Atap tiga ruang kelas di SMKN 1 Ampelgading, Kabupaten Malang, ambruk akibat cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi yang melanda wilayah tersebut. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (28/3) sekitar pukul 23.15 WIB itu dipastikan tidak menimbulkan korban jiwa.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, langsung meninjau lokasi kejadian pada Senin (30/3). Peninjauan dilakukan usai Aries menjadi inspektur upacara di sekolah tersebut.

Dalam keterangannya, Aries memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berlangsung dengan memanfaatkan ruang alternatif seperti laboratorium dan aula sekolah untuk sementara waktu hingga proses renovasi rampung.

“KBM tetap berjalan dengan menggunakan ruang yang tersedia yaitu laboratorium dan ruang aula. Kami juga sedang menginventarisasi kebutuhan perbaikan ruang kelas yang terdampak,” ujarnya, Senin (30/3).

Usai peninjauan, Aries mengungkapkan ada 3 kelas yang terdampak atap ambruk dan mengalami kerusakan yakni kelas XI APHP 1, XI APHP 2, dan XI APHP 3. Kerusakan tergolong berat karena seluruh bagian atap runtuh dan sebagian besar meja serta kursi ikut terdampak.

“Atas arahan ibu Gubernur kami diminta segera melakukan langkah-langkah cepat penanganannya agar kelas tersebut bisa segera diperbaiki dan dimanfaatkan kembali untuk proses kegiatan belajar dan mengajar,” ucap Aries.

Kadindik lulusan IPDN ini bahkan menargetkan proses renovasi bisa diselesaikan dalam satu bulan ini. Ia juga menerangkan jika tim BPBD Kab Malang sudah turun langsung untuk melakukan pembersihan.

Berita Terkait :  Qris Fun Run 5K Tanda Puncak Pekan Qris Nasional

“Kami juga dibantu oleh masyarakat sekitar untuk gotong royong membersihkan material yang ada agar segera bisa dilakukan perbaikan,”urainya.

Aries menjelaskan, peristiwa tersebut dipicu intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Desa Tirtomarto, Kecamatan Ampelgading, dalam beberapa hari terakhir. Pada malam kejadian, genteng dilaporkan jatuh satu per satu sebelum akhirnya rangka atap berbahan galvalum runtuh secara keseluruhan.

Pasca kejadian, pihak sekolah melakukan langkah penanganan dengan mensterilkan lokasi, memasang pembatas area, mematikan aliran listrik di sekitar titik kejadian, serta berkoordinasi dengan BPBD, kepolisian, dan TNI guna mengantisipasi risiko lanjutan.

Dinas Pendidikan Jawa Timur juga akan melakukan asesmen lanjutan terhadap kondisi bangunan serta mengajukan bantuan penanganan untuk perbaikan ruang kelas yang rusak.

“Kami akan melakukan penilaian kelayakan bangunan lainnya agar kejadian serupa tidak terulang,” tambah Aries.

Kendati begitu, Aries menyebut Ada dua sekolah yang baru teridentifikasi terdampak cuaca ekstrem. Selain kejadian di Kabupaten Malang, peristiwa tanah longsor juga terjadi di lingkungan SMAN 1 Sumber, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat (27/3) sore.

Ia menyebut, longsor terjadi di lahan kosong samping sekolah dengan ketinggian sekitar 8 meter dan panjang area terdampak mencapai sekitar 10-14 meter. Sebelum kejadian, telah muncul retakan tanah dengan lebar sekitar 3 cm yang menjadi indikasi awal ketidakstabilan.

“Menurut laporan kepala sekolah, tanah kemudian bergerak secara perlahan hingga terjadi longsor di area lereng yang berdekatan dengan bangunan sekolah, bahkan berpotensi berdampak ke tembok SMP Negeri 1 Sumber yang berada di dekat lokasi,”jelasnya.

Berita Terkait :  Pemkab Lamongan Lakukan Penandatanganan Perjanjian Kinerja Tahun 2026

Peristiwa longsor, kata Aries, dipicu curah hujan tinggi yang terjadi hampir sepanjang pekan terakhir di wilayah Kabupaten Probolinggo. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Sebagai langkah penanganan awal, pihak sekolah bersama instansi terkait telah melakukan penguatan darurat menggunakan sandbag serta pemasangan terpal untuk mengurangi resapan air dan mencegah potensi longsor susulan.

Kawasan tersebut kini masih dalam pemantauan karena dinilai rawan terjadi pergerakan tanah lanjutan. [ina,cyn.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!