Surabaya, Bhirawa
Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya (FT Ubaya) ciptakan sistem informasi untuk menunjang kebutuhan konseling siswa di sekolah bernama Rasaya.
Sistem tersebut berbasis peran yang terbagi menjadi admin sekolah, guru dan wali kelas, dan siswadapat diakses melalui laman web di komputer dan aplikasi pada ponsel pintar, nantinya data dimasukkan dalam sistem diolah menghasilkan kesimpulan serta tren kesehatan mental siswa yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan oleh pihak guru dan sekolah, Selasa (24/3).
Mahasiswa FT Ubaya, Chavel Aiko Ratu mengatakan awal mula terciptanya dari keprihatinan atas kesulitan sekolah dalam pencatatan kondisi kesehatan mental siswa. “Muncul gangguan mental yang gagal dideteksi sejak dini, akhirnya membutuhkan penanganan lebih serius di kemudian hari, untuk perkuat landasan, melakukan studi kasus dengan data yang diperoleh dari salah satu SMA di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur,” jelasnya.
Lanjut Chavel menjelaskan bahwa hasil wawancara dan kuesioner yang saya sebar, ternyata para siswa malu mengekspresikan yang mereka rasakan secara langsung kepada gurunya, hasilnya guru tidak sepenuhnya paham terkait apa yang sedang dirasakan oleh siswanya.
“Data yang di kumpulkan akhinya didiskusikan bersama dosen untuk memutuskan rencana program yang akan diciptakan, setelah itu mulai merancang sistem Rasaya sambil terus melakukan riset mandiri supaya menghadirkan fitur dan fungsi yang kompleks, namun tetap sederhana ketika digunakan,” ujar Chavel.
Chavel mengukapkan menggunakan Lexicon-Based Sentiment Analysis yaitu metode analisis sentimen yang menentukan emosi atau sikap menjadi positif, negatif, atau netral dengan menggunakan kamus kata yang sudah diberi nilai sebelumnya.
“Algoritma mengklasifikasikan data jadi beberapa kategori kondisi, seperti stres akademik atau konflik sosial, menentukan klasifikasi tersebut melibatkan psikolog anak dan remaja untuk memvalidasi ketepatan hasil analisis sistem atas kondisi siswa,” katanya.
Chavel menambahkan terdapat program menarik, seperti daily mood tracker, fitur lapor teman, refleksi harian, riwayat kondisi emosi, serta tren kelas dan angkatan, serta sumber datanya bersifat multi informan dan tidak subjektif karena melibatkan guru, wali kelas, dan teman.
Tantangan terbesar pengerjaan Rasaya pada bagian machine learning, tambah Chavel dimana harus memastikan algoritma yang telah dirancang dapat berfungsi dengan tepat. “Empat bulan pengerjaan, menghabiskan tiga bulan untuk merancang machine learning dengan jumlah revisi yang tidak terhitung, itu sangat sulit dan menantang, tapi bersyukur melaluinya dengan baik” imbuhnya.
Chavel kedepan akan melakukan penyempurnaan sistem supaya dimanfaatkan dalam lingkup yang lebih luas. “Sangat ingin Rasaya dapat membantu banyak pihak, baik sekolah, siswa, guru, dan orang tua secara tidak langsung, saya sedang mempersiapkannya agar siap digunakan secara massal,” terangnya. [ren.wwn]



